Antara terima kasih, mohon ma'af dan mohon pengertian » INTELIJEN INDONESIA

Thursday, August 13, 2009

Antara terima kasih, mohon ma'af dan mohon pengertian

Pertama-tama saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada rekan-rekan Blog I-I yang tidak bosan-bosannya menyampaikan masukkan dan kritikan atas setiap artikel yang saya muat atau saya tulis di Blog I-I. Khususnya dalam soal warga Malaysia Noordin M.Top.

Tidak ada maksud untuk menyesatkan rakyat Indonesia, serta tidak ada upaya propaganda hitam mengelabui publik dalam soal Terorisme yang telah mengganggu ketentraman kita bersama.

Mengapa tulisan saya sebelumnya menggambarkan seolah-olah memang Noordin M.Top yang telah disergap, dilumpuhkan dan ditembak di tempat?

Hal itu setelah saya langsung menerima konfirmasi dari jaring Blog I-I di dalam Densus 88 yang memberikan kabar langsung tentang target yang terkonfirmasi atau diduga kuat sebagai Noordin M.Top. Saya menuliskan artikel Akhir Drama Warga Malaysia Noordin M.Top adalah sekitar 8 jam awal pengepungan target dan saat itu diwarnai oleh ketergesaan untuk ikut serta meyakini bahwa sasaran adalah benar Noordin M.Top. Tentu saja, saya akan mengakui hal itu sebagai kekeliruan.

Namun apabila rekan-rekan perhatikan, saya juga menuliskan bahwa seharusnya Noordin akan tampil heroik atau nekat dan dilengkapi berbagai situasi yang sungguh-sungguh membahayakan dan hal itu tidak tampak. Artinya saya pun berusaha menekan keraguan yang besar dari situasi lapangan sejak awalnya karena saya menaruh kepercayaan yang tinggi kepada rekan-rekan Blog I-I, dan berusaha meyakinkan diri dan tampak dalam tulisan saya juga seolah-olah benarlah adanya Noordin telah terkepung. Dan sayapun salah bukan?

Bolehlah bila rekan-rekan merasakan kuatnya kesan propaganda Blog I-I untuk kebangkitan Indonesia Raya dan kebangkitan bangsa Indonesia dalam kancah percaturan politik, keamanan, ekonomi, ilmu pengetahuan dan berbagai aspek kehidupan di dunia. Wajarlah bila saya dituduh mempropagandakan keyakinan-keyakinan yang ternyata tidak mencapai kebenaran mutlak. Bukankah saya juga selalu meminta koreksi rekan-rekan semua, dan sejak awal saya memulai Blog I-I juga berkali-kali meminta peranan dan kontribusi rekan-rekan untuk lebih berani dalam menyampaikan pendapat di Blog I-I?

Saya juga berterima kasih kepada rekan Red Star tentang masukannya dalam soal keyakinan ideologis yang dapat bermetamorfosa. Dimana ada kesuburan untuk tumbuh kembangnya suatu ideologi, maka akan sangat sukar dalam mengatasinya apabila lingkungan tetap mendukungnya. Dapat saya tarik suatu benang merah bahwa sejumlah fakta dan kondisi obyektif bangsa kita telah mendorong terciptanya lingkungan yang cukup subur bagi terorisme. Menurut saya faktor pertama adalah tingkat pemahaman (intelektual dan sikap hati-hati dan logis) serta pemahaman konteks kehidupan dunia yang sangat rendah sehingga mudah untuk dihasut ke dalam keyakinan ideologi tertentu. Misalnya saja dalam kasus aktor bom bunuh diri Dani Dwi Permana yang berasal dari keluarga yang berantakan dan secara psikologis menyimpan kemarahan yang terbungkus dalam perilaku yang normal. Sosok seperti Dani tersebut sangat banyak di negara kita bukan? artinya potensi rekrutmen teroris masih terbuka luas. Setelah itu, baru faktor kemiskinan dan lain-lain. Artinya apabila kita telah menetapi keyakinan berupa ajaran budi pekerti yang baik, agama yang lurus dan membimbing pada Ketuhanan, serta mantapnya keimanan yang juga menghormati realita ciptaan Tuhan yang berbeda-beda, maka tidak akan mudah untuk terjebak ke dalam doktrin-doktrin sesat terorisme. Sayangnya bahkan sampai sekarang belum banyak upaya dakwah yang memisahkan secara ideologis makna Jihad dengan kepengecutan bom bunuh diri.

Tantangan yang besar bagi dunia pendidikan dan peningkatan kesejahteraan ada di sekeliling kita semua. Kita memelihara perbedaan dan jurang pemisah yang begitu dalam, sehingga ketidakpedulian dan beratnya beban kehidupan menjadi faktor pendorong yang kuat untuk keluar dalam bentuk kemarahan yang dibenarkan oleh doktrin-doktrin terorisme berdasarkan penyimpangan ajaran agama.

Sekali lagi, Blog I-I boleh dinilai sebagai propaganda, tetapi bukankah Blog I-I tidak bersifat satu arah dan selama ini telah terjadi komunikasi positif seperti dalam respon kritikan rekan-rekan? Saya terus terang sangat bahagia dengan adanya dialog dengan seluruh jaringan Blog I-I, janganlah takut atau menganggap Blog I-I selalu benar ataupun selalu bernada negatif ataupun menyesatkan, tetapi lakukanlah dialog baik dalam bentuk masukkan yang positif maupun kritikan yang membangun, serta jangan lupa koreksi-koreksi atas kekeliruan Blog I-I.

Mungkin ada benarnya pendapat rekan Red Star bahwa ideologi tidak dapat dimatikan oleh kebijakan yang represif ataupun propaganda. Tetapi bukankah sebuah ideologi dapat berkembang karena ideologi tersebut dipropagandakan? misalnya komunisme, liberalisme, radikalisme serta berbagai isme-isme lainnya. Ceramah agama, ceramah akademik, ceramah politik, dan berbagai artikel, buku, film, dll semuanya adalah bagian dari penyebarluasan keyakinan, yang dapat disingkat dalam kata propaganda. Mengapa propaganda menjadi negatif di Indonesia sementara secara efektif tetap dikembangkan dengan sangat canggihnya di negara-negara maju? Hal itu tidak terlepas dari makna negatif propaganda yang melekat pada kegiatan radikal kiri komunis di masa lalu, yang terkenal dengan agitasi propaganda atau agitprop, dimana dengan berbagai cara menyebarluaskan fitnah, mengadu domba dan memecah kekuatan lawan serta melemahkan semangat lawan dengan berbagai cara.

Iklan produk konsumsi di koran, radio, televisi dan internet adalah juga propaganda agar kita membelinya.

Jadi kita tidak boleh meremehkan manfaat propaganda, tentunya dengan cara-cara yang lebih baik karena kepentingan kita adalah sama, yaitu demi Indonesia Raya kita perlu menghilangkan penyakit-penyakit yang telah membuat sebagian sendi kehidupan berbangsa dan bernegara terganggu. Blog I-I pada dasarnya hanya menggugah kesadarn kolektif kita sebagai bangsa yang besar...Indonesia Raya. Blog I-I selalu bermimpi bahwa kita telah mengakhiri masa-masa konflik ideologi dan politik domestik dan mulai bersama-sama membangun kembali identitas Indonesia yang tercabik-cabik oleh beragam perbedaan. Apakah rekan-rekan yang berasal dari Aceh, sampai Papua memiliki kesadaran kolektif untuk membangun Indonesia, tentunya berpulang kembali kepada rekan-rekan semua. Apakah kita peduli atas kemiskinan yang ada di sekeliling kita juga kembali pada diri kita sendiri. Apakah hal itu menjadi tanggung jawab pemerintah semata? sementara kita sebagai elemen bangsa berpangku tangan melihat masalah bangsa.

Kepada pemerintah, juga harus digiatkan suatu usaha yang serius dalam reformasi birokrasi. Semangat anti korupsi tidak boleh padam, pelayanan publik adalah suatu hal yang mendasar yang harus prima, kinerja yang tinggi pegawai negeri dan TNI - Polri adalah kewajiban untuk menjamin perubahan yang lebih baik, penegakkan hukum, good governance, perbaikan ekonomi, penghapusan kemiskinan dan berbagai konsep pembanguna yang positif lainnya masih menjadi pekerjaan rumah yang panjang.

Kembali pada kasus Noordin. Pembenaran pada tulisan Noordin M.Top juga dapat dilihat sebagai kelihaian bersilat kata dalam tulisan, dan saya akui ada kecenderungan demikian. Tetapi perhatikan pula makna yang tersurat maupun tersirat bahwa kita jangan sampai terdikte oleh pencitraan sosok para pelaku teror yang sesungguhnya tidak berbeda dengan residivis pembunuh yang merupakan penyakit dalam masyarakat kita. Penyakit tersebut bisa saja kita takuti namun bisa pula kita hadapi dengan keberanian dan tekad kuat untuk mencapai kesembuhan. Ada cara radikal seperti dalam kasus Pembunuh Misterius - Petrus pada era kejayaan Jenderal Benny Moerdhani, ada pula penelusuran secara proses hukum seperti Densus 88, dan mungkin ada banyak ide-ide lain dalam pemberantasan terorisme.

Blog I-I tentu saja tidak dapat berinisiatif melakukan operasi-operasi yang menjadi wewenang aparat keamanan Indonesia, namun setidaknya turut mendukungnya dengan berbagi semangat perjuangan kepada seluruh elemen bangsa dan khususnya jaringan Blog I-I tentang pentingnya kewaspadaan, keberanian, dan keseriusan dalam mendorong kebangkitan Indonesia Raya.

Kita harus memiliki kepercayaan diri yang tinggi, seluruh bangsa Indonesia wajib memiliki keyakinan akan kemampuan dirinya untuk mengatasi berbagai kesulitan hidup. Masalah yang dihadapi Densus 88 juga menjadi masalah kita, apalagi apabila hal itu terjadi di sekeliling kita atau bahkan menimpa anggota keluarga kita, bukankah kita akan merasa sedih dan marah, serta sudah selayaknya kita berdiri tegak berjanji kepada bumi pertiwi untuk membela keyakinan kita. Apabila para teroris berkeyakinan demi ajaran agama yang menyimpang, tentunya kita akan memiliki keyakinan seribu kali lebih kuat karena kita tidak melakukan pelanggaran hukum Tuhan berupa pembunuhan, sebaliknya kita memiliki misi suci Jihad menghentikan aksi teror yang meresahkan masyarakat.

Kita juga sangat memerlukan endurance atau ketahanan fisik dan mental dalam menyongsong kebangkitan Indonesia Raya, artinya juga jangan malas dalam mengerjakan kewajiban-kewajiban kita di tengah-tengah masyarakat. Diperlukan kepedulian yang luar biasa dalam menyikapi persoalan-persoalan bangsa.

Kedua saya ingin menyampaikan maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh rekan-rekan Blog I-I apabila ada kecenderungan untuk terlalu cepat terjun bebas dalam mengambil kesimpulan di tulisan saya. Namun saya telah memutuskan untuk lebih berpihak kepada upaya pembangunan karakter bangsa Indonesia yang lebih kuat, bersatu, berani dan tidak malas dalam mencapai prestasi di segala bidang. Khusus di dunia intelijen dan keamanan, saya sangat menghormati rekan-rekan yang saat ini aktif dalam mengawal perjalanan bangsa Indonesia, memberikan rasa aman kepada rakyat, mengungkapkan setiap ancaman, mencegah kejahatan kepada rakyat Indonesia, serta mengabdikan hidupnya untuk Indonesia Raya. Oleh karena itu, saya juga tidak segan-segan menyampaikan apresiasi positif kepada segenap aparat keamanan dan intelijen Indonesia. Disamping itu dengan tetap bersikap kritis atas kemungkinan masih belum maksimalnya kinerja institusi keamanan kita.

Ketiga dengan tulus saya mohon pengertian yang lebih luas dalam mencermati tulisan-tulisan di Blog I-I. Hal ini bukan untuk memaklumi, sebaliknya hal ini merupakan tantangan kepada rekan-rekan untuk menggiatkan kritikan dan masukan kepada Blog I-I, sehingga akhirnya publik akan memperoleh pengertian yang lebih bemutu, dibandingkan apabila saya secara satu arah hanya membicarakan sudut pandang saya sendiri.

Sekian dan terima kasih
SW

Labels: ,

Comments:
Pendapatku, penyergapan "noordin" terlalu bombastis dan gak profesional serta terlalu di dramatisir. Seolah-olah sebuah skenario. Satu orang disikat banyak orang mana berjam-jam lagi. Saya tidak setuju dan tidak akan pernah setuju dengan noordin dan kelompoknya. Tapi ternyata aparat pemerintah indonesia juga terlalu cupu.
 
Sebenarnya saya menyayangkan kesimpulan dini dari Pak Seno (ditulisan sebelumnya), karena bagi pembaca tentu langsung dimaknai harfiah bahwa NMT benar-benar tewas.

Dan saya juga berpikir tulisan "Noordin M Top" adalah usaha pembenaran atas tulisan sebelumnya ("Akhir Drama Warga Malaysia Noordin M.Top") yang kemudian menafsir-lainkan makna "akhir".

Tapi, it's ok..
Mungkin itu adalah reaksi berlebih insting intelijen saat mengetahui (tepatnya mengira) buruannya masuk perangkap.

Dengan koreksi tulisan ini, membuat saya salut dengan Pak Seno yang dengan ikhlas menerima & meminta maaf.

Mungkin seharusnya bukan "Senopati Wirang" tapi "Senopati Digdaya" :)

Saya selalu menantikan analisa-analisa lainnya, sebagai referensi/acuan berlatih kepekaan.

Terimakasih.

Wisanggeni
 
Sebuah confession dari sang ilustrator yang handal..
Sebuah confession yang begitu mahal harganya..
Saya sangat mengapresiasi klarifikasi anda demikian bila saya diposisi anda..
Sebuah ajakan moral yang sangat mengesankan dari anda..
mari kita tetap fokus kepada satu garis dan tidak hanya memandang ini sebagai sebuah kelemahan..
Tiada yang sempurna selain DIA sang pencipta..

JAYALAH INDONESIAKU..
Salam..
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters