Smart Power Intelijen Indonesia » INTELIJEN INDONESIA

Wednesday, March 24, 2010

Smart Power Intelijen Indonesia

Dalam pelaksanaan operasi intelijen, sebuah lembaga intelijen biasanya melaksanakan konsep hard power (penggunaan kekerasan/senjata) misalnya operasi pembunuhan yang dilakukan CIA di Afghanistan dan Pakistan atau operasi yang dilakukan Mossad terhadap pimpinan Al Fatah dimasa lalu dan pimpinan Hamas baru-baru ini di Dubai, atau juga operasi pembunuhan yang dilakukan Служба Внешней Разведки. Efektifitas pembunuhan akan terasa apabila targetnya memang telah dianalisa secara mendalam akan sangat merusak kepentingan nasional sebuah negara dan tentu saja operasinya tidak akan pernah dapat dibuktikan di depan hukum. Ini adalah kepastian dan keharusan yang dipegang erat-erat oleh seluruh lembaga intelijen di dunia.

Tetapi mohon dicatat baik-baik prinsip berikut ini:

"Intelijen tidak berbicara untuk hak asasi manusia, namun tetap menghormati hak asasi manusia". Maknanya adalah setiap penggunaan hard power yang sungguh-sungguh menghancurkan lawan (musuh negara) tidak berdasarkan pada dendam pribadi, kepentingan kelompok atau individu dan bukan untuk menakut-nakuti rakyat kita sendiri. Sebaliknya operasi tersebut sungguh-sungguh ditargetkan kepada musuh bangsa yang terbukti secara meyakinkan dengan bukti-bukti nyata dapat menghancurkan masa depan bangsa kita. Perhatikan justifikasi entah berapa ratus atau ribu pembunuhan yang dilakukan CIA di seluruh dunia. Dengan kata lain, pelindung hukumnya adalah konsep PERANG. Intelijen juga melaksanakan eksekusi dalam sebuah peperangan bukan? bila tidak sebuah bangsa silahkan saja tenggelam dalam kepengecutan atau sifat kerdil yang selalu dipermalukan bangsa lain. Mengapa intelijen tidak dipenjara dalam ruang lingkup pengumpulan informasi saja? Hal ini merupakan konsep para pejuang HAM yang ketakutan dengan operasi intelijen yang berpotensi melanggar HAM, tetapi dalam menghadapi musuh bangsa yang dapat membahayakan HAM dari rakyat kita tentu boleh kita melakukan justifikasi untuk melaksanakan operasi menyelamatkan HAM dari bangsa kita bukan?

Pada kebanyakan lembaga intelijen di dunia saat ini, intelijen Hard Power telah direduksi ke dalam fungsi operasi militer dengan pasukan elit super khusus yang memiliki kemampuan individual yang sangat tinggi dalam melaksanakan operasi penyusupan dan penghilangan nyawa secara terpilih tersebut.

Apakah intelijen identik dengan operasi hard power tersebut?

Tentu saja tidak jawabnya. Intelijen juga melaksanakan operasi soft power yang lebih dikenal dengan penggalangan kepada seluruh elemen yang dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat Indonesia, untuk kepentingan bangsa dan negara kita.

Elemen itu berada baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Bagaimana caranya? tentu saja kita dapat melihatnya secara jelas dengan model-model operasi penggalangan opini melalui media massa yang berpengaruh, melalui rekrutmen agen dan akses yang dapat melancarkan negosiasi untuk kepentingan nasional kita, juga melalui berbagai program bantuan (keuangan, pendidikan, pelatihan, pembangunan), kerjasama, dll yang bertujuan memenangkan hati dan pikiran lawan sehingga simpati mengalir kepada bangsa dan negara kita. Jadi bukan melalui sikap bodoh yang konfrontatif dan menyinggung perasaan orang.

Intelijen soft power tersebut bersama-sama dengan operasi pengumpulan informasi dalam definisi klasik adalah kegiatan yang umum dilakukan oleh seluruh lembaga intelijen di dunia.

Hasil dari operasi tersebut kemudian menjadi bahan keterangan untuk diolah oleh analis intelijen yang memproduksi intelijen yang akurat bagi pegambil keputusan.

Adakah power yang lain?
Pada tahun 2006 Joseph Nye mengeluarkan konsep smart power yang didefinisikan secara singkat merupakan strategi kemenangan yang mengkombinasikan antara hard power dan soft power.

Silahkan baca dalam definisi smart power dalam versi aslinya menurut Nye:

"the ability to combine hard and soft power into a winning strategy."

Bagaimana implementasi dalam intelijen?

Ah ha ! saya terlalu banyak bertanya-tanya kepada diri sendiri yang kadang juga diwarnai pertanyaan apakah komunitas intelijen Indonesia mengerti apa yang sedang saya sampaikan ini.

Inti yang ingin saya sampaikan adalah terkait dengan kasus Munir yang tewas yang kemudian dituduhkan kepada dunia intelijen sebagai aktor yang menyusun skenarionya. Dalam diskusi saya dengan pimpinan intelijen Indonesia dan beberapa tokoh HAM nasional Indonesia yang tentu saja semuanya berlangsung secara rahasia, tampak bahwa ada upaya untuk menghancurkan lembaga intelijen Indonesia, dalam hal ini BIN. Selain itu, dan juga ada upaya individual berpengaruh yang memanfaatkan situasi untuk melindungi kepentingan pribadi atau menaikan posisi pribadinya. Telah sangat jelas bahwa secara hukum belum ada cukup bukti yang mengkaitkan dengan lembaga intelijen. Secara sekilas, dapat saja kita menilai bahwa oknum-oknum yang "mungkin" bertanggung jawab lepas dari tuntutan hukum. Namun dampaknya sangat berat bagi lembaga, yaitu berada dalam sorotan publik melalui kacamata pelanggaran HAM yang sesungguhnya akan sangat merugikan kepentingan bangsa Indonesia yang mendambakan lembaga intelijen yang profesional.

Sudah menjadi profesionalitas lembaga intelijen untuk tidak membuka kasus-kasus yang masih hangat, namun paling tidak dalam waktu 30-50 ke depan kita akan mengetahui kebenaran yang sesungguhnya dan keadilan akan ditegakkan bagi korban. Selain itu. lembaga intelijen juga tidak perlu risau dengan kasus-kasus yang dituduhkan secara sepihak tersebut, tidak perlu direspon dan tidak perlu dijawab, karena kita adalah intelijen. Percaya diri dan terus-menerus memperbaiki profesionalisme serta menghindari strategi yang kurang tepat dalam melindungi kepentingan nasional kita.

Sebuah contoh lain yang juga sangat mengganjal ada kasus Balibo 5 yang menewaskan wartawan asing dan Indonesia sebagai bangsa dan negara menanggung tuduhan sebagai pelanggar HAM selama bertahun-tahun, padahal hal itu seharusnya dapat diselesaikan secara mudah dengan pengungkapan fakta-fakta secara jujur dan menghormati keadilan bagi keluarga korban, toh sudah terjadi puluhan tahun yang lalu dan kita harus melihat masa depan. Hidup bangsa Indonesia dalam bayang-bayang sejarah hitam sangatlah tidak enak dan sangat mengganggu langkah kemajuan bangsa Indonesia sendiri.

Kembali pada smart power, sudah waktunya bagi Intelijen Indonesia untuk menata dan menyusun strategi peningkatan kapabilitas dan kemampuan operasional yang merupakan perpaduan antara hard power dan soft power (dalam definisi intelijen).

bersambung....


Salam Intelijen

Labels:

Comments:
Penggunaan smart power tampaknya memang pilihan yang baik dalam menyelesaikan tugas, tergantung nantinya mana yang lebih dominan dalam smart power tersebut, Hard Power kah? atau Smart Power?
mungkin gak ya, menggabungkan Hard power dan soft power secara seimbang?
 
Terima kasih untuk postingan ini, pengetahuan bertambah tentang smart power intelijen Indonesia
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters