Membangun Aliansi Strategis Intelijen dengan China » INTELIJEN INDONESIA

Thursday, March 04, 2010

Membangun Aliansi Strategis Intelijen dengan China

Dalam satu tahun, entah sudah berapa puluhan atau mungkin ratusan kali Intelijen Indonesia didekati oleh China. Baik dari tingkat Menteri maupun pelaksana operasi, People Republic of China melalui [deleted] mengadakan pertemuan, diskusi dan kerjasama dengan [deleted]. Situasi tersebut mengindikasikan bahwa keberhasilan China di bidang ekonomi telah meningkatkan percaya diri yang luar biasa yang mendorong intelijen China mulai menempuh langkah-langkah strategis merangkul seluruh kawasan Asia.

Bagaimana Intelijen Indonesia seharusnya mengambil sikap?

Memperhatikan kecilnya perhatian negara-negara Barat, dengan pengecualian Amerika Serikat (AS) di kawasan Asia Pasifik, maka sesungguhnya tidak terhidarkan lagi bagi Indonesia untuk mempertimbangkan terbukanya jalur-jalur komunikasi rahasia, sebagaimana pernah dibangun pada era Sukarno dengan Poros Jakarta-Peking. Salah satu pertimbangan yang kuat adalah fakta keberadaan etnis China warga negara Indonesia yang dapat menjadi perekat hubungan bilateral kedua negara apabila dikelola secara baik.

Bangsa Indonesia yang multikultural telah menempuh era baru dengan persaudaraan sejati antar etnis, darimana-pun kita berasal apakah itu rumpun Melayu, Chinese, Melanesian, Arab, dll adalah tetap satu Indonesia. Faktor persatuan Indonesia tersebut pernah dikoyak-koyak oleh Amerika Serikat dan Inggris dengan peristiwa bersejarah 1965, dimana perang ideologi komunisme-liberal telah membuat hubungan harmoni sesama anak bangsa Indonesia hancur hingga bertahun tahun dalam suatu bahaya laten disintegrasi negara.

Betapapun manisnya tawaran dan bantuan negara-negara Barat, boleh dikatakan karena mereka merasa super dan lebih pandai, maka Indonesia telah berkali-kali ditipu dan dimanfaatkan dalam memelihara supremacy of the west. Hampir seluruh peristiwa kehancuran Indonesia raya diwarnai oleh campur tangan Barat, khususnya AS, Inggris dan Australia. Apakah Barat sungguh-sungguh ingin melihat Indonesia yang maju? tentu menjadi tanda tanya besar karena sejarah telah mencatat bahwa pembodohan terhadap Indonesia telah berulang kali terjadi dan sangat menyakitkan perjalanan bangsa Indonesia. Sesungguhnya mereka tidak akan pernah senang melihat kemajuan kita bukan?

Tidak lama lagi, supremacy of the west will be finished, dan perubahan konstelasi global tidak terhindarkan lagi. Propaganda clash of civilization yang secara canggih disusun telah membangun sebuah kecurigaan antar bangsa, termasuk dalam hubungan sesama anak bangsa Indonesia.

Sejarah sebenarnya juga pernah mencatat bahwa supremacy Kerajaan China juga cenderung dan hampir sama dengan Barat, mungkin hal ini sudah menjadi hukum alam. Dimana yang kuat mendominasi yang lemah atau bahkan mendiktenya.

Indonesia yang relatif sangat lemah secara militer adalah negara dengan mayoritas bangsa/penduduk yang berkarakter baik dan tidak macam-macam bahkan kurang memiliki cita-cita selain menikmati perjalanan hidup secara biasa saja. Hal itu telah menyebabkan sikap yang cenderung pasif dan tidak ekspansif. Selain itu, rendahnya kapabilitas baik secara intelektual (masih agak bodoh)maupun secara fisikal (kepemilikan unsur-unsur power), telah menciptakan Indonesia yang inward looking dan rendah hati (kadang menjadi rendah diri). Faktor-faktor tersebut menyebabkan reaksi-reaksi Indonesia mudah diukur dan mudah ditebak arahnya.

Penuh keraguan, kurang mengerti kepentingan nasional, tidak antisipatif, namun sangat reaktif manakala terjadi sesuatu yang mengganggu perasaan dan harga diri. Sayangnya karena lemah, maka hanya bisa teriak marah ataupun bahkan menangisi nasib sebagai bangsa yang lemah.

Benarkah kita bangsa yang lemah? TIDAK.

Kita bangsa yang bersikap menerima pada takdir Tuhan, apapun agama yang kita yakini dari luar (Hindu, Buddha,Islam, dan Kristen) hanya merupakan satu dari rangkaian mosaic dari jati diri bangsa Indonesia. Sikap tersebut melahirkan karakter lambat, menunda persoalan, dan bahkan lari dari kenyataan. Inilah yang menyebabkan kita tampak agak bodoh di dunia internasional bukan?

Siapa yang bertanggung jawab dalam sikap kita tersebut? adalah warisan sejarah ratusan tahun dimana kita lupa akan jati diri kita sebagai bangsa yang menerima takdir Tuhan, menjunjung tinggi nilai-nilai yang baik, serta saling kasih sayang dengan sesama manusia, menyayangi binatang dan alam semesta, serta tidak serakah dalam menikmati kehidupan duniawi. Kata kuncinya adalah sederhana.

Boleh dikatakan kehancuran kerajaan-kerajaan Nusantara sebagai akibat dari perang saudara lebih banyak dipengaruhi faktor pertempuran para elit di keluarga Istana, atau karena perselisihan yang kurang signifikan dan dapat didamaikan. Namun kehancuran moral bangsa-bangsa di Nusantara (sebelum lahirnya Indonesia) pertama kali terjadi adalah akibat penjajahan Belanda yang sangat kejam dan masih melekat bahkan dalam sifat kebangsaan kita yang saling curiga. Adalah Belanda yang mengajarkan kita tentang makna penghianatan dan saling membunuh sesama anak bangsa. Belanda juga mengajarkan kita bagaimana untuk menjadi serakah dan mengeksploitasi sesama anak bangsa. Belanda juga mengajarkan bagaimana memelihara konflik, bahkan Belanda mengajarkan bagaimana membangun sistem kenegaraan yang koruptif.

Setelah kita merdeka, apa yang terjadi ?

Bersambung......


Labels: ,

Comments:
Menunggu sambungannya...
 
cina oh cina...
sebentar lagi Indonesia akan menguasaimu
 
Great Blog..!!!! Keep Blogging.... :)
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters