Blog I-I Anti Teori Konspirasi? » INTELIJEN INDONESIA

Wednesday, April 07, 2010

Blog I-I Anti Teori Konspirasi?

Sebuah komentar cukup menggelitik saya untuk menuliskan artikel berikut ini. walaupun hanya sebuah, namun lumayan baik untuk dibahas agar kita semua semakin teliti dan mendalam dalam mengumpulkan informasi ataupun dalam proses analisa intelijen.

Komentar tersebut adalah sebagai beriku:

blog ini sama kaya website debunking911... yang intinya memberikan image jika para teori konspirasi itu hanya sekumpulan orang2 yang berimajinasi..tapi sayangnya "KAMI" 100% sadar dan masih setia dengan julukan pemercaya teori Konspirasi.. usaha yang bagus untuk merubah pemikiran dan menghilangkan prasangka tapi sayangnya tidak mempan


Bagaimana saya meresponnya?


Debunking911 termasuk website yang cukup baik dalam sudut pandang penyajian argumentasi, serta tentu saja didukung oleh biaya, riset, dan olah pemikiran serta teknik komunikasi yang baik pula. Tujuannya sangat tegas, yaitu menolak argumentasi teori konspirasi yang salah satunya menganggap bahwa peristiwa 9/11 bukanlah sebagaimana digambarkan di media massa sebagai serangan teror, melainkan sebuah rekayasa sejarah, dimana gedung yang sengaja diledakkan dengan alat peledak khusus kemudian digambarkan sebagai sebuah serangan teror menggunakan pesawat terbang yang dibajak.

Serangan teori konspirasi sangat sederhana yaitu logika bagaimana mungkin sebuah pesawat dapat meruntuhkan gedung yang tinggi hingga ke dasarnya hancur sama sekali. Berbagai pola penjelasan teknis mulai dari teori beban, ledakan, api dll dikemukakan oleh pengelola debunking yang jelas dibelakangnya adalah pemerintah AS (tidak resmi atau semacam sel) untuk meruntuhkan teori konspirasi.

Namun teori konspirasi tetap hidup. Saya sendiri pernah menyempatkan berdiskusi dengan sejumlah aktivis pendukung teori konspirasi di salah satu kota besar di AS. Kelompok pendukung teori konspirasi tersebut umumnya berasal dari kalangan aktivis kiri yang sangat kritis dan telah lama curiga dengan sepak terjang pemerintahnya sendiri (AS). Sangat meyakinkan, apa yang saya dengar cukup fakta dan analisa, dan hal inilah yang menyebabkan lahirnya kelompok debunking (kalau tidak salah yang besar ada 4 kelompok).

Teori konspirasi lebih menjelaskan kepada dugaan-dugaan kuat (bukan imajinasi) tentang adanya rekayasa dibalik peristiwa 9/11 dalam rangka justifikasi perang asimetris melawan kelompok teroris dan kebijakan preemptive dalam bentuk serangan keluar wilayah kedaulatan AS karena dianggap menjadi ancaman bagi keamanan nasional AS, misalnya serangan ke Irak dan Afghanistan.

Sementara itu, debunking sibuk menjelaskan kesalahan analisa dan dugaan teori konspirasi dengan argumentasi penyelidikan teknis, serta bukti-bukti eksistensi kelompok teroris yang melakukan serangan teror.

Dalam dunia wacana, Blog I-I menilai kedua kelompok tersebut hidup subur di masyarakat dunia, baik yang meyakini teori konspirasi maupun yang menolaknya. Hal ini kembali kepada kita masing-masing.

Posisi Blog I-I

Blog I-I sangat hati-hati dalam penyusunan artikel dan analisanya, tidak meremehkan teori konspirasi, namun juga tidak menolak keraguan kepada teori konspirasi. Dasar utama yang diyakini dalam Blog I-I adalah fakta dan penyelidikan serta analisa dan diskusi berkelanjutan dengan rekan-rekan, serta terbuka terhadap kritikan demi mencapai hasil analisa yang mendekati kebenaran. Karena sangat sulit dalam menemukan kebenaran sejati di dunia kita bukan? Kemudian, dalam perjalanan mencari kebenaran sejati yang kita coba dekati tersebut, Blog I-I juga tidak menyarankan kita untuk menghabiskan waktu pada isu tertentu saja, karena isu lain terus bergulir seiring dengan roda waktu dan tertulisnya catatan sejarah. Artinya kita juga harus selalu waspada dalam berbagai isu lain yang akan menghantam Indonesia Raya, khususnya bidang ekonomi karena kita masih memiliki PR yang sangat banyak dalam mensejahterakan rakyat Indonesia.

Ketika Blog I-I menyoroti Opus Supremus, yang Blog I-I dorong bukan pada isu konspirasi atau bukan, tetapi pada penyelidikan serius yang kita lakukan bersama dengan dukungan rakyat semesta Indonesia untuk membuktikan bahwa yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah, sehingga kita tidak lagi dapat dibodohi oleh pemutarbalikan fakta oleh mereka yang memiliki pengetahuan lebih.

Ketika Blog I-I menyoroti isu terorisme di Indonesia dan masalah gerakan Islam, hal ini bukan untuk melemahkan semangat umat Islam melainkan justru untuk mencerdaskan cara pandang agar lebih teliti dan sungguh-sungguh dalam turut serta membangun bangsa, sehingga elemen-elemen asing yang ingin menghancurkan Indonesia tidak berkutik lagi.

Ketika Blog I-I menyoroti kasus-kasus pelanggaran HAM, hal ini merupakan suatu introspeksi agar profesionalisme lebih dikedepankan daripada emosi dan kemarahan individual, sehingga kita tidak akan lagi mencoret sejarah nasional kita dengan pelanggaran HAM.

dst..dst..dst

Jadi, singkat kata Blog I-I tidak dalam posisi mempengaruhi rekan-rekan untuk meyakini sudut pandang konspiratif ataupun menolaknya, melainkan perlakukan berbagai teori yang berkembang di dunia ini sebagai pisau analisa (termasuk teori konspirasi) dan bukan sebagai keyakinan. Artinya, kita terbuka dengan berbagai kemungkinan. Teori tersebut boleh saja menjadi keyakinan ketika proses pembuktian telah kita lalui dengan sukses, yaitu melalui proses penelitian/penyelidikan, pengumpulan fakta-fakta keras, analisa dan berbagai kelengkapan lainnya. Jangankan peristiwa 9/11 yang mana kita jauh dari akses untuk melakukan penyelidikan, peristiwa sejarah Indonesia sejak merdeka saja masih banyak yang diwarnai oleh kontroversi sejarah bukan, lalu yang mana yang akan kita yakini?

Blog I-I bukan penganut teori tertentu sehingga tidak akan mempromosikannya untuk dijadikan keyakinan. Blog I-I hanya mendorong sahabat setia Blog I-I untuk berpikir kritis serta terus-menerus mengasah ketajaman analisa yang didukung oleh bahan keterangan yang memadai, sehingga produk yang akan disampaikan kepada pimpinan nasional Indonesia akan bermanfaat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sekian, semoga bermanfaat.
SW

Labels: , ,

Comments:
there is no choice,life must go on

maju terus om seno..

hidup sekali,harus berarti,sudah itu baru boleh mati..

sadarlah wahai sahabat nusantaraKU...
 
bagaimana dengan wikileaks ?. apakah itu juga konspirasi atau akal-akalan seseorang ?
 
“Dalam dunia yang penuh dengan jenderal yang aneh, politikus yang terbius...”, kata Alvin Toffler. Kemudian sambungnya, “Pengetahuan baru telah memutar balik dunia yang kita kenal dan mengguncang pilar-pilar kekuasaan yang menopangnya. Dengan melakukan survei atas reruntuhan tersebut, bersiap sekali lagi untuk menciptakan peradaban baru, kita semua kini berdiri di atas Landasan Kosong.
Sinyalemen perubahan dan pergeseran zaman tersebut tidak melulu harus disikapi dengan membiasakan diri dengan ketakutan. Yang terpenting adalah faham dan mengenali situasi diiringi dengan semangat koherensi.
Dalam gurat sejarah global dunia, nampaknya manusia hanya berhak menunggu untuk diterkam jaman, diikutsertakan dalam kurikulum peradaban, selanjutnya akan secara otomatis mengikuti seleksi alam. Segala yang tidak bertepatan dengan kebutuhan perubahan akan digilas dan dibikin tumbang.
Tentu saja begitu adanya, dari fakta yang ada, begitu banyak manusia menuai sukses hanya karena menang undian kesempatan nasib, buktinya banyak ekonom muda malah ngoprak di bengkel, sarjana sastra justru terbayar di lembaga-lembaga komputer. Akhirnya rumor tentang salah jurusan itu justru tidak pernah terbukti. Sebab tidak begitu kejadian yang sebenarnya. Lulusan SMA boleh kuliah di jurusan apa saja, tapi pada akhirnya ia akan menyerah di tangan kesempatan yang pertama kali menghampirinya. Ogah-ogahan jual mahal, itulah yang lebih tepat untuk fenomena panjang ini. Penyederhanaan definisi multi-talent terbukti banyak berujung maut. Banyak kemudi dipegang oleh individu yang sebenarnya diluar jangkauan kapasitas.
Lantas apakah yang perlu dipersiapkan untuk model peradaban baru yang penuh semangat menggeser itu? Seperti yang sudah banyak terjadi, meskipun tersamarkan oleh redupnya keterbukaan, toh kekuasaan masih saja keluar dari ujung bedil, dan untuk kesekian kali kita akan merasa bosan dengan ubikuitas utopia….
Akhirnya, bagi tipe masyarakat seperti saya ini, kok lebih safety kalau hari-hari itu disemangatkan pada pengendalian dan melihat diri sendiri secara lebih yakin. Nggak mudah nggumunan, juga nggak gampang terhasud oleh rumor yang tergelar di panggung kethoprak yang semakin melebar ini. Toh sementara ini media massa dasar operasinya masih terjaring dalam target oplah, sedang pesan idealismenya justru beku dalam cerobong pemberitaan.
Akhirnya, dalam jerembab gaung pertanyaan kuno manusiawi kita, memilih di antara dua itu menjadi penting: melacur atau mati miskin???
Beruntunglah manusia yang sudi berfikir, masih memiliki akal sehat yang mampu menjangkau nalar.
Semoga..
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters