Membangun Aliansi Strategis Intelijen dengan China (bagian 3) » INTELIJEN INDONESIA

Saturday, March 06, 2010

Membangun Aliansi Strategis Intelijen dengan China (bagian 3)

Pembangunan sebuah negara akan selalu diwarnai oleh berbagai kompetisi internal dan eksternal, sehingga terbuka sejumlah pilihan cara pencapaian kemajuan Indonesia Raya. Pengawasan yang saya maksudkan adalah bukan hanya melulu soal korupsi dan buruknya implementasi, melainkan juga dalam hal penentuan pilihan-pilihan terbaik yang dapat dilakukan oleh pemerintah bersama-sama segenap elemen bangsa Indonesia.


Otoriterisme dan militerisme yang dibimbing oleh niat baik, dan implementasi yang profesional dapat saja menjamin tercapainya kesejahteraan seperti negara kota Singapura atau China dengan partai komunismenya. Demokrasi dan liberalisme ekonomi juga bisa saja menjadi jalan dalam perwujudan kesejahteraan sebagaimana negara-negara Barat saat ini. Namun ingat pondasi yang kokoh yang dibangun di Barat seluruhnya berdasarkan otoriterisme sebelum abad 19 yang mampu memobilisasi kemajuan zaman, sementara Indonesia Raya (Nusantara) dijajah dan diperkosa secara biadab oleh Belanda.

Sejarah tidak akan pernah hilang dalam ingatan dan hati kita, hal ini bukan dendam, melainkan mimpi buruk yang diwariskan oleh luluhur kita melalui catatan DNA akan terus mengalir entah hingga generasi ke berapa. Akibatnya kita lahir dengan potensi generasi yang minder, bodoh, lambat, serta penuh kekacauan dalam menentukan langkah perjalanan kita.

Kita sebagai bangsa besar dengan mahakarya peninggalan bersejarah kerajaan-kerajaan Nusantara telah melupakan jadti diri yang sesungguhnya, sehingga kepribadian bangsa Indonesia yang percaya takdir Tuhan, baik dan sederhana namun maju dan profesional hilang ditelan sejarah. Indonesia adalah bangsa yang sedang tertatih-tatih melakukan transisi dan tranformasi untuk kembali mengenali jati dirinya.

Perhatikan bagaimana kita sebagai bangsa akhirnya juga mengikuti langkah negara-negara Barat dalam melakukan penjajahan kepada rakyatnya sendiri. Perhatikan bagaimana kita memperlakukan saudara kita di Timor-Timur, Aceh, Maluku, dan Papua. Berangkat dari warisan penjajahan Belanda yang menanamkan bibit permusuhan antar etnis di Indonesia, kita tanpa sadar memperlakukan saudara kita sendiri secara buruk. Seyogyanya hal itu tidak perlu terjadi andaikata saja kita cukup percaya diri dan memiliki keyakinan pada nilai-nilai kebaikan Nusantara. Kita tidak pernah membutuhkan tekanan Barat untuk transformasi diri kita andaikata saja kita membuka mata dan hati serta mendekati permasalahan secara obyektif dan sungguh-sungguh berupaya menyelesaikannya.

Kita selalu ketakutan bahwa kita akan berpisah satu dengan lainnya, atau ketakutan akan hancurnya Indonesia Raya, dan kecurigaan selalu kita arahkan kepada negara-negara Barat khususnya Amerika Serikat, Belanda dan Inggris. Sementara itu, sejarah modern Indonesia juga diwarnai ketakutan akan bahaya komunisme yang dihembuskan Barat pada tahun 1950-1960-an. Akibatnya kita sangat curiga kepada kelompok sosialis-komunis dan negara asing pembawa ideologi komunis seperti China dan Uni Soviet. Bahka Barat dengan jahatnya menjerumuskan kita ke dalam kebencian etnisitas kepada sesama rakyat Indonesia dari suku bangsa Tionghoa. Akibatnya kita saling menyerang dan membunuh, seiring dengan pembantaian sejumlah jenderal dan pembalasan pembantaian terhadap seluruh pimpinan Partai Komunis Indonesia. Operasi intelijen Barat sangat berhasil bukan? namun kita telah merobek-robek kembali persatuan Indonesia.

Peranan intelijen AS, Australia, Portugal dan Inggris di Timor Timur, peranan intelijen AS dan Inggris di Aceh, peranan intelijen Belanda di Maluku dan peranan intelijen AS, Australia dan Inggris di Papua sangatlah besar. Betapapun mereka tidak sungguh-sungguh ingin menolong Indonesia, buktinya tidak pernah ada satupun pembicaraan serius dari operasi intelijen asing di daerah konflik Indonesia tersebut dibahas secara transparan untuk menolong Indonesia. Bahkan secara cerdik digunakan untuk kepentingan eksploitasi kekayaan alam nusantara yang telah memiskinkan rakyat Indonesia yang hidup di daerah konflik tersebut.

Tugas pokok intelijen AS, Australis, Inggris dan kebanyakan negara Barat adalah untuk melindungi kepentingan ekonomi mereka, yakni eksploitasi (penajajahan modern) kekayaan alam Indonesia untuk mempertahankan supremasi ekonomi, politik dan militer mereka di dunia. Lagi-lagi Indonesia menampilkan wajah tolol dengan berterima kasih atas penajajahan tersebut.

Tidaklah mengherankan apabila elemen intelektual sosialis dan komunis Indonesia masuk ke daerah konflik dan memberikan pelatihan khusus untuk mengadakan perlawanan terhadap perusahaan multinasional sekaligus perlawanan terhadap pemerintah Indonesia dan menyuarakan kemerdekaan melalui pemisahaan diri dengan berlandaskan kepada konsep self-determination. Pemerintah Indonesia yang naif, militer yang berpandangan sempit, intelijen yang buta telah kecolongan di sana-sini, sehingga persoalan demi persoalan mengkristal menjadi sebuah ancaman laten yang sulit dihapuskan, akibatnya aparat tiba-tiba harus berhadapan dengan rakyat, padahal seharusnya aparat melindungi rakyat, namun anehnya terjadi juga penyerangan aparat oleh rakyat. Memusingkan bukan?

Intelijen asing yang melihat dinamika tersebut tersenyum puas melihat kebodohan kita yang mendorong kita sesama orang Indonesia berkelahi. Hal ini dapat saja mengkonfirmasi teori konspirasi yang tidak menginginkan Indonesia maju, namun saya kurang setuju karena semuanya justru berasal dari kebodohan dan emosi kita yang kurang terkendali manakala menghadapi masalah. Tidak mengherankan apabila kita masih saja bermimpi menemukan Ratu Adil untuk menyelamatkan Indonesia Raya, padahal Ratu Adil tersebut hanya akan lahir apabila kita bersama-sama mendorong suatu perubahan massal Indonesia Raya yang sadar akan jati dirinya sendiri.

Saya berbicara tentang jati diri, namun ketika melihat sistem pendidikan, rasanya kurang tampak kuat pembangunan identitas diri bangsa Indonesia berdasarkan kepada konstruksi sejarah yang dapat membuat kita bangga - pride (namun tidak sombong - arrogant)akan diri kita. Yang terjadi adalah sebaliknya, kita cenderung malu dengan diri kita sebagai bangsa Indonesia. Terlalu banyak catatan hitam dan kebodohan dalam sejarah kita, seyogyanyalah kita malu namun janganlah menghalangi kemajuan dan perubahan demi generasi muda Indonesia. Mungkin kemajuan Indonesia Raya tidak terjadi sekarang, tetapi akan terjadi pada 10-20-30 tahun mendatang, atau bahkan 100 tahun mendatang.

Di era reformasi yang telah membuka titik terang, kita masih menghadapi banyak persoalan dan pekerjaan rumah. Salah satunya adalah dalam menyikapi perdagangan bebas (Free Trade). Perdebatan sengit soal Persetujuan China - ASEAN Free Trade baru-baru ini mencerminkan masih kacaunya perencanaan pembangunan nasional Indonesia. Anggaplah Indonesia sudah tidak dapatlagi menarik diri dari keputusan untuk terjun ke dalam sistem ekonomi dunia yang liberal. Apa-apa saja yang perlu Indonesia persiapkan? Perencanaan macam apa yang harus disusun Indonesia ? serta bagaimana Indonesia mempersiapkan perekonomian nasional Indonesia yang kuat untuk dapat survive dalam gelombang perdagangan bebas? Pertanyaan tersebut sangat sulit apabila kita tidak atau belum mengetahui apa yang kita ingin lakukan, ingin perkuat, ingin fokuskan bukan? Akibatnya kita beradu argumentasi di titik yang salah, yaitu saat kritis menjelang implementasi perdagangan bebas, seharusnya adu argumentasi terjadi pada saat penyusunan persetujuan secara internal di dalam negeri, adu argumentasi juga seharusnya terjadi pada saat penyusunan rencana pembangunan yang mengantisipasi pasar bebas, serta bukan di ujung waktu pelaksanaan persetujuan.

Menarik diri dari persetujuan akan tampak tidak kredibel bahkan membuktikan kepada dunia tentang Indonesia yang merasa pintar tetapi sangatlah bodoh. Terjun bebas ke dalam persetujuan perdagangan bebas tanpa ada upaya penyelamatan sektor yang rawan juga akan menjadi bahan tertawaaan karena sama saja dengan pembunuhnan industri dalam negeri. Lantas apa yang dapat dilakukan? Perlu dilakukan segera dalam waktu singkat identifikasi sektor industri apa yang akan terhantam keras dan cari jalan keluarnya, barangkali masih ada kelonggaran dari negara mitra dagang untuk mempertimbangkan stabilitas industri dan perekonomian nasional. Entahlah saya juga kurang mengerti masalah ini, mudah-mudahan ekonom cerdas Indonesia di Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindutrian, serta berbagai pihak lainnya dapat menemukan jalan keluar yang baik.

Sekarang marilah kita tinjau aspek intelijen.

Bersambung....







Labels: , , ,

Comments:
Saya sangat setuju dengan gambaran senopati yg sangat mencengangkan, tapi bagaimana dengan G**** ******A?
 
Semoga sayap Garuda tetap kuat untuk terbang gagah di angkasa.

*God help us who are serving the country well*
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters