Blast from the past » INTELIJEN INDONESIA

Thursday, August 06, 2009

Blast from the past

Sebuah renungan Sdr. Joko Lelono sangat penting untuk dibaca dan dipahami oleh segenap jaringan Blog I-I beserta patriot dan senopati nusantara. Mengapa penting, karena secara luga menarik sebuah benang-merah peristiwa demi peristiwa yang saat ini kita alami sejak era perang dingin, dimana permusuhan utama adalah kapitalis-liberal (AS dan sekutunya) melawan komunis (Uni Soviet dan sekutunya). Pada masa itu, Islam di kawasan Timur Tengah, Asia Selatan dan kawasan yang berbatasan dengan bekas Uni Soviet mengalami masa pengkondisian yang sangat kondusif bagi lahirnya radikalisme Islam di era modern dengan dukungan teknik dan dana yang besar dari kubu kapitalis-liberal.

Sebagian kecil umat Islam yang tertekan di kawasan Afghan-Pakistan telah diracuni oleh harapan kebangkitan Islam dengan suntikan mematikan berupa ideologi "perjuangan" teror. Ideologi radikal teror tersebut sangat menggoda umat Islam di kawasan lain, khususnya Indonesia dan Filipina, sementara Malaysia pada saat itu pemerintahannya secara seksama melakukan pengawasan yang ketat dan melarang warganya untuk terjebak dalam radikalisme teror, dengan pengecualian boleh melakukan teror asal tidak di kampung halaman sendiri. Itulah sebabnya ada manusia bernama Dr. Azahari dan Noordin M. Top yang secara teguh memegang prinsip Melayu untuk tidak melakukan teror di kampung halaman sendiri.

Sementara itu, kaum radikal teroris Indonesia adalah tipe-tipe manusia Melayu juga tetapi yang paling lemah dan bodoh, sehingga sadar tidak sadar telah menghancurkan sendi-sendi kebangsaan Indonesia Raya yang mayoritas diwarnai oleh prinsip-prinsip Islami yang damai dan demokratis tanpa harus menjadi negara Islam.

Itulah sebabnya tercipta sejumlah manusia-manusia robot yang tega melakukan teror di kampung sendiri semacam, Amrozy, Imam Samudera, Muklash, dll. Sedihnya lagi, masih ada kelompok-kelompok radikal yang membiarkan diri menjadi bidak dari konstelasi global perang melawan teror yang juga asik membangun faham radikal melalui propaganda Mujahiddin palsu seperti Abu Bakar Baasyir,Irfan Suryahardy Awwas, dll. Seorang Mujahid sejati tidak akan menempuh cara-cara pengecut berupa provokasi kebencian kepada sesama umat manusia dan negara lain. Pernahkah Nabi Muhammad memprovokasi kebencian dalam memerangi kafir Qurais, Kafir Rum, Yahudi, ataupun dengan kaum zindiq dan munafiqun? Adakah seruan perang di zaman Nabi Muhammad yang menganjurkan bunuhlah dirimu bersama-sama kaum kafir yang kamu benci?

Dunia sudah berubah begitu pesatnya, jumlah umat Islam Indonesia yang sangat besar saat ini sudah barang tentu menjadi sorotan dunia dan berpotensi menjadi daya tarik yang besar untuk berbondong-bondongnya umat manusia dunia masuk Islam. Mengapa demikian? karena sifat kasih-sayang (rahman-rahim) umat Islam Indonesia lebih utama dari pada sifat amarah murka. Namun kebodohanlah yang membuka peluang terjadinya radikalisasi di dalam umat Islam Indonesia, bukan kemiskinan....tetapi kebodohan dan ketidakmampuan melihat/membaca tanda-tanda alam (Iqro...bacalah dunia internasional apa adanya dan berlindunglah kepada Tuhan dari penipuan pandangan akal dan mata kita akan dunia)

Pengantar tulisan Sdr. Joko Lelono ternyata terlalu panjang, mudah-mudahan rekan-rekan Blog I-I tidak bosan, dan bersedia meluangkan waktu untuk mencoba memahami situasi dan kondisi bangsa Indonesia belakangan ini, yang tidak terlepas dari sejarahnya.

Silahkan membaca artikel Sdr. Joko Lelono:

Sejak Teror bom di Hotel Marriott dan Ritz Carlton, kawasan Mega Kuningan, Jakarta, terjadi, sudah bisa diperkirakan bahwa telunjuk resmi aparat keamanan mengarah kepada sang "bogeyman", Noordin M. Top, anggota dari kelompok yang disebut dengan "Jemaah Islamiyah" (JI), "operasi waralaba" Al Qaeda di Asia Tenggara.


Berbagai analisis dari pengamat intelijen, pengamat gerakan Islam, dan bahkan mantan Kepala Densus 88 Anti Teror pun mewarnai liputan-liputan media massa. Terlepas dari apakah Noordin bergerak sebagai "independent peer" dengan membentuk jaringan baru bernama "Tanzim Qaidatul Jihad" (nama yang mirip dengan Al Qaeda) yang berada di luar JI, semua analisis tersebut seperti mengabaikan proses bagaimana JI "terbentuk" dan siapa-siapa saja yang menjadi tulang punggung dari "organisasi" tersebut?

Dalam sebuah assessment-nya pada akhir tahun 2004, Badan Intelijen Negara (BIN) pernah mengindikasikan bahwa warga negara Indonesia yang terkait dengan jaringan teroris internasional adalah mereka yang pernah pergi ke perbatasan Pakistan-Afghanistan dalam beberapa tahap selama dan menyusul invasi Uni-Soviet ke Afghanistan antara akhir 1970-an hingga awal 1990-an. Mereka berjumlah sekitar 200 orang dan setelah kembali dikenal dengan "alumni Afghan".

Menurut BIN, selama berada di perbatasan Pak-Afghan pada periode tahun-tahun tersebut, orang-orang ini mendapatkan berbagai pelatihan kemiliteran dari "Al Qaeda", termasuk di antaranya pelatihan merakit berbagai jenis bom. Dari sekitar 200 orang tersebut, masih menurut BIN, sebagiannya bergabung dengan JI, dan menjadi tulang punggung kelompok yang awalnya berbasis di Johor, Malaysia, itu.

Namun, yang tidak disebutkan dalam assessment BIN di atas adalah apa yang dimaksud dengan "Al Qaeda" pada periode tahun-tahun tersebut; dan bagaimana "Universitas Jihad" yang berlangsung di Peshawar (perbatasan Pak-Afghan) bisa terbentuk?

Robert Dreyfuss dalam investigasinya, yang kemudian dibukukan dengan judul Devil's Game: How the United States Helped Unleash Fundamentalist Islam menyajikan ulasan tentang bagaimana pemerintah Amerika Serikat (via CIA) bekerja sama dengan pemerintah Arab Saudi (via Mukhabarat di bawah pimpin Pangeran Turki bin Faisal al-Saud yang memiliki kontak dengan Osama bin Laden) dan rezim Ziaul Haq Pakistan (via Inter-Services Intelligence di bawah pimpinan Jenderal Hamid Gul) memobilisasi orang-orang lintas-negara untuk memerangi Soviet di Afghanistan. Polanya: Turki dan Osama menyediakan dana; CIA menyediakan logistik dan persenjataan; dan ISI menyediakan lokasi dan pelatihannya. Inilah bentuk pelatihan yang kerap disebut sebagai "universal university of jihad" dimana mobilisasi orang-orang dari lintas-negara terjadi, dan yang kemudian menjadi cikal bakal bagi "Al Qaeda".

Momen "aliansi aneh" di Peshawar itu bagaimanapun memberi keuntungan, bukan semata bagi mereka yang mendapatkan pelatihan tetapi juga bagi CIA dan intelijen-intelijen dari negara-negara yang terlibat. Mereka mendapatkan pelatihan akan menguasai berbagai teknik militer (termasuk teknik merakit bom) dan bergabung dengan jaringan organisasi-organisasi "militan" internasional. Sementara bagi CIA dan intelijen-intelijen negara-negara tertentu, jaringan para "militan" internasional ini amat penting untuk sewaktu-waktu digunakan bagi kepentingan-kepentingan mereka secara tidak langsung.

Beberapa indikasi bisa menjelaskan bagaimana elemen-elemen CIA dan intelijen-intelijen negara tertentu memanfaatkan jaringan tersebut demi kepentingan mereka. kasus Michael Terence Meiring bisa menjadi contoh. Menurut sejumlah laporan, Meiring memiliki hubungan dengan pihak-pihak yang "unik". Dia memiliki hubungan dekat dengan pejabat-pejabat pemerintah Filipina di Mindanao tapi di saat yang sama dilaporkan juga memiliki hubungan dengan pemimpin-pemimpin MNLF, MILF, dan kelompok Abu Sayyaf. Bahkan Meiring dikabarkan pernah ikut membidani pelatihan merakit bom di kamp Mindanao yang melibatkan beberapa individu (baik eks "alumni Afghan" maupun bukan) dari Indonesia.

Meiring pada akhir Desember 2001 secara mencurigakan "diterbangkan" keluar Filipina oleh FBI setelah terluka akibat bom yang meledak di kamarnya, kamar 305 Evergreen Hotel, Davao City. Kasus Meiring sepintas mirip dengan kasus penangkapan misterius Umar al-Farouq di Bogor yang kemudian diterbangkan secara misterius pula ke AS. Atau kasus penangkapan warga negara Indonesia Encep Nurjaman alias Ridwan Isamuddin alias Hambali oleh CIA di Thailand yang kemudian secara ekstrajudisial diterbangkan ke "dark sites" di AS (secara resmi kemudian dinyatakan ditahan di penjara Guantanamo). AS menolak keinginan polisi Indonesia untuk menghadirkan Hambali dalam persidangan kasus Abu Bakar Baasyir, padahal Hambali adalah warga negara Indonesia.

Itu satu persoalan. Persoalan yang jauh lebih penting dari masa lalu adalah: apakah pihak intelijen Indonesia (baik dari unsur intelijen sipil ataupun militer) terlibat dalam mobilisasi warga negaranya ke Pak-Afghan pada periode-periode yang dimaksud? Atau apakah setidaknya pihak intelijen Indonesia di bawah rezim Soeharto yang demikian cemas akan "ekstrim kanan" mengetahui mobilisasi tersebut? Jika tahu, mengapa mereka membiarkan warga negara Indonesia pergi ke zona konflik? Bukankah ini melanggar perintah konstitusi yang mengharuskan pemerintah melindungi warga negaranya (alasan ini pernah dikemukakan ketika pemerintah SBY menolak memberi akses bagi warga negara Indonesia yang ingin berperang di Jalur Gaza)?

Para mantan pejabat intelijen di era itu (entah yang kini sudah pensiun total atau yang masih aktif sebagai pejabat negara) harus menjelaskan dan bertanggung jawab akan hal ini. Jika para "alumni Afghan" kerap dijadikan tertuduh (ketika terjadi teror bom) karena masa lalu mereka, maka bukankah para mantan pejabat intelijen itu juga mesti bertanggung jawab?

"Blast from the Past" bukan sekedar cerita dari masa lalu, tetapi harus menjadi pelajaran agar kita tidak mengulanginya. Filosof George Santayana berujar, "Those who cannot remember the past are condemned to repeat it."

Labels: , , , , , , , ,

Comments:
Para mantan pejabat intelijen di era itu (entah yang kini sudah pensiun total atau yang masih aktif sebagai pejabat negara) harus menjelaskan dan bertanggung jawab akan hal ini

i'm totally agree
 
Saya rasa ini bukan pengaruh intelijen ini adalah murni pola perubahan kekuatan global yang menuntut terciptanya era perdagangan bebas,, untuk masalah perang terhadap teroris dan mengkambing hitamkan dunia islam ini adalah upaya untuk menghambat perdagangan bebas tersebut, bangkitnya ASIA era teknologi sekarang menunjukan bahwa ASIA salah satu kekuatan dunia yang patut diperhitungkan dikancah percaturan kekuatan dunia, sebenarnya Amerika sendiri kualahan menghadapi kekuatan ASIA jadi wajarlah kalu beliau berusaha mempertahankan diri dengan mengkambinghitamkan islam .....
kalo menurut politik indonesia untuk menghadapi dunia ya paling tepat kalu memilih "demokrasi" dan kalu urusan orang melayu bodoh saya rasa enggak juga, kalu lihat sejarahnya mojopahit dan ceritanya saya rasa bangga juga sebagai bangsa melayu,, kekuatan militer diindonesia soal strategi jangan kuatirlahh cuman sayangnya soal teknologi aja yang kurang,, coba kalu bangsa ini menciptakan ilmuwan baru pastilah kita jaya,,, tapi kita lebihh seneng beli teknologi daripada membuatnya.. bener juga karena "negeri kita kaya"
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters