Profesi Intelijen Sebagaimana Mestinya » INTELIJEN INDONESIA

Saturday, November 30, 2013

Profesi Intelijen Sebagaimana Mestinya

Selamat malam sahabat Blog I-I

Semoga derap langkah Indonesia Raya yang demokratis, menjunjung tinggi HAM, aman dan sejahtera semakin mantap dalam do'a dan dukungan penuh seluruh rakyat Indonesia dari Aceh sampai Papua.

Tulisan saya kali ini terinspirasi oleh kasus "malpraktek" Dokter Ayu yang menimbulkan polemik publik (pro-kontra) dengan cara pandang yang beragam baik secara medis kedokteran maupun secara hukum, etika dan khususnya kode etik kedokteran. Kasus tersebut menunjukan bahwa setiap profesi memiliki resiko yang berat karena dampaknya yang besar. Dalam dunia kedokteran, terjadinya kematian pasien merupakan resiko paling tinggi yang akan selalu membayangi profesi seorang dokter. Itulah sebabnya dituntut profesionalisme dan karakter yg baik dari seorang dokter dalam upayanya memberikan pertolongan kepada pasiennya. Perdebatan yang terjadi dalam kasus Dokter Ayu dapat menjadi cambuk bagi profesi dokter sekaligus tantangan bagi dunia hukum untuk dapat terus memperbaiki pendekatan terhadap kasus-kasus serupa yang mungkin banyak terjadi di tanah air.

Bagaimana dengan profesi intelijen? adakah malpraktek intelijen? dan apakah seorang intel juga dapat dipidanakan karena perbuatannya yang dipandang melanggar hukum? 

Khusus dibidang spionase atau intelijen positif, profesi intelijen hakikatnya adalah memperjuangkan kepentingan nasional suatu negara di negara lain dengan melanggar hukum negara setempat dan hukum internasional. Sehingga dibutuhkan profesionalisme yang sangat tinggi dengan berbagai teknik dan skill yang dapat dikatakan lebih tinggi dan halus dari aksi-aksi James Bond, intel fiksi yang populer di dunia. Dengan demikian, kita bangsa yang memiliki sejarah besar dari kerajaan-kerajaan nusantara tidak perlu emosional atau kaget dengan kasus penyadapan massal yang dilakukan Amerika Serikat dan Australis dengan bantuan Singapura dan Korea Selatan. Hal itu sangatlah wajar dari kacamata intelijen klasik dan modern. 

Dalam teknik pengumpulan informasi baik di dalam maupun di luar negeri, intelijen dianggap profesional apabila target pengumpulan informasinya adalah sesuai dengan kepentingan nasional dan atas perintah dari pimpinan atau atas permintaan dari user, misalnya Presiden. Namun teknik tersebut banyak yang melanggar hukum pidana, misalnya pemerasan, pelanggaran privasi, atau pencurian. Meski demikian, yang masuk dalam kategori malpraktek intelijen adalah lebih kepada ketiadaan justifikasi pengumpulan informasi, misalnya untuk kepentingan/keuntungan pribadi atau karir. Misalnya seorang intel ditugaskan untuk menyadap seorang target, namun karena hasil sadapannya dapat membongkar berbagai kasus pribadi target, si intel memanfaatkannya untuk mendapatkan keuntungan pribadi dari targetnya. Dalam kasus kelompok radikal Islam, ditengarai terjadi malpraktek semacam itu yang menciptakan hubungan yang unik antara intel dengan targetnya. Lebih jelasnya adalah kasus pemeliharaan tokoh-tokoh Darul Islam di era Opsus Ali Murtopo yang mengatasnamakan kepentingan nasional, namun sesungguhnya hanya menjadi bagian dari rencana individual di tubuh lembaga intelijen. Dampaknya dikemudian hari adalah menguatnya kembali kelompok radikal Islam yang mengutamakan kekerasan yang bersumber dari Darul Islam sampai menjelma menjadi Jemaah Islamiyah.

Malpraktek intelijen yang menjadi dosa terbesar intelijen adalah pembelotan atau penghianatan terhadap kepentingan bangsa dan negara. Hal ini dapat terjadi misalnya dengan membocorkan/menjual rahasia negara kepada negara lain. Misalnya dalam kasus pembocoran rahasia negara oleh Letkol Yohanes Baptista Susdaryanto kepada Uni Soviet di era perang dingin (baca: buku Conboy, Intel: Inside Indonesia's Intelligence Service). Kemampuan seorang intel dan aksesnya terhadap informasi dapat disalahgunakan untuk kepentingan pribadi, hal ini harus diawasi baik secara internal lembaga intelijen maupun komite intelijen, hankam dan luar negeri di DPR RI. 


Berbagai malpraktek yang sudah masuk kategori tindak kriminal telah beberapa kali terjadi dalam sejarah intelijen Indonesia. Misalnya praktek beking bisnis tertentu dengan mengerahkan kekuatan intelijen, praktek perampokan bank dengan memanfaatkan teknik dan ilmu intelijen, pemulusan impor narkoba oleh oknum intelijen militer, dst dimana motivasinya adalah keuntungan pribadi. Malpraktek yang terjadi adalah dalam hal menggunakan kemampuan profesi intelijennya bukan untuk kepentingan nasional melainkan kepentingan pribadi dan melanggar hukum. 

Malpraktek intelijen yang marak terjadi di era Orde Baru adalah dalam hal melanggengkan kekuasaan Pemerintah. Hal ini telah menjebak secara sistemik organisasi intelijen ke dalam dunia politik kekuasaan. Dari menginteli musuh-musuh politik pemerintah, mencurangi pemilu, mengkooptasi kelompok kepentingan, hingga pelanggaran ham demi stabilitas pemerintah menjadi malpraktek intelijen yang berdampak luas di masyarakat. Berkat reformasi sektor keamanan yang secara sadar dilakukan pemerintah, khususnya intelijen, saat intelijen relatif "bersih" dari kepentingan politik kekuasaan.

Dari sisi analisis, terbuka peluang terjadinya kekeliruan analisa yang berdampak pada rekomendasi yang akan merugikan bangsa dan negara. Hal ini lebih kepada kapabilitas para analis intelijen yang harusnya secara berkala dievaluasi dan ditingkatkan sehingga minimalisasi dampak dari kesalahan analisa dapat dilakukan. Contoh kekeliruan analisa CIA terhadap senjata pemusnah massal Irak tentunya sudah menjadi bagian dari kajian studi intelijen di seluruh dunia. Dalam kasus Indonesia, kajian intelijen militer Indonesia bahwa referendum bekas propinsi Timor-Timur akan dimenangkan kelompok pro-integrasi adalah menyesatkan dan merugikan Indonesia secara strategis. Walaupun akhirnya hasil referendum dapat diterima bangsa Indonesia dengan lapang dada, namun dampak analisa tersebut jelas merugikan negara.

Akhirnya akan kembali kepada siapapun dalam profesi apapun untuk senantiasa memelihara kode etik, prinsip-prinsip kerja profesional dan keteguhan hati dalam menjalani profesi kita. Bahwa terjadi kekeliruan adalah manusiawi, namun menjadi tugas kita bersama untuk memperbaikinya dan mencegah terulangnya kekeliruan di kemudian hari. Semoga renungan ini bermanfaat bagi seluruh sahabat Blog I-I.

Catatan: meskipun istilah malpraktek kurang tepat untuk profesi intelijen, namun saya gunakan untuk memudahkan pemahaman kita bersama.

Salam Intelijen

SW

Labels: , , , , , , , ,

Comments:
bagaimana, seorang intel agen dalam pendidikannya ditambah dengan ilmu hipnotis dan menguasai tentang ilmu parapsikologi bukan psikologi lagi...
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters