Moral Story dari Sri Mulyani » INTELIJEN INDONESIA

Saturday, May 22, 2010

Moral Story dari Sri Mulyani

Dua hari lalu Bapak menerima rekaman pernyataan Sri Mulyani di Hotel Ritz Carlton dan mendengarkan secara seksama ungkapan-ungkapan keprihatinan dan perjuangan dalam memperbaiki perekonomian nasional Indonesia. Berikut ini catatan dari Bapak:

Intelijen Indonesia termasuk minoritas elemen bangsa Indonesia tanpa kepentingan pribadi yang berusaha menjaga stabilitas ekonomi Indonesia melalui upaya-upaya mendorong dan memelihara proses reformasi sistem ekonomi nasional termasuk dalam masalah etika. Sebagaimana sahabat Blog I-I perhatikan isi dari ratusan artikel Blog I-I umumnya adalah bagaimana intelijen sebagai salah satu unsur penting dari penyelenggaraan negara dapat memberikan masukan yang tepat bagi Presiden, termasuk ketika akhirnya Presiden terjepit dalam membela Sri Mulyani atau mengalah kepada tekanan pengusaha hitam dan politisi haus kekuasaan.


Dunia dalam sejarahnya bergerak dari sejumlah sebab dan menjadi akibat. Secara ideologi, Blog I-I menganjurkan posisi Indonesia yang pragmatis dan senantiasa fleksibel dalam melakukan adjustment dengan dinamika global, bukan terserap ke dalam arus ekonomi dunia sebagaimana dituduhkan sebagian kalangan yang sok-sokan mengaku pembela ekonomi rakyat namun tidak mengerti mekanisme dan sistem yang tepat. Apa yang dilakukan Sri Mulyani selama ini jauh dari tuduhan neolib karena Intelijen Indonesia tahu persis siapa-siapa yang dibayar untuk membunuh karakter Sri Mulyani dengan tuduhan Neolib, mudahnya perhatikan siapa-siapa yang teriak-teriak tentang Neolib...mereka semua bayaran bukan?

Namun Blog I-I tetap memperhatikan petingnya proteksi dalam pengertian kepedulian terhadap angka kemiskinan dan pengangguran yang masih tinggi di Indonesia, dimana perlu ada semacam program pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui program-program yang tepat termasuk dalam memperkuat industri kecil dan menengah. Namun hal itu seyogyanya bersih dari unsur kepentingan kelompok yang akan diuntungkan dari sebuah kebijakan publik, hal ini terkait dengan etika yang dikemukakan Sri Mulyani.

Kebenaran adalah kebenaran dan tidak dapat dipalsukan oleh propaganda murahan untuk menjadikan kebenaran itu sebagai sesuatu yang salah. Sehingga tidak perlu kita ambil pusing karena pada saat pihak-pihak yang senang memalsukan kebenaran bercerita tentang kebohongan, kita harus tetap teguh menceritakan tentang kebenaran dengan ketulusan. Walaupun sepintas waktu kita melihat bahwa Indonesia masih akan diliputi awan gelap angkara murka kepalsuan dan kepentingan individu dan kelompok, namun cahaya pencerahan Republik Indonesia yang kita cita-citakan masih ada di ujung lorong yang sedang kita lalui saat ini.

Pernyataan Sri Mulyani tentang kemenangan sangat dipahami dan sejalan dengan semangat Blog I-I. Ada hal menarik yang dapat sahabat Blog I-I renungkan dan jadikan pegangan dalam menjalankan tugas membela Republik Indonesia, sbb;

Pertama, tidak menghianati kebenaran. Hal ini merupakan jati diri reformasi Intelijen Indonesia untuk memperbaiki diri dengan berpegang teguh pada kebenaran. Walaupun banyak pihak menyatakan bahwa kebenaran bersifat relatif dan sangat dipengaruhi oleh cara pandang dan keyakinan, namun dapat saya garis bawahi disini yaitu pada saat hati nurani kita berteriak ada yang salah maka hal itu sudah melanggar keyakinan kita pada kebenaran. Sampaikanlah kebenaran walaupun hal itu akan mengorbankan diri kita sebagai abdi negara. Sudah waktunya kita berdiri tegak demi kemajuan Republik Indonesia dan demi masa depan bangsa Indonesia.

Kedua, tidak mengingkari nurani diri sendiri. Menyambung pada poin nomor pertama diatas, nurani atau hati nurani adalah suara dalam diri kita sendiri yang akan segera berteriak ketika kita melangkah pada hal-hal yang tidak benar menurut cara pandang dan keyakinan kita. Manakala dilanggar kita telah mengiris hati nurani kita sendiri. Mudahnya demikian: pada suatu ketika seorang petugas akan dihadapi oleh kesempatan untuk mencuri uang negara, apapun alasannya ketika kita akan mencuri akan terdengar suara lirih di hati kita .....jangan ! Membunuh nurani kita sendiri rasanya akan sama dengan membunuh jiwa, sekali...dua kali...tiga kali, maka kita akan terbiasa dan akhirnya nurani kita bungkam terbungkus oleh pembenaran perilaku nafsu.

Ketiga, menjaga martabat dan harga diri. Hal ini identik dengan jati diri manusia dan bukan refleksi kesombongan karena berbangga-bangga dengan martabat. Jatuhnya martabat seseorang bukan disebabkan oleh apa yang disebutkan orang lain, kita boleh saja senang berpakaian sederhana, namun akan ada orang lain yang menilainya kampungan. Sedangkan harga diri terkait dengan prinsip-prinsip dasar yang diyakini seseorang dan menjadi pegangan dalam perjalanan hidupnya. Pada saat prinsip tersebut dilanggar, maka harga dirinya lenyap, hancur atau menguap dan akhirnya menjadi olok-olok manusia yang berjiwa rendah karena sama-sama tidak memiliki apa yang disebut harga diri. Salah satu contoh sederhana manusia yang tidak memiliki harga diri adalah mereka yang melakukan segala cara dalam mencapai jabatan dan kekuasaan termasuk dengan menjual dirinya dan mengemis kesana kemari, bahkan mengeluarkan modal besar sebagai bentuk investasi untuk mempengaruhi proses dirinya menjadi pejabat tinggi.

Hanya satu catatan dalam melihat kemenangan yang didefinisikan Sri Mulyani, yaitu bahwa bangsa Indonesia kalah dalam semangat reformasi dan memperbaiki kehidupan berbangsa dan bernegara. Sri Mulyani boleh merasa menang karena dirinya tidak terkontaminasi kebusukan politik dan keserakahan sejumlah elit nasional serta dapat mempertahankan integritasnya, bahkan sesungguhnya saya juga tahu bahwa Sri Mulyani berani untuk membuka seluruh kebusukan kasus Bank Century demi kebenaran. Tetapi karena kisah akhirnya adalah konspirasi politik, maka saya lebih melihatnya sebagai kekalahan telak kepada apa yang kita yakini sebagai etika, kebenaran, nurani, dan harga diri. Kepada siapa bangsa Indonesia mengharapkan proses perbaikan apabila satu persatu individu yang memiliki integritas di negeri ini melepaskan pengaruh dan kekuasaannya.

Catatan terakhir, Sri Mulyani harus melihat juga dari sisi di luar diri pribadinya, yaitu 260 juta penduduk Indonesia tertegun melihat drama Bank Century dalam kabut kebohongan publik dan konspirasi politik...bertanya-tanya apa yang sesungguhnya terjadi. Bangsa Indonesia juga meraba-raba di dalam gua yang gelap terseok-seok dalam lorong yang becek, lembab dan berbau, dan bertanya mengapa cahaya di ujung lorong ini semakin redup. Sementara dalam pusing dan mual, bangsa Indonesia juga mendengar suara pesta hiruk-pikuk koalisi kepentingan serta rencana-rencana mengatur kue negara...Oh tidak ! seorang nenek yang sudah lemah berseru, pesta itu seperti di masa saya muda dan akibatnya saya menjadi menderita begini, bangsa Indonesia kehilangan harga diri dan jati dirinya.

Semoga catatan ini dapat menjadi pelajaran bagi kita semua dalam menilai diri kita masing-masing, serta dalam melihat dinamika politik, ekonomi, sosial dan budaya di negeri yang kita cintai Republik Indonesia.

Demikian penuturan Bapak Senopati Wirang.

Sekiranya sahabat Blog I-I ada yang memiliki akses kepada Sri Mulyani, alangkah baiknya catatan Bapak dapat disampaikan sebagai bacaan ringan ke Washington.

Labels:

Comments:
All Hail SMI!!!


need IT??
http://www.linovtech.com
 
Orang akan Binasa kalau tidak berIlmu, orang berilmu akan Rugi kalau tidak berAmal,orang beramal akan sia-sia kalau tidak Ikhlas...

BERILMU,BERAMAL,IKHLAS...
 
Setelah kubaca artikel dari blog i-i, saya merasa mendapatkan sebuah amanat berupa wasiat pesan sebelum kematian dari 'I' senior yang merasa telah melakukan kesalahan yang fatal di masa lalu dan berharap agar masa depan 'I' menjadi lebih baik... Dan memang akan rusaklah dunia ini jika 'I' bekerja untuk harta, tahta, ketenaran, pelampiasan dendam, dsb.
Kurasa ini juga sebagai penjaringan agen SSS (SEPECIAL SUPER SCRET) yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu yang disiapkan apabila tim agen Super Scret maupun Scret tidak dapat menjalankan tugasnya.

TERTANDA

mahasiswa 'loading lama' yang bercita-cita menjadi Counter Intelligent yang memiliki misi merekrut 'I' asing dan memanfaatkan operasi lawan untuk meningkatkan kesejahteraan RI.

Harap kirim nasehat & petuah & tuntunannya di:
stciindonesia@gmail.com

sebelum daku berjalan lebih jauh.
Salam merdeka Indonesiaku
 
untuk melihat seseorang itu bisa dari berbagai sisi, kalau tokoh paublik dalam hal ini pemerintahan dan untuk menilai bahawa SMI itu neolib atau bukan adalah rekam jejak kebijakan dan keputusan-keputusannya selama menjadi pejabat pemerintah, pro rakyat atau pro kapitalisme. pro investor asing atau pengusaha indonesia sendiri.

dengan 2 pertanyaan itu bisa kiranya diambil kesimpulan. bagaimana langkah Ekonomi bangsa kita sejak kelompok "Mafia Berkeley" mengatur tatakelola ekonomi nasional dan siapa saja tokohnya dan apa hubungannya dengan berbagai lembaga Ekonomi Internasional ADB, IMF, WB, WTO dll. dan perusahan2 transnasional yang mengeruk habis kekayaan dan sekaligus menjadikan rakyatnya sebagai tempat pemasaran. ini gaya neolib.
apakah pemerintah yang hanya percaya dengan melihat angka-angka statistik pertumbuhan ekonomi tanpa melihat pemerataan dan realitanya disebut pahlawan?

saya tak mengira blok ii yang bercita-cita membangun bangsa. mengeluarkan argumen seperti ini.
 
begitulah kondisi politik dalam negeri, penuh intrik dan kepentingan, sesuatu yang benar, walau dengan itikad dan semangat ingin memajukan bangsa dan negara, tapi bila dianggap tak sesuai dengan golongan lain, dengan segala upaya akan dibuat pencitraan yang buruk, demi sebuah kepentingan lain yang harus tercapai. Salah satu anak bangsa yang cemerlang yang harus tersisih dan terpinggirkan oleh sebuah gelombang besar yang selalu menerpa dan menghantam, membuatnya harus pergi meninggalkan negara yang dicintainya. Waktu yang bergulir akan menanti kembali kedatangannya, untuk mewujudkan kembali ekonomi Indonesia Raya kembali berjaya. Kebenaran akan selalu menang diakhir cerita. Don't worry Mrs. Sri....
 
menarik sekali
visit : akhmad06.student.ipb.ac.id
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters