Antara Jihad dan Jahat » INTELIJEN INDONESIA

Thursday, August 13, 2009

Antara Jihad dan Jahat

Berikut ini adalah tulisan rekan Joko Lelono yang begitu cepat memberikan pencerahan dalam Blog I-I tentang makna Jihad yang sesungguhnya tidak dapat direduksi hanya ke dalam jihad secara militer.

Terima kasih dan semoga dapat menjadi amalan baik rekan Joko yang dapat kita sebarkan luaskan kepada umat Islam di sekeliling kita.

Silahkan membaca.....

Ketika Amrozi, Mukhlas dan Imam Samudera telah dieksekusi mati beberapa waktu lalu. Pro dan kontra mengiringi peluru yang menembus dada para aktor “Bom Bali” itu. Sebagian menganggapnya sebagai pencoreng citra Islam dan sebagian menyebutnya sebagai pahlawan Islam.. Di antara dua kelompok ini, tidak sedikit yang kebingungan mengambil sikap karena karena kerumitan seputar makna jihad dan mujahid. Terlalu banyak kata jihad yang diobral dan terlalu gampang orang digelari mujahid.

Terma jihad dan derivatnya digunakan sebanyak 35 kali dalam al-Qur’an. Jihad secara leksikal bermakna usaha dan memberdayakan serta mengerahkan kekuatan dan kemampuannya untuk mewujudkan satu tujuan; akan tetapi, karena derivasinya berasal dari mufa’alah, biasanya digunakan dalam hal-hal yang di dalamnya terdapat semacam korporasi, kerja sama, persyarikatan dan pertemanan.



Karena itu, dalam terma jihad biasanya pihak lainnya juga digunakan. Dan kedua belah pihak masing-masing berdiri pada barisannya dan berupaya untuk mengerahkan kemampuannya semaksimal mungkin sehingga dapat menaklukan salah satu pihak yang ada.

Tetapi, tentu saja, harus diperhatikan bahwa jihad tidak hanya berbentuk militer dan setiap jenis perlawanan dan pertempuran. Selain bercorak militer jihad juga bernuansa ekonomi atau budaya atau politik semuanya termasuk di dalam makna jihad ini.

Demikian juga harus diketahui bahwa terma jihad tidak selamanya bermakna positif. Terkadang terma jihad digunakan dalam makna negatif. Contohnya ayat 8 surah Ankabut (29). Dalam ayat ini, Allah Swt setelah memerintahkan manusia untuk berbuat baik kepada orang tua mereka, berfirman: “…Dan jika keduanya memaksamu (jâhadâ-ka) untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah engkau mengikuti keduanya. Hanya kepadaKulah kembalimu, lalu Aku wartakan kepadamu apa yang telah engkau kerjakan.”

Pada ayat yang lain disebutkan bahwa Allah Swt berfirman “’ala an tusyrika bi” (untuk menjadikanmu sekutu dengan-Ku) sebagai ganti firman “litusyrika bi” (untuk mempersekutukan-Ku): “Dan jika keduanya memaksamu untuk menjadikanmu sekutu dengan-Ku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah engkau mengikuti keduanya, dan pergauilah keduanya di dunia dengan baik…” (QS. Luqman [31]:15).

Pada ayat 15 Surah Luqman di atas, jelaslah kata jihad berkonotasi negatif. Karena di sana ada unsur memaksa si anak menjadi musyrik oleh usaha ibu bapaknya. Sebaliknya, pada ayat yang lain, terma jihad dan mujahadah yang digunakan memiliki makna positif yakni, usaha keras manusia untuk mewujudkan tujuan-tujuan sehat dan diridai oleh Allah Swt.

Usaha dan upaya positif semacam ini terkadang hanya memanfaatkan media-media finansial dan ekonomi, yang disebut sebagai jihad finansial; misalnya, menyumbang orang-orang sakit, membangun rumah sakit, sekolah bagi anak terlantar dan panti asuhan anak yatim.

Terkadang yang dimaksud dengan jihad adalah menentang nafs ammarah yang disebut sebagai “jihad melawan nafsu” atau “jihad akbar”. Sebagian besar ayat-ayat al-Quran memuat terma jihad dengan makna demikian. Di sini kita akan menyinggung ayat yang berkenaan dengan masalah ini.

Allah Swt berfirman: “Dan barangsiapa berjihad (jâhadah), maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. al-Ankabut [29]:6). Dan pada ayat lain Allah berfirman: “Dan orang-orang yang berjihad (jâhadû) untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. al-Ankabut [29]:69).

Bagaimanapun contoh jelas dan makna yang paling gamblang dari terma jihad adalah berperang di jalan Allah Swt dimana orang yang berjihad menempatkan diri mereka untuk mencapai syahid. Jihad semacam ini juga akan memiliki korelasi dengan jihad melawan hawa nafsu.

Pejuang sejati adalah orang yang mengorbankan diri dan ego serta kepentingannya, bukan malah mengorbankan nyawa orang lain dan masyarakat umum. Pejuang yang layak dianggap syahid adalah orang yang tidak menganggap remeh nayawa dan peluang hidup banyak orang.

Boleh jadi, dalam situasi perang melawan musuh, merakit dan meledakkan bom menjadi keharusan, tapi mengubah arena sipil menjadi medan pertempuran dengan musuh “yang bisa siapa saja” bukanlah tindakan yang harmonis dengan nilai dan filosofi jihad. Yang begini, bukan jihad, tapi jahat.

(Semoga dapat menjadi pencerahan, sebagaimana harapan bung Seno : "...Sayangnya bahkan sampai sekarang belum banyak upaya dakwah yang memisahkan secara ideologis makna Jihad dengan kepengecutan bom bunuh diri").






Labels: , , ,

Comments:
siang om momod

tanggapan mengenai NOORDIN M TOP

saya mengira taktik yang dilancarkan noordin ini sama halnya osama kalu bener anggapan Amerika tentang dunia islam adalah radikal dan para kaum radikal khususnya bernafaskan islam dan menganggap Bomber man adalah jihad walahhhh

Amerika keliatan takut sekali akan hal ini

seharusnya menurut saya Amerika yang sudah bankrut secara materi seharusnya tidak bersifat gegabah menghadapi kaum radikal yang cenderung represif saya rasa kekeliruan taktik dan strategi menghadapi Asia bangkitnya ASIA sekarang ini merupakan keberhasilan dari kaum sipit dan didukung oleh kekuatan timur tengah sebenarnya jihad disini enggak usah dipandang secara agama tetapi secara politik dan tindakan represif SBY membuat marah besar dan Indonesia yang cenderung memilih demokrasi sebagai kekuatan politik tampaknya tidak di baca oleh SBY dan kalo dihubungkan dengan kekuatan indonesia saya kira SBY di jadikan umpan oleh pihak barat lihat saja kemelut dan gejolak akan berkembang lagi
ketidakmampuan pemimpin kita menyikapi hal ini sangat disayangkan keliatannya kita akan mengalami krisis lagi dilihat dari peta kekuatan ekonomi ini dibuktikan dengan ketidak tarikan investasi asing menanamkan saham di indonesia

Dan kalu semua sumber daya alam ini dijual ke asing walahhhhhh
semoga pemimpin sadar akan hal ini

lalu apa yang bisa kita perbuat mengenai hal ini kalo intelijen dikerahkan se indonesia percuma aja permasalahan disini lebih kepada ekonomi saja liat kebijakan SBY saja saya kira Amerika juga sedang menunggu

maaf bila pandangan kurang masuk di nalar
 
kata guru ngaji saya nih bang, kaum teroris ini beraliran khawarij, mereka adalah orang2 yang banyak beribadah dan memiliki semangat yang berlebihan dalam menuntut ilmu agama tapi hatinya kosong dari iman, mereka tidak segan membunuh siapa saja yang yang mereka anggap berdosa(termasuk dosa kecil) bahkan dulu Khalifah Ali bin abi thalib terbunuh di tangan kelompok ini hanya karena beliau berdamai dengan Muawiyah.
 
jihad yang diusung oleh para pahlawan kesiangan itu hanya jokes yang garing dari orang2 yang hopeless memperjuangkan nasibnya sendiri.

sebuah interview dengan sang teroris yang saya dapat dari pertemuan dengan nurdin ini membuktikan betapa mereka adalah guyon ngawur
 
dampak dari budaya populer, kemiskinan, dan kehidupan tanpa makna untuk mengambil jalan pintas yang sesuai dengan mimpinya. ideologi tidak mungkin hidup tanpa pengikut dan pemimpin tapi sebaik-baik ideologi adalah idelogi yang mampu memberikan nafas dan darah keadilan bagi semua manusia.kilaf, terburu-buru dan senang mengeluh adalah tabiat dasar manusia manapun. Terima kasih atas kebesaran hati senopati wirang yang telah mengungkapkan kejujurannya atas kondisi yang telah terjadi.
 
teroris itu ada dan diadakan.
kenapa saya bilang teroris itu diadakan.....
banyak yang mengutarakan dengan teori konspirasi dan related.
bagi saya pribadi tarikan garis lurusnya pada timing logika teroris itu ada. bom bunuh diri dan mati syahid itu ada pada masa lalu sebelum adanya perang salib. jauh dari masa itu yg namanya jihad itu ada pada hampir semua agama.

pertanyaan selanjutnya adalah..kenapa pada dekade ini nama teroris begitu familiar ditelinga kita?
kl kita runtut lagi...mulai dari ide dulu lah. (coba baca buku ttg sejarah tuhan, samuel huntington dan project perkembangan dunia ketiga dan other west)
disitu secara implisit mengutarakan bahwa gobalisasi dan partner relationship other nation, people adalah keharusan.
tatanan dan pranata tingkah laku human harus terkontrol dan terdefinisikan adalah syarat mutlak.
dari sini muncullah satu kesepakatan bersama: bahwa harus terejawantahkan dengan jelas dan gamblang tentang NILAI-NILAI UNIVERSAL. nilai ini akan cenderung mereduksi bahkan menghilangkan bagian dr tatanan sosial yang tidak mendukung globalsasi.

trus apa hubungannya dengan teroris?
yah teroris ini sebagai shock therapy. dalam teori konspirasi kita mengenal bahwa buatlah boneka yang cantik dengan menciptakan boneka jelek.

dan akhrinya bisa kita liat...skrg ini waktunya deradikalisasi. momentum da terbentuk dan berhasil...tinggal melanjutkan apa yg ada...

peace dan respect to make peace world. we can start in my mind and your mind...

kl diliat dr segi ekonomi...bisa juga tp itu bersifat turunan dan parsial.
 
Pejuang sejati adalah orang yang mengorbankan diri dan ego serta kepentingannya, bukan malah mengorbankan nyawa orang lain dan masyarakat umum. Pejuang yang layak dianggap syahid adalah orang yang tidak menganggap remeh nayawa dan peluang hidup banyak orang.
Boleh jadi, dalam situasi perang melawan musuh, merakit dan meledakkan bom menjadi keharusan, tapi mengubah arena sipil menjadi medan pertempuran dengan musuh “yang bisa siapa saja” bukanlah tindakan yang harmonis dengan nilai dan filosofi jihad. Yang begini, bukan jihad, tapi jahat.

tanggapan:
dalam islam, tidak diperbolehkan menyamakan semua orang yg memiliki status keimanan berbeda. tidak sama orang yg muslim dg orang yg kafir. status muslim atau kafir ini memiliki konsekuensi yg tdk kecil, yaitu halalnya darah dan harta. perintah berperang dalam alqur'an tidak membedakan sipil atau nonsipil, tetapi kafir atau bukan. memang ada larangan membunuh wanita, anak2, orang tua dan orang buta dalam berperang, tetapi ini bukan pembedaan berdasarkan sipil/nonsipil. golongan ini tidak diperangi karena pada fitrahnya mereka tidak ikut berperang. jika dalam peperangan dijumpai orang2 dari golongan ini yg ternyata ikut berperang, maka golongan ini boleh dibunuh karena ikut berperang. mujahid yg benar tidak akan menganggap remeh nyawa orang yg memang haram dibunuh. seandainya banyak korban jiwa dari golongan sipil yg menurut perhitungan tidak akan ada korban jiwa dari kalangan muslim maka itu tidak mengapa karena perintah dalam alqur'an bukan membunuh golongan militer, tetapi bunuhlah musyrik/kafir DI MANA SAJA, tidak hanya di medan perang. nabi muhammad berkali2 mengutus penculikan/pembunuhan di tempat tinggal musuh/pemukiman. di samping itu, barangkali akan sangat sulit membunuh musuh tanpa korban dari pihak sipil, karena musuh menyamar sebagai orang sipil dan berbaur dg orang sipil.
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters