Membangun Aliansi Strategis Intelijen dengan China (bagian 2) » INTELIJEN INDONESIA

Friday, March 05, 2010

Membangun Aliansi Strategis Intelijen dengan China (bagian 2)

Setelah kita merdeka, apa yang terjadi ?

Nasionalisme adalah karakter dasar yang kita bangun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Nasionalisme juga mempersatukan identitas keIndonesiaan, bahkan nasionalisme jugalah yang menyebabkan lahirnya negara Republik Indonesia (bukan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang digagas dalam perspektif militer).

Sejak awal lahirnya, Nasionalisme Indonesia tidak meniadakan identitas suku bangsa karena nasionalisme lebih dipandang sebagai kesamaan nasib dan cita-cita bersama. Dengan demikian nasionalisme Indonesia memberikan ruang yang luas kepada perbedaan ideologi (kapitalisme-liberalisme, komunisme-sosialisme, agama) dan itulah sebabnya Presiden Sukarno pernah menggagas Nasakom sebagai ideologi yang menggabungkan tiga kelompok besar dalam kekuatan politik dalam negeri dalam membawa perjalanan bangsa Indonesia, namun gagal karena unsur kapitalis-liberal kurang mendapatkan tempat yang seimbang.

Indonesia yang dilatih selama 350 tahun oleh Belanda untuk saling curiga dan saling bunuh, masih memiliki suasana psikologis mengambil titik ekstrim perbedaan serta kurang memperhatikan unsur yang mempererat persaudaraan sesama anak bangsa. Akibatnya setelah merdeka kita mulai memperlihatkan unsur-unsur permusuhan internal. Pada satu sisi, hal itu sangatlah wajar karena persaingan politik kekuasaan dan juga sektor ekonomi serta penguatan kelompok-kelompok elit. Saling curiga dan persaingan politik tersebut menyebabkan Indonesia melakukan eksperimen dengan berbagai model sistem pemerintahan dan perwakilan, mulai dari sentralisasi dan desentralisasi kekuasaan, berbagai model demokrasi (liberal, terpimpin, pancasila), namun sayangnya selama Orde Lama dan Orde Baru kita belum mampu membangun pondasi sistemik yang kuat yang dapat menjawab kegelisahan rakyat Indonesia dan pengaturan aturan main para elit negara di tingkat nasional dan lokal, sehingga semua model berjalan relatif singkat, bahkan Orde Baru juga hanya bertahan 32 tahun.

Setelah reformasi, 12-13 tahun berjalan Indonesia akhirnya memiliki sistem yang tampak lebih baik dengan berbagai penguatan aturan main dalam berbangsa dan bernegara yang secara adil dapat diterima kekuatan-kekuatan politik dalam negeri baik dari kelompok nasionalis, agama, liberalis, sosialis, etnis, dll. Sementara waktu, rakyat Indonesia dapat bernafas lega dan mulai...ya baru saja mulai membangun percaya diri tentang identitas dirinya sebagai bangsa yang meyakini Takdir Tuhan, berkarakter sederhana (tidak ambisius), meyakini nilai-nilai kebaikan universal, serta secara bertahap membangun kembali pondasi-pondasi kemajuan zaman dengan saling tolong-menolong dengan saling percaya dan saling menghormati walaupun dengan beragam perbedaan yang mewarnainya.

Dalam perjalanan tersebut, lagi-lagi unsur ekstrim perbedaan menguat...misalnya aspirasi agama dalam hal penerapan syariat Islam di ranah politik, aspirasi liberal dengan pasar bebas dan penerapan dasar-dasar kebebasan manusia ala Barat, aspirasi sosialisme Indonesia dengan mengutamakan kepentingan rakyat kecil, aspirasi etnisitas dengan penguatan identitas lokal, aspirasi keadilan yang mendorong perbaikan sistem hukum nasional, serta berbagai aspirasi lainnya yang lahir secara murni dalam kebebasan ekspresi bangsa Indonesia. Saya katakan ekstrim, karena aspirasi yang satu cenderung meniadakan aspirasi yang lain serta sangat sedikit terjadi dialog. Betapapun hebatnya Sri Mulyani dan Boediono sebagai arsitek perbaikan ekonomi Indonesia, akan sangat baik apabila kedua tokoh liberalisme Indonesia tersebut mulai menyentuh secara sungguh-sungguh pendekatan kesejahteraan bangsa Indonesia yang memperhatikan rakyat kecil, hal ini tidak perlu berada di tangan finansial melainkan mendorong keaktifan Departemen teknis seperti pertanian, tenaga kerja, perindustrian, perdagangan, dll dalam mendorong aktifitas yang produktif dari para pelaku ekonomi di tingkat pedesaan. Namun ingat, rakyat kita sangat sederhana dan cepat puas sehingga keberhasilan jangan diukur dari tingkat kepuasan. Selain itu, janganlah menggantikan kesederhanaan bangsa Indonesia dengan keserakahan sehingga akan membawa bangsa Indonesia seperti bangsa Barat yang kurang bermoral dalam melakukan kegiatan ekonomi.

Kata kunci moralitas dan etika dalam ekonomi adalah kepedulian dan menahan keserakahan. Artinya ada unsur saling menolong untuk memperkuat basis sosialis-liberal ala Indonesia, kurang masuk akal memang dalam memadukan liberal dan sosialisme karena salin bertolak belakang. Maksud saya dalam terminologi ini adalah keseimbangan dengan ukuran kapabilitas bangsa, kapabilitas rakyat kecil, dan kapabilitas nasional dan lokal dalam merespon dinamika ekonomi di tingkat lokal, nasional, maupun internasional.

Mengharapkan perilaku ekonomi yang etis memang seperti menghayal, bayangkan saja apabila anda seorang yang sangat kaya seperti Aburizal Bakri yang kebetulan perusahaannya menunggak pajak, tentunya dalam hal ini pemerintah harus tegas, tetapi bukan dengan tujuan memiskinkan atau mempermalukan Aburizal Bakri, melainkan mengingatkan secara santun bahwa pajak yang dibayar Aburizal akan sangat bermanfaat dan sungguh-sungguh mengalir untuk rakyat miskin Indonesia dengan peningkatan pelayanan publik. Dengan demikian, rakyat juga akan sangat berterima kasih kepada Aburizal dan juga pemerintah yang mampu melakukan pengelolaan secara baik.

Saling curiga, saling sakit hati, serta saling menjatuhkan dalam tataran elit politik dan ekonomi Indonesia membuat rakyat Indonesia menangis tanpa daya karena sangatlah sakit dan sedih bila harus menyaksikan kembali penundaan kemajuan Indonesia karena para elit politik saling berkelahi. Rakyat Indonesia yang sederhana mengharapkan adanya rekonsiliasi elit politik berdasarkan pada kepedulian dan saling menghormati, karena elit-elit politik yang wakil rakyat diharapkan mampu menyuarakan suara yang lebih murni daripada suara sumbang kepentingan pribadi yang terlalu kuat.

Pondasi ekonomi yang relatif baru segar kembali sejak pemulihan ekonomi 5-7 tahun ke belakang, tentu masih memiliki sejumlah kelemahan yang harus segera diperbaiki. Hanya dengan memberikan kesempatan kepada pemerintah untuk mengerjakan tugasnya dengan baik serta pengawasan kita bersama.

bersambung..........




Labels: , ,

Comments: Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters