Sekilas Mumbai » INTELIJEN INDONESIA

Tuesday, December 02, 2008

Sekilas Mumbai




Salah seorang pelaku Teror Mumbai yang tertangkap CCTV

Dewo Ningrat menirimkan sebuah artikel yang menarik yang ditulis oleh wartawan Jawa Pos bernama Ridlwan. Secara umum artikel tersebut telah memberikan gambaran yang baik tentang peristiwa teror yang terjadi di India. Pertama pendekatan bahwa telah terjadi sekitar belasan peristiwa teror sepanjang tahun 2008 memang keharusan. Kedua bahwa teror Mumbai adalah yang paling terkoordinasi juga tidak bisa dibantah karena faktanya serangan tersebut telah dipersiapkan sejak 4 bulan sebelumnya. Ketiga mengenai hasilnya juga sangat telak dengan korban sekitar 172 orang tewas dan 239 orang luka-luka. Belakangan informasi dari Intelijen Luar Negeri India yang terkenal dengan nama Research and Analysis Wing (RAW or R&AW) mengakui bahwa sudah ada informasi intelijen bahwa akan ada serangan terror yang besar dari kelompok teroris yang berbasis di Pakistan. Namun apa artinya informasi intelijen tersebut karena akhirnya peristiwa serangan tidak dapat dicegah.

Saya jadi teringat peristiwa Bom Bali I dimana CIA, MI6, ASIO dan umumnya lembaga intelijen Barat sudah mendapatkan indikasi akan ada serangan ke Bali. Namun "keraguan" dan analisa yang kurang akurat akhirnya menyebabkan peristiwa Bom Bali I terjadi. Bahkan intelijen Barat tersebut juga "enggan" untuk mendorong dikeluarkannya travel warning sehingga banyak warga negara Australia dan Inggris yang menjadi korban.

Kecolongan bagi intelijen adalah sesuatu yang memalukan sekaligus berdampak luas bagi stabilitas negara. Namun rekan-rekan Blog I-I tentunya juga dapat membayangkan luasnya wilayah analisa dari suatu ancaman teroris yang harus direspon oleh lembaga intelijen yang kurang kuat. Hal ini menunjukkan bahwa peranan intelijen yang sering dipojokkan dengan berbagai beban caci maki karena kegagalan, sesungguhnya juga akibat dari perlakuan negara, politisi dan rakyatnya yang apriori atau bahkan penuh kecurigaan terhadap lembaga intelijen-nya sendiri.

Kembali pada masalah Mumbai, setidaknya ada dua kelompok besar yang sering melakukan aksi teror di India, yaitu kelompok separatis/pemisahan dari India dan kelompok ideologis. Masing-masing kelompok tersebut terpecah-pecah dalam berbagai elemen teroris yang berbeda-beda, sekedar contoh:
- Kashmir : Lashkar-e-Taiba, Harakat ul-Mujahedeen, dan Jaish-e-Muhammed
- Ideologi komunis: the Naxalites, the People’s War Group and Maoist Communist Center
- dll

Dalam kasus Mumbai, satu-satunya pelaku teroris yang tertangkap hidup-hidup, Ajmal Qasab menyatakan bahwa kelompoknya telah dilatih selama 6 bulan di camp pelatihan yang dikendalikan Lashkar-e-Taiba di Pakistan, mempelajari perang jarak dekat, penawanan sandera, bahan peledak, navigasi satelit, serta keterampilan survival di laut.

Setiap peristiwa teror yang telah terjadi seperti Mumbai dapat dianalisa dari berbagai sudut pandang, serta dengan semakin bertambahnya informasi semakin lengkap pula analisanya. Tetapi apa gunanya bagi 172 orang yang sudah tewas? Bagi Indonesia, pelajaran yang dapat diambil sangat besar. Pengalaman Indonesia mengungkap kasus-kasus teror telah diakui dunia internasional, hal ini juga termasuk pencegahan sejumlah rencana teror yang tidak dipublikasikan. Namun potensi ancaman masih ada dimana-mana....sementara tingkat kewaspadaan masyarakat Indonesia cenderung naik-turun. Pencegahan teror tidak dapat hanya dilakukan oleh Intelijen Indonesia, Densus 88, atau Special Force TNI, melainkan juga perlu dukungan seluruh elemen masyarakat dalam melaporkan setiap hal yang mencurigakan baik berupa perilaku perorangan atau kelompok maupun berupa keberadaan benda/barang mencurigakan ditempat umum. Hal itu merupakan suatu sistem gotong-royong seluruh komponen bangsa Indonesia dalam memelihara keamanan bersama. Memang sistem hankamrata (pertahanan dan keamanan rakyat semesta) telah diselewengkan untuk kepentingan politik pada masa Orde Baru, namun bila kita cermati bersama adalah menjadi kepentingan seluruh komponen bangsa Indonesia untuk mencegah terjadi aksi kejahatan kemanusiaan seperti tindak terorisme.

Relevansi Hankamrata masih kuat dan seyogyanya kita melihatnya sebagai sebuah partnership yang seimbang dan saling menghormati demi keselamatan bangsa Indonesia dalam mewujudkan Indonesia Raya yang Adil dan Makmur. Disamping itu, tentu saja pemanfaatan teknologi CCTV dan berbagai sistem keamanan juga sangat vital dalam menjamin keselamatan publik.

Berikut ini artikel sudara Ridlwan tentang Mumbai.

Teror Rapi ala Mumbai

Oleh : Ridlwan *

Sepuluh hari menjelang ibadah wukuf di Padang Arafah, Kota Mumbai, India, digenangi darah. Aksi terorisme terkoordinasi memakan korban sedikitnya 125 nyawa manusia. Belum lagi ratusan yang lain yang terluka fisik dan mengalami gangguan trauma mendalam. Gerakan teror yang dilakukan saat masyarakat Amerika Serikat merayakan Thanksgiving itu juga membuat ekonomi Mumbai lumpuh sesaat. Bursa tutup, perusahaan multinasional mengevakuasi karyawan, dan negara-negara maju beramai-ramai mengeluarkan travel warning ke India. Efek domino kengerian akibat aksi itu berhasil dicapai.

Aksi sadis tak berperikemanusiaan tersebut merupakan teror ke-11 yang terjadi tahun ini di Negeri Sungai Gangga itu. Pada 13 Mei lalu, enam ledakan terjadi di Jaipur, kota tujuan wisata di negara bagian Rajasthan di wilayah barat India. Rangkaian ledakan menewaskan 63 orang dan melukai sedikitnya 150 orang. Lalu, 25 Juli, tujuh ledakan terjadi secara beruntun di Bangalore, salah satu kota maju di wilayah selatan India. Satu orang tewas dan lebih dari 150 orang terluka.

Pada 26 Juli, di Ahmedabad, terjadi 20 ledakan bom dalam waktu kurang dari dua jam. Sebanyak 57 orang tewas dan lebih dari 150 orang terluka. Pada 13 September, di New Delhi terjadi enam ledakan. Sebanyak, 26 orang tewas dan sedikitnya 100 orang terluka. Masih di New Delhi, 27 September, tiga ledakan di pasar bunga yang ramai menewaskan tiga orang.

Dua hari kemudian (29/9) di Modasa, Gujarat, satu orang terbunuh dan beberapa orang terluka akibat ledakan bom berdaya ledak rendah. Pada hari yang sama, di Malegaon, Maharashtra, lima orang meninggal akibat ledakan bom yang dibawa dengan sepeda motor. Lalu, 14 Oktober di Kanpur, delapan orang terluka akibat bom di pasar. Berikutnya, 21 Oktober di Imphal, ledakan dahsyat di dekat kompleks Komando Polisi Manipur menewaskan 17 orang. Juga, 30 Oktober di Assam, sedikitnya 61 orang tewas dan lebih dari 300 orang terluka akibat 18 teror bom di Assam yang terletak di wilayah timur laut India.

Tapi, dari 10 aksi teror sebelumnya, serangan Mumbai bisa dibilang yang paling terkoordinasi. Bayangkan, mereka menyerang 11 target dengan jarak amat dekat (tak lebih setengah jam jalan kaki), menyandera tawanan di hotel mewah, meledakkan granat di stasiun kereta dan berani adu tembak dengan pasukan khusus terbaik India, National Security Guards ( NSG). Belum jelas siapa yang harus dituding. Sebuah kelompok, Deccan Al Mujahedeen, memang mengirim e-mail, tapi masih terburu-buru menyimpulkan otak serangan. Apalagi mengkaitkan kelompok itu dengan tandzhim (struktur) Al Qaidah Internasional.

Yang jelas, kelompok itu sangat rapi, terlatih, dan menguasai medan. Bukti sederhananya, mereka berhasil bertahan baku tembak 33 jam dengan NSG yang terkenal sebagai pasukan khusus terbaik di Asia. NSG India yang dijuluki Black Cat (Kucing Hitam) didirikan pada 1985 dengan kekuatan 7.500 personel. Disebut kucing hitam karena mereka selalu memakai pakaian hitam-hitam dan cadar hitam saat bertugas. Personel NSG direkrut dari angkatan bersenjata India yang lolos seleksi ketat di Manesar, 50 kilometer dari New Delhi.

Yang lolos berhak menyandang emblem Sudarshan Cakra dan dilindungi identitasnya. NSG juga dilatih oleh personel Israel dan dikenal sebagai pasukan yang sangat cepat dimobilisasi (30 menit setelah kejadian). Paham akan risiko itu, teroris Mumbai tampaknya lebih memilih strategi perang kota. Dengan persenjataan NSG seperti senapan mesin Uzi 9 mm, senapan sniper PSG -17,62 mm, dan shotgun Heckler & Koch 512, teroris itu memilih bersembunyi di hotel padat pengunjung untuk memperbesar risiko salah tembak.

Mereka juga membagi target menjadi 11 untuk memecah konsentrasi pasukan komando India. Kepada saya, seorang analis Departemen Pertahanan Indonesia menduga teroris Mumbai termasuk dalam jaringan cross border militant network yang beroperasi sepanjang Asia Selatan dan Asia Tengah. Koneksi militan bersenjata itu terbentang mulai India, Pakistan, Afghanistan, bahkan sampai Provinsi Xinjiang Uigur di pinggir Tiongkok.

Sejarah konflik Kashmir membuat India menjadi hot spot sekaligus target empuk serangan. Apalagi, jaringan itu cukup kuat di Pakistan. Kita tahu, setelah Jenderal Pervez Musharaf tak lagi menjabat presiden, penanganan organisasi militan dan ekstrem di Pakistan semakin kendur. Ditambah, pidato presiden terpilih AS Barrack Obama yang berjanji menambah pasukan di Afghanistan kian membuat kawasan itu memanas.

Kebobolan

Dari berbagai spekulasi tersebut, yang jelas intelijen India kebobolan. Aksi serapi itu tentu disiapkan berhari-hari, tapi sayang lolos dari endusan aparat telik sandi. Pejabat keamanan Indonesia harus mengambil hikmah dari teror Mumbai. Apalagi, Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri pernah menyampaikan bahwa sasaran teror mulai bergeser, yakni pejabat negara dan fasilitas-fasilitas vital.

Sistem keamanan fasilitas umum di negeri ini juga harus segera disempurnakan. Memasang CCTV (closed circuit television) di stasiun, mal, dan hotel-hotel tak lagi cukup. Apalagi, beberapa objek vital di ibu kota terletak saling berdekatan. Contohnya, Stasiun Gambir Jakarta Pusat. Lokasinya hanya lima menit berjalan kaki dari Kedutaan Besar Amerika Serikat. Bahkan, jika ada teroris nekat menumpang kereta dari Stasiun Gambir dan melempar granat tepat saat kereta melintas di atas kompleks Kedubes, tanpa halangan bom nanas itu bisa sampai lapangan basket kedutaan. Itulah yang harus diwaspadai.

Pengamanan Istana Negara juga demikian. Memang, di setiap sudut masuk sudah dijaga pasukan pengamanan presiden. Namun, lalu-lalang masyarakat yang bebas di sekitar kompleks parkir motor di Sekretariat Negara juga harus diwaspadai. Sebab, seperti yang digerebek di Palembang, teroris sudah bisa merakit bom Tupperware yang daya ledaknya mencapai radius 200 meter. Itu berarti, jika kecolongan dan meledak di Setneg, bom tersebut bisa merusak Kantor Presiden. Teror Mumbai harus dikutuk. Tak ada agama atau ideologi apa pun yang bisa menjadi dalih melakukan pembantaian besar-besaran seperti itu. Tapi, mengecam saja tak cukup. Kewaspadaan mutlak dilakukan karena kita tahu perang terhadap teror belum selesai sampai di sini. (***)

*) wartawan Jawa Pos di Jakarta, email : ridlwan@jawapos.co.id




Labels:

Comments:
dalam operasi organik teroris-terutama untuk mengolah isue pasca penyeranan dan menimbulkan trauma menjadi lebih penting saat ini.
 
skill perang kota mereka meningkat tajam. Kemampuan mereka mengatasi kontra-terror perlu diwaspadai. Pelatihan mereka juga singkat hanya 6 bulan. ini perlu ditelaah lebih jauh mengapa bisa sampe meningkat
 
Media selalu mengemas bahwa sepertinya terorisme merupakan "produk" yang selalu menjual kepada publik.

Satu hal yang dilupakan media. the more they publicized a terror incident, it's mean thy are supporting them! no terrorism without media!
 
di bali amrozy cs meledakan paddys caffe .
tapi tidak yang sari club, yang katanya mikro nuklir oleh para ahli yang pabriknya hanya di israel sana. berarti intelejen asing yang anda sebutkan sukses dong bukan kecolongan
 
dampaknya begitu komplex,.banyak yang kebakaran jenggot,.. :)
banyak juga yg mulai "ambil posisi" dengan mengusung isue tsb,.weleh - weleh,.trik apa lagi ini


(mbah parto pawiro)
 
Ini berkaitan dengan identitas tunggal yg skrang di gagas pemerintah, mengapa misalnya kenapa orang bisa mudah gonta-ganti no hp, mengapa tidak nomor tetap tapi operator nya saja yg bisa diganti2? atau mengapa banknya saja yang bisa diganti2 tapi no rek tetap?
Tidak terakomodasinya islam dalam PBB (lihat saja yg punya hak veto, golongan dan etnis mana yg terakomodasi).
Berkaitan dengan ekonomi (tahu sendirilah).
Kebebasan menjalankan ibadah (umum dan khusus), Barat memandang Islam akan seperti masa lalu mereka.
 
Negara India dan Pakistan merupakan negara miskin dengan pendapatan dibawah 1 $ per hari. Kondisi kemiskinan yang dialami anak-anak hingga kaum muda di kedua negara tersebut bisa menimbulkan beberapa implikasi sosial yaitu ; keputusasaan atas masa depan terutama terhambatnya akses pendidikan dan pekerjaan yang layak.Kondisi tersebut bisa mendorong prilaku agresif dalam bentuk tindakan kekerasan sebagai suatu bentuk kompensasi untuk menumbuhkan kepercayaan diri serta pengakuan akan kepemilikan power secara kolektif.
Kondisi yang mereka alami dipertajam dengan munculnya konflik perebutan tanah kashmir yang melintasi kedua negara dengan mengembangkan isu agama yaitu Islam vs Hindu. Pihak tertentu memanfaatkan kondisi kedua negara melalui suatu aksi kekerasan dengan tujuan untuk menjebak kedua negara agar berhadap-hadapan secara frontal.
Peristiwa Mumbai terjadi karena ada pihak tertentu yang melatih kaum muda tersebut dengan perbagai pelatihan dan pengetahuan teknis beberapa teknologi komunikasi informasi seperti GPS, Handphone satellite dan GE (google Earth)dengan tujuan untuk memetakan sasaran penyerangan secara efektif. Dan masih banyak teknologi IT lainnya yang telah mereka konsumsi karena ketersediaan teknologi tersebut sampai sekarang masih mudah untuk diakses bahkan dimiliki oleh publik secara bebas.
Jiwa muda mereka masih labil sehingga dapat dimasuki dengan doktrin ideologis yang terkadang tercerabut dari frame logika dengan intensitas maupun frekuensi brain washing yang sistematis bahkan dipertajam dengan Mitos-mitos tertentu.
Bagi Indonesia Raya, tidaklah cukup hanya mengulang kembali metode Hankamrata, tetapi perlu penegasan aturan main dalam bentuk UU penggunaan Teknologi IT, yang bisa di-import kapan saja dari negara luar melalui situs-situs surveillance.Kebijakan sektor publik untuk menyerap kaum muda di sektor riil harus terus diupayakan agar mereka tidak terjebak dalam lingkaran kekerasan yang merendahkan martabat dan harkat sebagai bangsa dan warga negara.
Karenanya,potensi terorisme perkotaan di Indonesia bisa saja akan muncul sebelum pasukan khusus kita mereformasi diri seiring kecepatan perkembangan terorisme dan Tekonogi IT.
Jayalah Indonesia Raya !
 
Sangat diperlukan koordinir badan intelijen yang satu dgn lainnya. harapannya agar informasi yang didapat langsung ditindaklanjuti, bukan disimpan spt kejadian bom bali dan mumbai
 
Cakra Bhirawa,
Uppps, mari kita analisis bersama dengan membandingkan data CIA tentang Adam Malik yang dah dibuka tahun 1995 di website university of george washington, di search dengan suharto or sukarno or pki, atau di website pki.Disitu ada dokumen yang katanya authentik.
Silahkan
 
Pejabat CIA Mengakui Secara Terbuka Bahwa Al-Qaeda Sepenuhnya Merupakan Rekayasa - a Made in the USA Production

Dalam sebuah film dokumenter pembunuh BBC berjudul "The Power of Nightmares" pejabat tinggi CIA secara terbuka mengakui bahwa Al-qaeda sepenuhnya merupakan rekayasa yang tidak pernah ada juntrungannya. Pemerintahan Bush memerlukan sebuah alasan logis sesuai Undang-undang sehingga mereka bisa mencari kambing hitam "orang tidak baik sesuai pilihan mereka" - "the bad guy of their choice" yaitu Undang-undang yang telah diberlakukan dalam rangka melindungi kita dari demonstrasi dan "organisasi kriminal" seperti Mafia. Mereka membayar Jamal al Fadl ratusan ribu dolar agar membuat ceritera mengenai Al-Qaeda untuk Pemerintah Amerika Serikat, sebuah "kelompok" atau organisasi kriminal yang mereka bisa kejar "menurut hukum".
Al Qaeda bukanlah sebuah organisasi. Al Qaeda merupakan sebuah cara kerja ... tetapi hal tersebut mempunyai hallmark dalam pendekatannya."
Al-Jazeera merupakan Saluran Berita Arab terbesar dan yang paling kontroversial di Timur Tengah yang menawarkan berita dari seluruh dunia selama 24 jam setiap harinya dan memusatkan pemberitaannya pada wilayah konflik terpanas. Didirikan pada tahun 1996 dan berkantor di Qatar, jaringan berita Al-Jazeera merupakan jaringan berita yang paling cepat berkembang di antara komunitas berbahasa Arab dan orang-orang yang berbahasa Arab di seluruh dunia. Ketahuilah bahwa Al-Jazeera merupakan media propaganda utama untuk kepentingan Amerika Serikat dan keseluruhan pemrogramannya dilakukan di Amerika Serikat pada Allied Media Corp. Setiap waktu Al-Jazeera melaporkan berita yang baru melalui video atau audio mengenai Al-Qaeda atau bin Laden yang membuat ancaman melawan Amerika Serikat, audio atau video tersebut sebenarnya dibuat di studio Allied Media Corp. Padahal dengan melakukan hal itu, secara esensial pemerintah Amerika Serikat membuat ancaman-ancaman untuk bangsanya sendiri. Allied Media Corp membuatkan untuk Al Jazeera video-video ancaman teroris.
Setiap video, setiap audio tape dari bin Laden atau hantu al-Qaeda yang membuat ancaman melawan Amerika Serikat sebenarnya dibuat di Amerika Serikat. Studio-studio Allied Media Corp membuat video dan audio tape untuk mantan Pemerintahan Presiden Bush dalam rangka Amerika Serikat melanjutkan Perang Melawan Teror serta perang agresi melawan rakyatnya sendiri termasuk negara-negara berdaulat lainnya di dunia. Paska 9/11 video tape dari bin Laden yang menurut dugaan mengakui telah melakukan serangan melawan Amerika Serikat, adalah palsu dan orangnya yang kita harus mempercayainya bahwa dia adalah bin Laden, hanyalah seorang aktor.
George W. Bush menggunakan Allied Media Corp dengan merekayasa pembuatan video dan audio tape yang dilakukan oleh para aktor yang melukiskan bin Laden serta al-Qaeda membuat ancaman melawan Amerika Serikat dalam rangka mepengaruhi serta memaksa Kongres untuk memberi Bush kekuasaan diktator serta merampok hak-hak sipil dan kemerdekaan rakyat Amerika. Bin Laden tidak menyingkirkan kebebasan anda, Bush di Gedung Putih lah yang melakukan. Bin Laden tidak menyerang Amerika Serikat pada tanggal 11 September 2001, Pemerintah Anda sendiri lah yang melakukannya. Bin Laden tidak membuat bangkrut Amerika Serikat, Pemerintah Anda lah yang melakukannya - sepanjang sejarah semua kerajaan besar runtuh sebagai akibat pembiayaan yang sangat mahal dalam kampanye agresi. Bin Laden dan Saddam Hussein tidak membunuh lebih dari 1 juta orang warganegaranya yang tidak bersalah, Pemerintah Andalah yang melakukannya - pertama dilakukan oleh Pemerintahan Clinton, kemudian pada masa Pemerintahan George W. Bush dan Dick Cheney dan sekarang masa Pemerintahan Obama. Al Qaeda adalah dan selalu sosok yang dibuat oleh organisasi teroris Amerika Serikat. Terorisme dibuat dalam sebuah agenda politik Amerika Serikat.
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters