Gus...semoga bangsa Indonesia memahami bagaimana berpikir di luar kotak » INTELIJEN INDONESIA

Thursday, January 07, 2010

Gus...semoga bangsa Indonesia memahami bagaimana berpikir di luar kotak

Sejak terakhir menulis Blog I-I sekitar akhir bulan November tahun 2009, telah begitu banyak hiruk pikuk nasional Indonesia yang membuat hati bangsa Indonesia bertanya-tanya, mengapa perjalanan kita masih saja terseok-seok oleh perilaku politik kebijakan yang blunder dan terjadinya penyalahgunaan wewenang serta korupsi yang semakin memiskinkan bangsa Indonesia. Blog I-I bahkan membatalkan artikel tentang Bank Century, KPK, Polri, Pembunuhan Kelly Kwalik, Arogansi Freeport, perang lokal di Timika, reformasi TNI dan Polri, stagnasi Intelijen nasional, fanatisme agama yang mendorong terjadinya kekerasan, serta sumirnya prioritas Pemerintahan SBY babak II karena penetapan prioritas tersebut tidak disertai langkah-langkah praktis, taktis yang meyakinkan yang seharusnya dilandasi oleh strategi jangka panjang dengan ukuran rencana pencapaian yang jelas.

Blog I-I melewati kesempatan menuliskan refleksi akhir tahun 2009 dan perkiraan keadaan 2010. Blog I-I juga melewati moment penyampaian ucapan selamat tahun baru hijriah, ucapan selamat natal, serta ucapan selamat tahun baru 2010. Karena setelah memuat sekitar 300 artikel pendek dalam Blog I-I, awalnya saya pikir sudah cukup memancing idealisme generasi muda Indonesia, membakar keberanian generasi muda Indonesia, memantapkan prinsip progressif generasi muda Indonesia, menguatkan percaya diri generasi muda Indonesia, serta membangun mentalitas positif, modern, cerdas, serta berkepribadian yang akan mengangkat derajat kemajuan bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Apa yang terjadi ? sebagian besar sahabat Blog I-I masih belum mengerti, dan sekitar 400.000-an kunjungan entah dari berapa ribu elemen bangsa Indonesia yang pernah membaca Blog I-I mungkin hanya sambil lalu tanpa pernah terlalu serius memikirkan bahwa perubahan harus dilakukan sekarang karena masa depan bangsa Indonesia ditentukan oleh perbuatan kita sekarang.

Dari sisi lain, beberapa sahabat senior Blog I-I meminta kedewasaan dan pengertian agar Blog I-I tidak menambah pandangan negatif publik terhadap kinerja pemerintah. Tentu saja Blog I-I paham dan mengerti bahwa pemerintah memerlukan ruang untuk bernafas dalam mengerjakan kewajibannya. Di saat yang bersamaan saya secara pribadi perlahan-lahan digerogoti pesimisme karena dari hari ke hari perjalanan bangsa Indonesia bukan saja jalan di tempat, melainkan berputar-putar dalam suatu keadaan seperti tidak mengerti ingin kemana.

Artikel ini juga berangkat dari keheningan paska kepergian almarhum Abdurrahman Wahid yang akrab kita panggil Gus Dur, sehingga meski saya tidak dapat menyempatkan diri memberikan salam penghormatan secara langsung karena keterbatasan kondisi saya, namun doa-doa tetap terpanjatkan mengiringi langkah perjalanan Gus Dur yang telah memperkaya khazanah pemikiran asli Indonesia dengan jati diri kebangsaan, religi, moral, serta kesungguhan dalam memikirkan nasib bangsa Indonesia.


Mengapa saya memberi judul Gus...semoga bangsa Indonesia memahami bagaimana berpikir di luar kotak? karena artikel ini juga doa bagi bangsa Indonesia, sebuah amalan legacy cara berpikir Gus Dur yang kontroversial namun memiliki orisinalitas kepedulian, yang keluar dari pakem kebiasaan bangsa Indonesia berpikir yang terlalu linear dan hitam-putih.

Berpikir di luar kotak tidak identik dengan pemikiran liberal yang menerobos seluruh batasan prinsip agama, adat istiadat, serta mendewakan kebebasan individu yang menghancurkan tatanan hubungan sosial sesuai dengan budaya bangsa Indonesia. Apa yang pernah Gus Dur contohkan dalam berpikir di luar kotak adalah kreatifitas pemahaman terhadap suatu masalah yang masih dapat diperdebatkan tanpa memaksakan suatu kebenaran mutlak karena kebenaran mutlak bagaimanapun mayoritas bangsa Indonesia meyakini milik Yang Maha Kuasa. Melalui proses yang memperkaya khazanah cara pandang, cara memahami dan cara menyelesaikan suatu persoalan tersebut, sebenarnya kita sebagai bangsa akan membangun budaya saling menghargai pendapat dan keyakinan yang dapat membukakan pintu dari persoalan yang melilit bangsa Indonesia.

Kita perlu melalui suatu proses beradu argumentasi secara baik, logis dan saling menghormati, sehingga suatu keputusan nasional dapat dijamin didasari oleh kepentingan nasional (bangsa dan negara). Dalam soal pluralitas dan perbedaan yang merupakan fakta sejarah terciptanya dan adanya bangsa Indonesia, janganlah hal ini menjadi gangguan atau hambatan, sebaliknya justru menjadi modalitas bangsa dalam menyusun kembali keIndonesiaan kita, jati diri bangsa Indonesia yang plural, agamis dan santun dan menempuh langkah dialog damai dalam penyelesaian suatu konflik.

Tidak dapat dipungkiri bahwa bangsa Indonesia juga memiliki sifat rasisme yang relatif tinggi antar etnis, memiliki kecurigaan yang tinggi antar agama, serta memiliki emosi yang kurang terkendali ketika konflik tercipta, khususnya apabila darah sudah menetes.

Bangsa Indonesia juga memiliki mentalitas gerbong alias pengikut serta bukan lokomotif, sehingga tidak memiliki keyakinan dan kepercayaan pada dirinya sendiri. Hal ini memudahkan terjadinya gerakan-gerakan massa yang sebenarnya hanya ikut-ikutan belaka tanpa memahami gerakan yang diikutinya akan bergerak kemana. Saya ingat Gus Dur pernah menyampaikan "...lha kalo saya salah siapa suruh ikuti saya?"

Feodalisme, struktur sosial masyarakat petani dan masih banyaknya msyarakat yang kurang dalam hal pendidikan merupakan identitas bangsa Indonesia yang sayangnya hingga saat ini masih dimanfaatkan untuk isu-isu politik. Feodalisme tersebut adalah kotak. Kepentingan politik sempit juga kotak. Berpikirlah untuk membangun bangsa secara sungguh-sungguh dengan saling sharing pengetahuan guna mencerdaskan bangsa Indonesia secara massal...berbondong-bondong dan janganlah pelit berbagi ilmu kepada sesama anak bangsa sehingga kita sebagai bangsa akan memiliki perasaan satu persaudaraan yang kuat.

Pernahkah sahabat berpikir mengapa saudara kita di Aceh. Maluku dan Papua sebagian masih memiliki perasaan tidak satu persaudaraan, hal itu tidak lain karena perlakuan kita juga, karena masih kuatnya perasaan berbeda dan tidak sungguh-sungguh tulus merangkul dalam persahabatan. Mengapa kita membiarkan kekayaan alam saudara kita dicuri secara legal, sementara nasib saudara-saudara kita tersebut terlantar bahkan ada yang terbunuh karena memperjuangkan keyakinan yang berbeda?

Sekali lagi, kita perlu berpikir di luar kotak stabilitas nasional yang represif, diluar kebijakan keamanan yang membunuhi rakyatnya sendiri, diluar ketakutan terjadinya Timor Leste kedua. Apabila Negara Demokrasi Indonesia Raya mampu mereformasi dirinya, mereformasi birokrasinya, mereformasi mentalitas rakyatnya, rakyat Timor Leste sungguh akan sangat menyesal karena memisahkan diri dari Indonesia.

Dalam isu ekonomi, mengapa dikotomi ekonomi liberal kapitalis dan kerakyatan (sosialis) dipertajam ? padahal kita sebagai bangsa seharusnya berpikir strategis yang berangkat dari kebutuhan dan kepentingan nasional, artinya kita jangan terjebak dengan jargon-jargon kepentingan kelompok politik. Akan sangat bermanfaat bagi bangsa Indonesia apabila pandangan yang dipertentangkan dalam cara mencapai kesejahteraan bangsa tersebut kita kaji bersama sehingga akan lahir suatu strategi ekonomi nasional yang memperjuangkan kepentingan kemakmuran bangsa Indonesia. Kita tidak dapat mengabaikan liberalisasi ekonomi global yang bergerak bagaikan gelombang, namun pada saat yang bersamaan kita juga memiliki kepentingan domestik yang luar biasa sehingga perlu adanya suatu pendekatan yang melindungi nasib perekonomian rakyat Indonesia. Lebih detailnya tentu kita memerlukan ahli ekonomi untuk menjelaskan dalam proses penyusunan kebijakannya. Semoga saja para ahli ekonomi kita tidak terjebak dalam arogansi intelektual masing-masing dan mau berkontribusi secara positif dengan niat baik mensejahterakan bangsa Indonesia.

Gus...komunitas intelijen pernah mengalami shock therapy dengan rencana pembubaran BIN, namun waktu itu saya segera memahami apa maksudnya. Sebuah rencana ekstrim yang seharusnya disikapi secara ekstrim pula dengan perbaikan dan reformasi intelijen, sehingga akuntabilitas lembaga intelijen dapat dipertanggungjawabkan kepada bangsa dan negara Indonesia.

Dalam soal beragama, kontroversi Gus Dur tentunya lebih luar biasa lagi. Namun semua dapat dijelaskan dalam kerangka berpikir di luar kotak. Sepintas lalu, barangkali kita menilai adanya kesembronoan dalam beragama yang dipraktikan gus Dur. Namun lebih jauh dilihat kembali, Gus Dur melangkah dalam keyakinan keimanan dan refleksi kemanusiaan yang mencoba melihat perbedaan beragama bukan dari teks sebagaimana mayoritas komunitas Muslim namun dari wisdom keIslamannya. Pada saat yang bersamaan Gus Dur juga menampilkan sisi manusia tidak ada yang sempurna dengan berbagai kotradiksi yang dapat kita pelajari sebagai sebuah proses dialog filosofis yang akan memperkokoh keyakinan kita terhadap sesuatu.

Saya bisa menuliskan berlembar-lembar contoh berpikir di luar kotak yang Gus Dur pernah tempuh, namun karena keterbatasan konsentrasi saya belakangan ini dan masih ada perasaan yang hilang, maka saya akhiri tulisan saya sampai disini. Semoga bermanfaat.

SW

Labels:

Comments:
“pikiran manusia adalah sebuah Kotak” .
 
pak, coba buka: http://www.youtube.com/watch?v=bPIf3LcuPPw

bagaimana menurut bapak?
 
Ibu Pertiwi sedang sakit keras, organ tubuhnya banyak yang tidak berfungsi semestinya. Mari bersama-sama meramu obat yang pas untuk Ibu Pertiwi tercinta.

elang
 
inget pak agama bukan buatan manusia,islam terpecah belah dan kacau karena orang2 macam gusdur dan mungkin juga anda yang memahami agama dengan pikiran sendiri...beda kepala,beda pemahaman...sungguh tidak akan baik umat ini kecuali apa yang membuat baik generasi pertamanya..yakni generasi sahabat rosulullah....kecewa banget baca artikel ini...anda sendiri mungkin sudah tau banyak sepak terjang gusdur ketika menjabat sebagai presiden....layak disebut dewa mabok...jalan aja mesti dituntun...bagaimana mau nuntun bangsa ini
 
Bappenas itu tempatnya doktor berkumpul dan berdiskusi tapi bagaimana implementasinya terhadap arah dan strategi pembangunan nasional kita.
 
Pengen punya domain .COM sendiri????
Baca info lengkapnya di Info Komputer
Ikuti langkah-langkahnya, dan dapatkan domain baru kamu!
100% gratis!
 
dua saudaraku di atas BENAR.
LEBIH-LEBIH, BANYAK INTELEKTUAL PELACUR, YANG MENGATAKAN "AGAMA ADALAH PRODUK BUDAYA"
NA'UDZUBILLAH MINDZALIK"
SEMOGA KITA SENANTIASA DALAM KETEGUHAN AQIDAH YANG BENAR. AMIN..
 
Sangat salut dengan usaha bapak mencerahkan bangsa ini.
 
Salut untuk kebaikan nawaitu/good will anda untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa-negara kita Indonesia lewat tulisan di blog beraroma hal-ihwal intelijen ini. Dalam hal ini saya sejalan dengan anda. Walau sebagai muslim, nasionalisme tidak saya fahami dan resapi secara membabi-buta dan picik.

Saya bisa memahami rasa hormat dan kehilangan anda terhadap sosok Gus Dur. Untuk hal yang satu ini, mohon maaf, saya tidak sepenuhnya sejalan dengan anda. Di mata saya, sebagai sosok kontroversial yang konon susah difahami, mungkin ada (sedikit banyaknya itu relatif) pemikiran dan aksi Gus Dur yang positif bagi bangsa dan ummat (Islam). Tapi, sekali lagi di mata analisis saya, ada (banyak sedikitnya itu relatif) pemikiran dan aksi beliau yang kontraproduktif baik bagi bangsa maupun ummat Islam. Sebagiannya mungkin tidak termaafkan. Tapi okeylah, kita ambil hikmah-pelajaran dari semua yang sudah lewat.

Last but not least, saya baru ketemu blog anda ini dan tertarik mengikutinya. Ke depan, mungkin kita sepaham sejalan. Mungkin berbeda bahkan bersimpang jalan. Berbeda toh bukan suatu dosa. O ya, saya orang awam yang tidak faham intel-intelan. Saya hanya percaya satu hal: bahwa profesi apapun --termasuk di dalamnya profesi intelijen-- bisa digunakan untuk memberi sebesar-besar kemashlahatan bagi ummat manusia. Baik dalam konteks nation, maupun global-mondial. Wallaahu a'lam bis shawab.
Salam
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters