Agama, Negara dan Bangsa » INTELIJEN INDONESIA

Saturday, January 16, 2010

Agama, Negara dan Bangsa

Sebuah komentar terhadap artikel Gus...Semoga tidaklah terdengar baru ataupun aneh bagi bangsa Indonesia yang sudah demokratis. Kurang lebih kritikan sekaligs kekecewaan terhadap artikel Blog I-I tersebut sbb:

"inget pak agama bukan buatan manusia,islam terpecah belah dan kacau karena orang2 macam gusdur dan mungkin juga anda yang memahami agama dengan pikiran sendiri...beda kepala,beda pemahaman..."

Ada beberapa hal yang sangat penting yang perlu saya klarifikasi di sini:

Pertama, saya setuju bahwa agama bukan buatan manusia. Namun sesungguhnya bila Tuhan menghendaki kita akan hanya memiliki satu agama, tetapi mengapa terdapat begitu banyak keyakinan dan agama di dunia ini? Bahkan dalam satu agamapun terdapat begitu banyak cabang/aliran. Bagi saya urusan agama adalah sesuatu yang sangat intim di dalam bathin kita dalam hubungan kita dengan Tuhan, setelah itu menjadi mantap akan memancar dalam perilaku yang terjaga dari perbuatan yang jahat atau keji di dunia ini, bahkan mewujud menjadi penerang bagi orang lain atau masyarakat. Namun hal itu tidak mudah bukan? Karena mayoritas umat manusia terjebak dalam teks hukum agama, baru berada pada level permukaan dalam memahami hakikat beragama serta terlalu khawatir dengan pengaruh dari luar sehingga kita lebih senang membangun tembok pemisah sesama umat manusia, serta membangun komunitas ekslusif yang memiliki keyakinan yang sama. Sementara cara kita melihat keyakinan yang berbeda cenderung bermusuhan. Bagaimana watak rahmat untuk alam semesta dapat mewujud dalam perilaku kita apabila sikap bermusuhan dominan?

Setiap manusia memahami agama bukan hanya bersandar pada teks kitab suci semata, melainkan juga diwarnai oleh perjalanan hidup yang berisi pengalaman dalam interaksi dengan Tuhan, manusia, alam semesta, dll berbagai hal di sekeliling kita. Setiap pagi kita bangun dari tidur, adalah momen-momen yang selalu baru dan waktu kita habis tidak dapat diulangi dan tercatat sebagai perbuatan, demikian terus dalam suasana yang selalu baru dalam perputaran dimensi waktu sehingga akhirnya kita kembali kepada Yang Maha Kuasa.

Hal ini bagi saya bukan suatu interpretasi bebas, tanpa memperhatikan kaidah-kaidah dan hukum agama. Seluruh agama di dunia ini mengalami perpecahan sebagai akibat dari tingkat pemahaman yang berbeda-beda, namun kita tidak perlu melangkah ke dalam sikap bermusuhan bukan? Atas alasan apa kita berhak menghakimi orang lain karena keimanan yang berbeda? Apakah kita berhak mengambil posisi Tuhan dalam menilai sesama manusia?

Hal ini juga bukan suatu sikap untuk semata-mata bersandar pada kekuatan manusiawi berupa pemahaman akan dan pikiran. Melainkan juga perlu ada bimbingan dari kebijakan yang lahir begitu saja di dalam bathin setiap manusia yang mau berusaha untuk mencapainya.

Kedua, konteks artikel saya tentang Gus Dur lebih banyak sebagai penghormatan simbolis karena saya tidak dapat menemuinya secara langsung sebelum beliau meninggalkan alam yang fana ini. Selain itu, konteksnya adalah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta bukan dalam konteks kehidupan beragama Islam.

Anda menyebut generasi sahabat Rasulullah sebagai masa yang membuat umat Islam baik, tetapi apakah anda pernah membaca kisah-kisah sejarah periode sahabat Rasul? Mengapa Umar RA, Ustman RA, Ali RA, semuanya dibunuh pada akhir masa pemerintahannya? Jawabannya adalah kepentingan Politik Kekuasaan dan perbedaan pendapat baik di dalam umat Islam maupun sebagai akibat adanya penyusupan dari musuh-musuh Islam di masa itu. Akan lebih tepat apabila kita secara jujur mengakui bahwa periode sahabat Rasul adalah periode perjuangan awal paska Rasul untuk memantapkan keberlanjutan agama Islam yang kemudian berkembang ke seluruh dunia.

Ingat, dalam konteks beragama tidak ada keraguan bahwa umat terdahulu memiliki kualitas beragama yang patut ditauladani, namun dalam urusan berbagangsa dan bernegara pernah terjadi bencana besar bukan? Apakah umat Islam Indonesia akan mengulangi sejarah dengan terus-menerus bermusuhan sebagai akibat dari perbedaan?

Saya tidak menganjurkan untuk memelihara perbedaan karena hal itu ada sebagai sebuah realita dari umat manusia, tetapi saya juga tidak menganjurkan dilakukannya pemaksaan untuk penyeragaman keyakinan karena hal ini sama saja dengan memmbangun bom waktu permusuhan yang semakin dalam. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kita perlu memproses sebuah cara pandang dalam identifikasi diri kita, masyarakat kita, bangsa kita dalam identitas Indonesia, namun hal itu tidak menghilangkan ciri atau identitas khusus dalam beragama, bersuku bangsa dan berkeyakinan. Problem besar dari masyarakat komunal seperti di Indonesia, adalah hampir selalu muncul ide di benak kita bahwa yang terbaik adalah keseragaman, padahal hal itu akan menghabiskan waktu kita untuk kemajuan bangsa Indonesia. Untuk kemajuan bangsa, yang diperlukan adalah saling menghormati, saling percaya dan bersatu dalam mewujudkan cita-cita bersama yaitu bangsa Indonesia yang maju. Apakah hal itu bertentangan dengan keyakinan beragama kita? Silahkan anda pikirkan dengan juga mempertimbangkan bahwa jutaan saudara kita masih hidup dalam kemiskinan, bukankah agama mengajarkan untuk berbuat baik, menyantuni anak yatim piatu, menolong orang miskin. Pernahkah kita berpikir untuk menolong saudara kita yang miskin?

Semoga hal ini dapat menjawab kritikan rekan-rekan Blog I-I yang memiliki pertanyaan dan kritikan yang serupa.

Senopati Wirang

Labels: ,

Comments:
Negara kesatuan bisa terganggu dalam situasi persaingan antar golongan tersebut. Paham negara kesatuan yang menempatkan kepentingan nasional di atas kepentingan golongan (konteks berbangsa dan bernegara), menjadi lemah ketika kepentingan golongan agama tertentu menjadi isu utama yang diperjuangkan. Bila dilihat dari hakekat yang diperjuangkan, kadang-kadang sudah melampaui batas-batas kedaulatan negara, karena jangkauannya bukan lagi hanya sebatas negara, tetapi memperjuangkan kepentingan politik suatu agama di seluruh dunia. Mereka bukan lagi berjuang untuk kepentingan masyarakat majemuk dalam lingkup negaranya, sehingga justru menciptakan ketidakadilan bagi golongan lain.

Padahal, prinsip keadilan merupakan perekat yang kuat dalam mengikat persatuan suatu bangsa. Dalam hal ini, bukan hanya keadilan materi, tetapi juga keadilan yang menyangkut rasa. Dengan demikian, nasionalisme (kesetiaan tertinggi kepada negara) acapkali terabaikan, hingga golongan lain pun terpaksa mengambil sikap yang sama. Solidaritas keagamaan sudah lebih menonjol ketimbang solidaritas kebangsaan (sekali lagi, dalam konteks berbangsa dan bernegara). Kalau fenomena seperti ini terus-menerus terjadi di suatu negara maka ancaman disintegrasi akan selalu menghantui negara itu.



Konsentrasi terhadap "persaingan" yang dilatarbelakangi kecurigaan dan persaingan telah mengubah peran sentral agama sebagai sumber moralitas umatnya menjadi condong sebagai alat politik.

Oleh karena itu, apabila suatu negara ingin tetap bersatu dan ingin seiring sejalan dalam membangun bangsa secara keseluruhan maka sudah saatnya kecurigaan-kecurigaan maupun persaingan (politik) diantara agama dihilangkan. Agama perlu dikembalikan kepada fungsi utamanya dalam bernegara, yaitu menjadi landasan moral bagi setiap manusia, termasuk para pemimpin negara.
 
Pemikiran yang hebat..mendalam dan luas...tidak banyak orang yg berpikiran luas seperti anda pak, saya sangat salut dan kagum dengan pemikiran bapak..
 
Memang kita harus hidup saling bertoleransi, tapi dalam hal-hal muamalah.Sedangkan dalam hal agama tidak ada toleransi,karena yang haq itu sudah pasti dan yang bathil sudah jelas.Tidak boleh adanya pencampuran dari dua hal tersebut.Selama manusia tidak rela orang islam melaksanakan agamanya dengan baik maka selamanya mereka akan bertahan.
 
I agree with your opinion, dalam ber bangsa dan bernegara, kita harus bisa saling memahami bila terdapat perbedaan, tidak bisa memaksakan suatu kehendak kepada orang lain, menggeser norma-norma sebagai ciri bangsa Indonesia dengan menggantikan dengan pemahaman yang bersifat eksklusif, negara Indonesia memiliki jutaan penduduk dengan keaneka ragaman, Negara Indonesia harus tetap berdiri, jangan tercabik oleh sebuah kepentingan sekelompok golongan yang ingin menanamkan kepentingannya, kita harus memupuk dan meningkatkan rasa nasionalisme yang belakangan ini hampir pudar tersusupi oleh sebuah pemahaman eksklusif, yang lama-lama akan menggeser identitas asli bangsa Indonesia, semua harus bersatu bertekad mempertahankan negara Indonesia seperti apa yang diinginkan oleh founding father negara Indonesia, walau berbeda kita harus tetap satu untuk negara tercinta Indonesia, menjadi kan kembali Indonesia sebagai macan asia yang disegani oleh negara lain
 
SUDAH PAS, JIKA KITA HARUS INGAT, BAHWA DOKTRIN EROPA BARAT LAH YANG BERDENGUNG DI HATI KITA:
AGAMA ADALAH PRODUK BUDAYA.
BAGI ORANG YANG MERASA TERNYAMANKAN OLEH EFEK ITU, MEREKA AKAN MUDAH MENALARKAN KEBERAGAMAN DENGAN PENYATUAN PERSEPSI. HINA. SANGAT HINA. PLURALISME DI BANGUN, DI BERI KURSI, DI BERI APPLOUS SEDEMIKIAN RUPA. HINGGA NAMPAKLAH KEDANGKALAN PIKIR ITU MENJIWAI MANUSIA BERGELAR DOKTOR DAN PROF. AMERIKA PUNYA. ANTEK THE NEW WORLD ORDER. MEREKA SUDAH MENDZOLIMI UMMAT....NA'UDZUBILLAH MIN DZALIK....FREEMASON BUKANLAH RUMOR SAUDARAKU...IA ADA DIMANA-MANA, BAHKAN DALAM KESATUAN KITA INI SEKALIPUN....
XXXXX LIBERAL HARUS DIBERANGUS. TANPA KECUALI. KEDINASAN DENGAN ISRAEL ADALAH PELECEHAN!!!!
TIDAK ADA YANG LEBIH BUSUK DIBANDING PENGKHIANAT!!!!
JAYALAH NKRI
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters