Suara Luar Jawa » INTELIJEN INDONESIA

Friday, May 01, 2009

Suara Luar Jawa

Meskipun terkait dengan masalah suara, namun tulisan kali bukan mengenai pemilu yang sedang ramai kita jalani dan dukung bersama demi kemajuan bersama.

Tetapi terkait dengan kritik membangun dari rekan Mathias Wenda yang mengeluhkan soal dominasi orang Jawa dan ketidakadilan yang menimpa suku-suku di luar Jawa. Namun kita juga tidak dapat mendekati persoalan ini secara sembrono sebelum mayoritas bangsa Indonesia mencapai pemahaman yang utuh tentang hakikat kebhinnekaan dalam satu kesatuan kebangsaan.

Mengapa demikian ?
Intelijen telah lama menggarisbawahi perlunya pembangunan karakter bangsa yang tidak membeda-bedakan berdasarkan etnis, ras, golongan maupun agama. Diperlukan suatu....

kesungguhan untuk secara terus-menerus membangun ikatan persaudaraan yang kuat serta adil dalam kerangka pembangunan nasional.

Kita telah mengalami begitu banyak luka-luka dan kematian sebagai akibat dari arogansi etnisitas maupun golongan. Kita juga telah berkali-kali dituduh sebagai bangsa yang "kurang beradab" karena kasus-kasus pelanggaran HAM dan diskriminasi ras. Kita bahkan mulai kehilangan sifat-sifat luhur nan mulia yang tercatat dalam tinta emas sejarah bangsa di Nusantara baik dari Aceh sampai Papua, yakni sifat ksatria dan menjunjung tinggi harkat martabat sesama umat manusia dalam kerangka persahabatan.

Kita telah melalui ribuan perang sejak zaman kerajaan, telah banyak kematian dan telah banyak dendam maupun sakit hati yang tak terobati. Namun kita juga sering lupa bahwa kita telah melalui begitu banyak rintangan dalam perjalanan sebagai sebuah bangsa yang besar. Akibatnya kita merasa kecil, kemudian kehilangan sifat ksatria, bahkan mulai pengecut dan hidup dalam ketidakamanan (insecurity) dimana kecurigaan terbesar justru sesama anak bangsa Indonesia.

Rekan Mathias Wenda saya duga berasal dari Propinsi Papua atau Papua Barat, tentunya paham bila saya membahas masalah perang suku yang masih sering terjadi di tanah damai Papua. Tentunya juga paham bahwa integrasi Papua ke dalam Indonesia Raya secara legal dalam hukum internasional masih dihantui masalah. Pada satu sisi, saya juga melihat adanya perilaku yang korup dari pemerintahan Indonesia Raya yang mana hal itu disebabkan terbukanya kesempatan yang terlalu besar sebagai akibat lemahnya sistem hukum dan pengawasan. Pada sisi lain, perilaku perlawanan sebagian saudara kita di Papua, Aceh, Ambon, dan dahulu Timor-Timur ternyata tidak sungguh-sungguh diselesaikan secara segera karena sikap meremehkan pentingnya dialog.

Suasana tersebut merupakan warisan perjalanan revolusioner Indonesia pada era kemerdekaan, ditambah model militerisme era Orde Baru, dan sekarang sedang dicari formula yang terbaik untuk terciptanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia , ingat itu untuk seluruh rakyat Indonesia dan bukan secara khusus untuk orang Jawa.

Di tanah Jawa sendiri, masih tersimpan dendam masa lalu dari ujung Timur hingga Barat. Masih terasa adanya arogansi "rasa lebih tinggi" yang mana hal itu merupakan racun yang dahsyat bagi persaudaraan dan persatuan yang kuat. Saya telah melakukan perjalanan yang cukup jauh dari berbagai peradaban, tampak jelas bahwa terjadi kemandegan atau minimal kelambatan perkembangan sosial di Indonesia dan khususnya di Jawa.

Sebagai keturunan Jawa, saya sendiri sungguh merasa malu (wirang) karena sangat jarang bertemu dengan satria tanah Jawa yang mampu mengayomi Nusantara. Tetapi sangat sering bertemu penipu sombong yang mengaku-aku sebagai satria, padahal merusak persatuan bangsa Indonesia karena kesombongannya. Hal ini tidak berarti satria tanah Jawa sudah punah, tetapi yang saya lihat adalah lunturnya budaya dan etika yang dijunjung tinggi dengan sumpah lahir dan bathin. Namun sejujurnya perlu juga kita berkaca dan menyadari, bahwa masalah ini bukan khas ada di dalam suku Jawa melainkan merupakan penyakit di Nusantara yang karena kebetulan terbanyak diwarnai suku Jawa maka kelihatan sebagai pelaku dimana-mana.

Warna kebangsaan Indonesia sudah semakin dominan ketika sistem pendidikan nasional semakin mantap sejak keberhasilan pembanguna era 70-80an. Namun hal itu tidak mendalam karena tidak disertai proses pemahaman dan sisi praktis dari manfaat berperilaku sebagai orang Indonesia yang baik. Ketidakadilan dan penindasan menyebabkan kita sesama orang Indonesia tidak merasa sebagai orang Indonesia, akibatnya lahirlah kembali semangat etnisitas (kesukuan).

Tidak ada yang salah dengan semangat kesukuan sepanjang itu tidak disertai semangat untuk bermusuhan atau merasa yang paling tinggi/hebat/berkuasa. Adalah fitrahnya setiap insan untuk berafiliasi kepada salah satu suku yang merupakan bawaan lahir dari orang tua kita.

Saling menghormati dan persaudaraan tidak dapat dipaksakan dengan kekerasan atau penindasan, tetapi harus lahir dari kesadaran bahwa ada aturan main yang jelas dalam menciptakan masyarakat yang adil.

Dalam cita-citanya, Indonesia Raya setiap pagi berdoa untuk keadilan, kesejahteraan dan kemanusiaan seluruh rakyat Indonesia. Lalu mengapa ketidakadilan, ketidaksejahteraan, dan unsur kurang manusiawi justru lebih dominan?

Ketika kita berhadapan langsung dengan sesama anak bangsa Indonesia yang sangat berbeda secara etnis, mengapa prasangka yang lebih dominan? Mengapa stereotipe yang lebih bekerja di otak kita? Mengapa bukan saling percaya? Mengapa pula bukan keyakinan akan adanya perasaan keIndonesiaan yang kuat sesama kita?

Ketika kita dalam pergaulan sosial yang berbeda agama, mengapa kita lebih mempersoalkan perbedaan daripada kerjasama? mengapa kita menjadi was-was satu sama lain? mengapa kita merasa tidak aman? mengapa saling percaya sangatlah lemah?

Diperlukan suatu transformasi sosial secara massal di seluruh wilayah Indonesia untuk menciptakan keadilan. Marilah kita koreksi sikap-sikap kita dalam prasangka etnis/suku, dan stereotipe. Marilah kita mulai lagi persaudaraan Indonesia dalam kesetaraan dan marilah kita buat aturan main yang mengawasi perilaku-perilaku sembrono yang dapat memecah-belah Indonesia Raya.

Semoga siapapun rekan-rekan dari suku manapun dan kepercayaan apapun rela bersedia menyebarluaskan pemikiran ini sehingga kita bersama-sama dapat membawa perubahan nyata untuk Indonesia Raya.

Indonesia sebelumnya tidak pernah ada, tetapi berkat mimpi keadilan sosial bagi seluruh penghuni nusantara kita membangun persaudaraan Indonesia. Apakah ide Indonesia Raya tersebut harus terkubur karena kita tidak waspada dengan kelemahan kita sendiri? Lalu bagaimana kita akan mampu bersaing di dunia internasional apabila sesama anak bangsa Indonesia berkelahi tanpa ada akhirnya?

Labels:

Comments:
Intelijen Indonesia, banyak yang bilang masih standar. Apa ini karena proses rekrutmen yang berdasarkan kekerabatan dan kesukuan!?hohoho
 
terimakasih kepada semua untuk kesempatan ini..


sayapun kadangkala bertanya makna dari nilai yang ada: gelombang, ion, ether, suara, sinyal, cahaya, warna, positif, negatif, aku, kita, kalian, mereka, kelompok, komunitas, organisasi, daerah, wilayah, bangsa, negara, dunia, bumi, langit, goda, tugas, sadar, kuasa, pemimpin, terpimpin, tercipta, pencipta.

bagaimanakah energi setiap nilai itu? dan hubungannya?
 
terimakasih kepada semua untuk kesempatan ini..


sayapun kadangkala bertanya makna dari nilai yang ada: gelombang, ion, ether, suara, sinyal, cahaya, warna, positif, negatif, aku, kita, kalian, mereka, kelompok, komunitas, organisasi, daerah, wilayah, bangsa, negara, dunia, bumi, langit, goda, tugas, sadar, kuasa, pemimpin, terpimpin, tercipta, pencipta.

bagaimanakah energi setiap nilai itu? dan hubungannya?
 
lalu kalo etnis diluar suku indonesia?... bukannya lebih dominan tuh?...
 
Pa'De...
gimana ma kasus antasari ?
apa ini rekayasa...?
cepet banget polisi ngungkapinnya?

hayoo, butuh tulisannya untuk kasus ini
 
bahas kasus Antasari dari sisi intelijen dong..? benar ga ini rekayasa untuk mengalihkan isu kecurangan DPT Pemilu..?
Mohon pencerahannya :)
 
welcome back senopati,angin yang berhembus sepoi serasa nikmat di cuaca yang panas sekarang ini.
 
Topik yang sangat sensitif. Saya belum berani kasih komentar. Namun satu hal yang pasti Nusantara kita masih harus banyak belajar tentang salang menghargai dan menghormati serta toleransi antar umat beragama yang tidak abu-abu. Saya merasa, hingga saat ini pun khusus masalah toleransi antar umat beragama di nusantara tercinta ini masih terkekang. Maap..
 
Indonesia sebagai bangsa yang besar. Pernyataan tersebut mengandung interpretasi yang cukup beragam serta tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Dari segi geografis, indonesia adalah negara kelautan mengingat panjang garis pantainya dan potensi sosial-ekonomi yang ada didalamnya. Strategis, sebagai negara yang menghubungkan barat dan timur baik aspek politik maupun ekonomi. Secara geografis, merupakan salah satu negara dengan jumlah penduduk yang besar sekaligus kantong muslim terbesar di dunia.
Singkat kata, kebesaran Indonesia dari dua aspek diatas semua sudah memahaminya.
Semua pihak sudah memahami bahwa Indonesia Raya kita bangun dengan susah payah dengan tujuan untuk mensejahterakan warga negaranya dalam kurun waktu yang sangat panjang.Bumi Indonesia yang kita diami tidaklah diciptakan hanya untuk 100 atau 200 tahun saja tapi untuk selamanya.
Semua etnis yang membentuk warna ke-Indonesia-an kita juga menyadari bahwa kita tidak bisa hidup sendiri-sendiri.Sadar, bahwa untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan masing-masing memerlukan semangat kebersamaan dan kerjasama yang baik menuju cita-cita bersama yang telah disepakati sejak proklamasi dikumandangkan di seluruh penjuru dunia.
Para pendiri bangsa ini telah meletakkan pondasi dasar/ prinsip-prinsip utama dalam menjalani kebersamaan hidup sebagai bangsa yang bhineka. Segala persoalan yang mendera bangsa ini dalam proses kehidupannya sehari-hari semestinya dikontektualisasikan kedalam pancaran lima sila dan UUD 45. Landasan ideologi bangsa kita tersebut bukan ditempatkan sebagai obyek bacaan semata atau seremonial belaka tetapi sebagai roh/ dasar mentalitas berpikir dan bersikap untuk membangun kemajuan bangsa menuju pada apa yang disebut sebagai kesetaraan antarbangsa didunia.
Mana mungkin keberagaman budaya bangsa kita yang kaya akan filosofi hidup yang luhur, lantas diserahkan begitu saja pada "mekanisme pasar" ? sementara itu, kita terengah-engah menghadapi budaya pop ala barat yang telah masuk ke negeri kita melalui berbagai media, metode bahkan teknologi informasi.
Jelas, bahwa negara-bangsa Indonesia bukan negara-bangsa yang tertutup dengan yang lainnya. Kita memang sepakat menganut prinsip bebas-aktif terhadap perkembangan dunia luar.Apabila menggunakan parameter prinsip-prinsip yang terkandung dalam Pancasila, tentu bangsa kita tidak akan menelan mentah berbagai pengaruh budaya pop yang berpotensi menggerus nilai dasar budaya luhur bangsa. Semestinya, menjadi suatu evaluasi bersama diantara kita terhadap media tontonan sehari-hari atau event-event public yang mengedepankan pertarungan antara "moral versus material" mana yang dominan satu diantara yang lain.
Kebebasan macam apa yang kita inginkan untuk mencapai cita-cita nasional, keadilan macam apa yang kita bangun. Semua elemen bangsa harus merenungkan kembali hal tersebut.
Mari kita berkontemplasi secara nasional agas Merah Putih tetap berkibar di setiap sanubari anak negeri dan di seluruh pelosok nusantara.
Semoga Bermanfaat
 
Semua itu berpulang pada pribadinya sendiri pak lek,koreksi diri dan capable ketika menjunjung tanah pertiwi.Salam.
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters