Selamat Berpesta Demokrasi » INTELIJEN INDONESIA

Wednesday, July 08, 2009

Selamat Berpesta Demokrasi

Yth. Kepada Rakyat Indonesia,

Tengah malam ini, saya melihat seberkas cahaya yang akan semakin menyinari Indonesia Raya.

Sebelum lebih jauh, perlu ditegaskan bahwa apapun tulisan saya ini tidak akan dapat diaggap sebagai kampanye positif ataupun negatif terhadap para kandidat calon pemimpin 232 juta bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Do'a saya adalah agar pemilu berjalan lancar dan damai, serta apapun hasilnya dapat diterima dengan lapang dada. Setelah berkompetisi merebut hati rakyat Indonesia, diharapkan pasangan pimpinan nasional kita dapat bekerja dan menyatukan kembali cita-cita mewujudkan Indonesia Raya yang kuat dan bermartabat.

Do'a saya kepada pihak yang kalah adalah agar dapat menerima kenyataan pilihan mayoritas suara pemilih dan bersiap-siap kembali mengabdikan kemampuan dan keahliannya dalam membangun bangsa dalam posisinya masing-masing. Saya sangat berharap munculnya tradisi oposisi sejati yang mengkritisi dan mengawasi pemerintah secara profesional dan bukan berdasarkan dendam.

Tiga pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden RI dalam pemilu esok hari adalah pilihan dari orang-orang yang terpilih diantara kita anak bangsa Indonesia.

Mega-Prabowo dalam nomor urut satu memiliki potensi menyuarakan suara wong cilik dan diwarnai oleh kontroversi tuduhan yang bermacam-macam. Megawati misalnya dituduh kurang mampu dalam mengendalikan roda pemerintahan dan dianggap gagal ketika menjabat sebagai Presiden. Tuduhan tersebut seringkali lebih dimotivasi oleh keengganan sejumlah kalangan elit politik yang kapok dengan kepemimpinan Megawati, karena sesungguhnya sejumlah pemulihan ekonomi dimulai pada era Megawati sehingga tidak dapat dituduh secara semena-mena gagal saat menjadi Presiden. Kemudian kekhawatiran diarahkan kepada sang suami Taufik Kiemas dan sang putri Puan Maharani yang menurut sebagian kalangan sering bertindak tidak proporsional saat Megawati menjabat menjadi Presiden. Sementara itu, Prabowo Subianto seorang mantan DanJen Kopassus Jenderal berbintang 3 berkali-kali dituding oleh sejumlah kalangan khususnya para aktivis HAM karena track record "pelanggaran HAM". Betapapun Prabowo telah melalui berbagai proses hukum, namun ketidakpuasan masih menyelimuti sebagian penggiat HAM sehingga persoalan sejarah masa lalu dibesar-besarkan. Sesungguhnya Prabowo Subianto adalah salah seorang Jenderal TNI yang paling cemerlang yang pernah saya kenal, dengan cara berpikir yang lugas dan cepat dalam mengambil keputusan Prabowo memiliki potensi untuk mampu mewujudkan janji-janjinya dalam kampanye. Kecerdasan dan sifat nasionalismenya yang kental juga menjadi faktor yang membuat takut sejumlah kalangan di luar negeri, bahkan Prabowo tetap dilukiskan sebagai tokoh berlumuran darah yang bangkit di era demokrasi.

Kita sebagai anak bangsa yang menyaksikan perjalanan bangsa Indonesia sudah sewajarnya melihat diri kita sendiri, berkaca dan berpikir secara jernih, mengapa pasangan Mega-Prabowo disudutkan sedemikian rupa jeleknya. Padahal potensi pasangan Mega-Prabowo cukup menjanjikan masa depan Indonesia Raya.

SBY-Boediono pada nomor urut dua adalah calon terkuat menurut polling dan popularitas di mata masyarakat Indonesia. Calon ini juga paling favorit dan mendapatkan dukungan internasional secara simbolis/tidak tertulis. SBY adalah figur Jenderal yang keras dalam usaha dan pantang mundur serta termasuk dalam kategori Jenderal berpikir yang peduli terhadap masa depan Indonesia. Kelemahan terbesar SBY yang selalu dibantahnya adalah sikap terlalu hati-hati dan terlalu halus perasaannya. Akibat dari sikap dan sifat tersebut, lawan-lawan politiknya menjuluki sebagai Jenderal peragu dan lambat mengambil keputusan. Hal ini hanya dapat dibantah melalui kerja nyata SBY yang sesungguhnya telah mencapai suatu keberhasilan yang luar biasa selama kepemimpinannya. Bahwa keberhasilan yang monumental seperti perdamaian Aceh dan pemulihan ekonomi adalah juga berkat kinerja kabinetnya tentu diakui oleh SBY. Apa yang harus kita ingat dan kita garisbawahi adalah kepecayaan publik nasional dan internasional kepada SBY adalah faktor paling kuat dalam seluruh keberhasilan selama kepemimpinannya. Alangkah indahnya apabila SBY mampu mengurangi kelemahannya dan memperkuat kepemimpinannya demi Indonesia Raya. Sebagai pendamping, seorang teknokrat kelas dunia dan bertangan dingin di bidang ekonomi, Boediono tentu tidak asing lagi. Di bidang ekonomi, tidak ada keraguan yang beralasan atas kemampuan Boediono. Keberhasilan demi keberhasilan yang ditunjukkan oleh Boediono selama menjadi pejabat negara merupakan catatan prestasi tersendiri yang dapat menjadi jaminan perbaikan ekonomi Indonesia. Pertanyaan terhadap figur Boediono bagi saya justru dalam soal kapabilitas politik dan sosial yang tidak dapat dihindari oleh seorang wakil presiden apabila terpilih nanti. Wakil Presiden harus memiliki kecakapan yang memadai di berbagai bidang, artinya seorang Boediono harus menyadari kekurangannya di bidang non-ekonomi serta lebih banyak lagi bekerja keras dalam memahami fenomena sosial, budaya dan politik di tanah air.

Kita sebagai anak bangsa telah melihat bagaimana upaya merusak nama baik Boediono sebagai antek asing neoliberal, SBY sebagai Jenderal yang kurang tegas dan lain-lain. Tentunya kita jangan terlalu percaya dengan opini-opini menyesatkan yang dapat membuat kita kurang hormat kepada pemimpin kita sendiri.

JK-Wiranto pada nomor urut tiga adalah pasangan yang potensial karena unsur kebhinekaan etnisitas dan komplementaritas kemampuan dimana Jusuf Kalla sangat piawai dalam menyelesaikan masalah-masalah sosial-ekonomi dan politik, sementara Wiranto adalah seorang pensiunan Jenderal yang matang dengan masalah pertahanan dan keamanan nasional. JK yang berani menghadapi berbagai kalangan dari ekstrimis, separatis, sampai gerakan mahasiswa adalah seorang demokrat sejati yang senantiasa membuka diri untuk kritik dan siap berargumentasi dalam membela kebenaran yang diyakininya. Kepeduliannya untuk menyelesaikan konflik komunal secara cepat adalah prestasi yang bukan saja dihormati, namun juga amal mulia bagi kemanusiaan. Demikian juga responnya yang cepat dalam membantu rakyat yang ditimpa kesusahan adalah tersimpan baik di hati rakyat. Persoalannya hanya pada soal cara komunikasi yang kadangkala menimbulkan pertanyaan dan kesan kurang bersahabat. Terlebih dalam negara multietnis seperti Indonesia, pola-pola komunikasi Jusuf Kalla sangat efektif di kawasan urban perkotaan dan bisnis, namun belum tentu tepat di kalangan yang lain. Bahkan ada kalanya sebagian kalangan kurang mengerti apa yang ingin disampaikan Jusuf Kalla. Wiranto adalah figur nasional terkuat pada tahun 1997-1998 yang bisa saja menjadi pimpinan nasional saat itu apabila memiliki strategi politik yang matang. Fakta bahwa Wiranto memilih untuk berkolaborasi dengan gerakan reformasi menunjukkan bahwa dirinya saat itu tidak memiliki strategi mencapai kekuasaan, serta hanya ikut berperan menjaga stabilitas nasional. Keputusan Wiranto untuk mendukung perubahan demokratisasi Indonesia patut dihargai dan dihormati, bahkan saat dimana TNI mengalami kehancuran moral karena tuduhan pelanggaran HAM, Wiranto cukup handal membangkitkan kembali semangat juang korps TNI dalam tugas mulia melindungi bangsa dan negara Indonesia. Kasus Timor Timur adalah ganjalan terbesar karena fakta sejarah terjadinya kecelakaan bumi hangus Timor-Timur diarahkan kepada Wiranto sebagai penanggung jawab. Namun, lagi-lagi sebagaimana juga Prabowo, Wiranto telah melalui proses pertanggungjawaban baik secara internal kepada sistem hukum nasional Indonesia, maupun dibawah investigasi Komisi Bersama Timor-Indonesia.

Kita sebagai anak bangsa tentunya paham apabila ada pihak-pihak yang mengeksploitasi kelemahan Jusuf Kalla maupun Wiranto dengan berbagai catatan negatif. Namun hakikatnya bagaimanapun juga saat ini adalah salah satu dari tiga pasangan terbaik putra putri Indonesia yang mampu maju sebagai kandidat calon pemimpin bangsa Indonesia.

Mengapa saya mengkampanyekan ketiga calon sekaligus?

Pertama, saya sedih sekali karena adanya bibit-bibit saling mengancam diantara kekuatan-kekuatan politik di dalam negeri Indonesia. Kekuatan sosialis (kerakyatan) memojokkan kelompok liberal sebaliknya kekuatan liberal mencibir kemandulan konsep sosialis Indonesia. Kekuatan Islam terpecah-pecah dalam kegamangan konsep hubungan Islam dan negara. Kekuatan nasionalis saling mengklaim diri sebagai pembela Indonesia Raya. Isu yang paling parah dan tidak termaafkan oleh bangsa Indonesia adalah upaya mengganggu demokrasi dengan kekerasan yang pernah diujicobakan oleh oknum tidak bertanggung jawab pada pemilu legislatif yang lalu di Papua.

Kedua, tidak benar bahwa kita akan memilih yang terbaik dari pilihan-pilihan yang buruk. Harus kita yakini bahwa ketiga pasangan adalah calon-calon kandidat pemimpin bangsa yang terbaik. Siapapun yang anda pilih adalah pilihan terbaik bagi Indonesia Raya, dan setelah terpilih nanti mari kita dukung dengan sepenuh hati menyongsong seberkas cahaya kejayaan Indonesia Raya yang akan terwujud pada tahun 2025. Hentikan semua prasangka buruk, mulailah melihat dengan jernih bahwa proses demokrasi sudah berjalan sesuai keinginan bersama dan marilah kita jaga bersama.

Ketiga, berpijaklah pada fakta-fakta dan bukan opini yang sengaja dihembuskan untuk membuat bangsa Indonesia kurang percaya diri dan merasa lemah. Siapapun pemimpin nasional kita, hanya kita sendiri sebagai bangsa yang dapat merasakan kebanggaan ataupun sebaliknya. Apabila kritisi terhadap seluruh calon pemimpin bangsa kita begitu buruknya, maka kita sebagai bangsa yang memilihnya adalah yang paling buruk dari semua. Setidaknya saat ini, ketiga calon pasangan pemimpin nasional kita adalah yang kita miliki, dan semuanya adalah putra-putri terbaik bangsa Indonesia.

Selamat Berdemokrasi.
Senopati Wirang

Saya bermimpi dan berharap bahwa setiap pembaca artikel dapat menyebarluaskannya kepada seluruh elemen bangsa Indonesia yang akan berpesta demokrasi.



Labels: , , ,

Comments:
bro, artikelnya tak copi ke fb saya boleh kan, link sumber juga saya lampirkan....
 
Pemenang PILPRES 2009 adalah Rakyat Indonesia.
 
2025....

xyz
 
he he pemenangnya rakyat dan lanjutkan salam kenal
 
Banyak pegiat politik yang sebenarnya menghendaki pasangan SBY-JK dapat tampil kembali ke gelanggang politik pilpres 2009. Sayang, akibat sikap yang kurang bijaksana dari petinggi Demokrat maupun Golkar mengakibatkan kedua figur pemimpin nasional kita berpisah untuk berkompetisi dalam pilpres. Padahal, formasi Demokrat-Golkar sangat penting untuk mengawal stabilitas politik di parlemen dan pemerintahan pada umumnya sehingga kebijakan-kebijakan pro-rakyat dapat diimplementasikan secara efektif. Kemenangan Demokrat pada Pileg 2009 tidak bisa lepas dari bayang-bayang SBY sebagai figur tunggal di partai tersebut. Kedepan partai demokrat harus mempersiapkan kaderisasi pemimpin nasional yang setangguh SBY bila masih ingin dipercaya oleh rakyat. Jika ini tidak dipersiapkan maka Demokrat bisa mengalami fenomena balon yang bisa kempes di 2014.Semoga Demokrat tidak sedang mengalami mabok kemenangan. Partai berlambang banteng juga tidak bisa lagi menggantungkan diri pada figur Megawati maupun Soekarno. Partai ini harus mampu membuktikan konsep kerakyatannya secara tepat pada masyarakat dan bisa menegakkan kedisiplinan yang kuat terhadap para kadernya yang menyimpang dari arah perjuangan partai. Peran oposisi yang diambilnya sudah menjadi kebiasaan dalam sistem negara yang menganut paham demokrasi sehingga hal tersebut bukan sesuatu yang luar biasa. Menjadi tidak masuk akal bila peran oposisi didasarkan pada rasa sakit hati atau balas dendam. Partai berlambang beringin yang besar dan dibesarkan oleh TNI telah membuktikan bahwa dirinya bisa lepas dari bayang-bayang Soeharto dan TNI baik pada pemilu 1999 sampai 2009 yang baru berlalu. Partai dan kadernya tidak pernah mengalami peran sebagai oposisi sehingga jelas Golkar bukanlah partai yang memiliki watak oposisi dalam sejarahnya. Apalagi Golkar memiliki tradisi untuk menyelesaikan berbagai persoalan internal maupun eksternal dengan berbagai iming-iming fasilitas dan akses to the power. Kepemimpinan Prabowo di tubuh Gerindra cukup memberikan angin segar akan sebuah perubahan hidup secara nasional. Paling tidak yang terlihat di setiap tampilan iklan di media televisi beberapa waktu lalu. Semoga iklan tersebut dapat diwujudkan secara riil pada kelompok-kelompok masyarakat yang menjadi background iklan mereka. Kemenangan mereka pada pileg 2009 dengan duduknya wakil Gerindra di senayan dapat menjadi media untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Bila hal tersebut bisa diwujudkan secara kontinu maka 2014 mereka bisa membalikan partai Demokrat yang sekarang berkuasa. Tapi bila mereka gagal mengemban amanah lima tahunan ini maka nasib mereka bisa sama persis PBB. Semoga Ke-9 partai yang masih dipercaya oleh rakyat untuk mengemban amanah dapat memegang dan merealisasikan janji-janjinya. Jayalah Indonesia Raya !!.
 
ANGKA GOLPUT MASIH MEMIMPIN DALAM KLASEMEN PEMILU 2009 INI,APAKAH WARGA DI TANAH AIR INI MASIH DI KUASAI KEBIMBANGAN ATAU TIDAK ADA KEPERCAYAAN SEKALI KEPADA ORANG YANG MAU MEMIMPIN NEGARANYA SENDIRI?????????
 
ANGKA GOLPUT MASIH MEMIMPIN DALAM KLASEMEN PEMILU 2009 INI,APAKAH WARGA DI TANAH AIR INI MASIH DI KUASAI KEBIMBANGAN ATAU TIDAK ADA KEPERCAYAAN SEKALI KEPADA ORANG YANG MAU MEMIMPIN NEGARANYA SENDIRI?????????
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters