Sambungan Indonesia 66 Tahun » INTELIJEN INDONESIA

Friday, November 22, 2013

Sambungan Indonesia 66 Tahun

Dua tahun yang lalu saya menulis artikel berjudul Indonesia 66 Tahun, pada akhir tulisan saya tulis bersambung. Namun karena kondisi yang belum memungkinkan maka saya meninggalkan Blog I-I begitu lama dan baru setelah dua tahun saya dapat memenuhi janji untuk menyambung tulisan tersebut.

66 tahun usia kemerdekaan Indonesia di tahun 2011 tentunya sudah berbeda dengan usia 68 tahun di tahun 2013 ini. Adakah perbedaan nyata setelah refleksi dua tahun yang lalu? Ataukah bangsa Indonesia masih jalan di tempat? 

Seribu bendera Merah Putih berkibar dalam kegiatan Seribu Cita Satu Indonesia 
di Pantai Depok,  Bantul, Yogyakarta (17/8/2013) — © Sigid Kurniawan/Ant

Perhatikan sejenak foto karya Sigid Kurniawan dari Antara yang berhasil merekam cita-cita anak bangsa di Yogyakarta yang juga merefleksikan cita-cita kita bangsa Indonesia untuk menancapkan simbolisme persatuan bangsa Indonesia melalui Bendera Merah Putih. Sebuah semangat nasionalisme yang menyandarkan mimpi bangsa untuk maju berkembang bersama dalam keIndonesiaan yang sederhana MERAH dan PUTIH. Simbolisme sifat dan karakter bangsa Indonesia yang berani mati menumpahkan darahnya yang MERAH dengan cita-cita suci yang PUTIH. Berani untuk berkorban demi saudara setanah air dan memiliki niat tulus untuk kemajuan bangsa. 

Lalu bagaimana dengan refleksi bangsa Indonesia saat ini?

Kacamata intelijen merekam jejak-jejak perubahan ke arah yang lebih baik dan menjanjikan masa depan Indonesia yang semakin baik. Bahwa saat ini bangsa Indonesia masih bertarung dengan masalah korupsi, ancaman teror, dan masih adanya kelompok yg belum merasa menjadi bagian bangsa Indonesia menjadi tantangan yang harus kita atasi bersama. Bahwa pertarungan politik menjadi semakin panas menjelang pemilu 2014 adalah kewajaran untuk kita sikapi secara dewasa demi masa depan anak cucu kita semua, yang akan mewujudkan Indonesia Raya yang demokratis, adil dan makmur.

Maraknya gerakan-gerakan masyarakat yg kadang terasa emosional dan cenderung sarat kepentingan pribadi juga cermin dari keterbukaan dan perubahan sistem sosial politik yg kita sepakati menggunakan platform demokrasi. Namun demokrasi juga dinamis sehingga terbuka untuk perubahan-perubahan yang diharapkan dapat menciptakan kehidupan berbangsa dan bertanah air yang lebih baik lagi.

Di bidang ideologi, Pancasila walaupun mengalami desakralisasi namun tetap menjadi rujukan dalam persatuan bangsa Indonesia yang multietnis, multibudaya dan multiagama. Tanpa mengecilkan nilai-nilai tradisi dan agama apapun, Pancasila merupakan refleksi filsafat yang diterima oleh seluruh elemen bangsa Indonesia karena keuniversalannya mampu memberikan ruang refleksi dari berbagai kalangan bila ingin bercermin kepada Pancasila. Sayangnya, indoktrinasi Pancasila era Orde Baru telah mengecilkan peranan nilai-nilai lain yang juga menjiwai langkah kehidupan bangsa Indonesia sehingga penolakan terjadi di sejumlah golongan. Sehingga pola indoktrinasi harus bergerak ke dalam bingkai dialog kebangsaan dan kenegaraan yang memberikan ruang kepada semua golongan untuk merefleksikan pandangannya sebagai sumbangan dalam formulasi falsafah hidup bangsa Indonesia yang terangkum dalam Pancasila. Tanpa membuat Pancasila menjadi sesuatu melebihi nilai tradisi dan agama, Pancasila mestinya dapat hidup secara dinamis sebagai nilai-nilai yang menyatukan identitas bangsa Indonesia dalam melangkah menjadi bangsa yang bermartabat.

Lalu apakah berarti tidak ada ruang bagi ideologi liberal, sosialis, ataupun yang berdasarkan inspirasi agama? Demokrasi yang kita mulai sejak tahun 1998 membuka ruang bagi pengembangan ideologi apapun sepanjang sejalan dengan cita-cita memajukan bangsa Indonesia. Namun janganlah lupa dengan fakta penerapan ideologi yang berbeda akan melahirkan konflik di masyarakat. Barangkali kita meyakini ideologi tertentu sebagai obat mujarab untuk bangsa Indonesia, namun hal itu belum tentu diterima oleh kelompok lain yang menganut ideologi yang berbeda. Ruang pengembangan ideologi yang terbuka tersebut seyogyanya dapat menjadi celah dalam pengembangan intelektual bangsa Indonesia dalam mengatur dirinya sendiri. Boleh jadi ideologi yang banyak dianut bangsa Indonesia saat ini merupakan campuran antara nilai-nilai moral agama, keyakinan nasionalisme, dan perpaduan antara liberalisme dan sosialisme khususnya yang mengatur peranan negara dan pasar di bidang ekonomi. Sepanjang segala sesuatunya berjalan stabil dan masyarakat secara umum dapat menjalani hidupnya dengan nyaman, tentunya kita tidak perlu terlalu pusing dengan perbedaan ideologi. Apakah berarti tidak ada ruang bagi yang radikal dalam meyakini ideologinya khususnya terkait dengan metode perjuangannya misalnya terorisme mengatasnamakan agama dan revolusi ala komunisme yang mengadopsi perjuangan Lenin atau Mao? Kita sebagai bangsa tidak dapat mengatur seluruh individu ataupun kelompok dalam kesepakatan yang dipaksakan dan hampir selalu terjadi dalam perjalanan bangsa manapun adanya kelompok yang mengambil sikap konfrontatif dan mengambil jalan kekerasan. Dalam kaitan ini, tentunya kita berhak melindungi kepentingan yang lebih luas dan besar melalui langkah penegakan hukum, dmana setiap jalan kekerasan yang mengganggu keselamatan kehidupan rakyat Indonesia harus berhadapan dengan hukum. 

Di bidang politik, hiruk pikuk menjelang pemilu sudah ramai sejak awal tahun 2013 dan semakin ramai menjelang akhir tahun 2013 dan akan semakin panas tahun depan. Hal itu sudah akan menjadi keniscayaan sejarah yang akan kita lalui bersama. Emosi, cita-cita dan harapan, serta ambisi dan berbagai kalkulasi "perebutan" kekuasaan secara demokratis akan kita jalani. Sebagaimana di negara-negara yang sudah terlebih dahulu berdemokrasi, Republik Indonesia juga sedang dan akan mengalami dinamika sosial, politik dan ekonomi yang terus berdenyut memompakan andrenalin kita semua dalam harap dan cemas. Harapan kita tentunya sesuatu yang lebih baik akan tercipta dari setiap pemilu yang kita lalui, namun kecemasan kita juga menghantui apabila terjadi sesuatu yang tidak kita harapkan yang akan menghambat proses kemajuan bangsa Indonesia.

Intelijen sewajibnya lepas dari urusan pertarungan politik dan berkonsentrasi pada aspek keamanan nasional dan keselamatan bangsa Indonesia. Sehingga siapapun yg menarik Intelijen Indonesia ke dunia politik akan merusak demokrasi bangsa Indonesia. Tanpa bermaksud masuk ke dalam dunia politik, Blog I-I memiliki pandangan khusus terhadap dinamika politik Indonesia yang intinya adalah keyakinan bahwa Indonesia sudah berada di jalan yang benar, dimana demokrasi, nasionalisme, moralitas tradisi dan agama di Indonesia menjadi landasan utama perjalanan bangsa Indonesia selanjutnya. Sebuah fakta yang menyegarkan adalah bersatunya berbagai komponen bangsa Indonesia dalam menyikapi penyadapan telepon Presiden SBY yang dilakukan oleh Intelijen Australia telah menyadarkan pentingnya nasionalisme persatuan bangsa Indonesia dalam menghadapi kemungkinan ancaman dari luar negeri. Opini publik Indonesia-pun memiliki nada nasionalisme yang sama dengan eksekutif dan legislatif, hal ini menjadi bukti bahwa di dalam hati kita telah ada identitas keIndonesiaan yang tidak akan luntur sepanjang negara dan bangsa Indonesia masih ada di dunia ini.

Terkait dengan maraknya persaingan menuju kursi Presiden 2014, hal paling penting dan mendasar yang perlu kita perhatikan adalah kewajaran kita dalam menyikapi hasil akhir pemilu. Dalam setiap kompetisi ada yang menang dan pasti ada yang kalah, ada yang mengalami keberuntungan dan ada yang mengalami kerugian. Selain itu ada yang gembira, ada yang sedih. Sehingga kunci stabilitas demokrasi dan pemilu adalah pada kedewasaan bangsa Indonesia dalam menerima hasil pemilu yang jujur dan adil. Sesuai dengan karakter bangsa Indonesia yang ksatria, Blog I-I yakin bahwa bangsa Indonesia telah banyak berevolusi menjadi bangsa bermartabat. Namun persoalannya adalah belum tentu seluruh komponen bangsa berevolusi menjadi ksatria-ksatria yang sadar akan jati dirinya yang mampu menanggung tanggung jawab kemenangan dan mampu menerima kekalahan dengan lapang dada.

Di bidang ekonomi, angka-angka statistik yang mencerminkan pilar ekonomi Indonesia yang semakin baik bukan satu-satunya rujukan keberhasilan pembangunan ekonomi suatu bangsa. Masih banyak elemen lain yang harus diperhatikan sehingga secara meyakinkan pembangunan ekonomi tersebut mampu menyentuh seluruh golongan di tanah air. Pemerataan pembangunan ke daerah-daerah yang akan membentuk kemandirian ekonomi lokal sudah mulai berjalan, namun konsentrasi-konsentrasi pembangunan masih terjadi di daerah-daerah yang memiliki infrastruktur yang memadai. Kelemahan di bidang penyediaan energi, transportasi yang lebih efektif, serta akses menjadi kelemahan terbesar Indonesia. Ketika krisis dan paska krisis ekonomi, ekonomi Indonesia lebih banyak "diselamatkan" oleh konsumsi domestik yang menyebabkan ekonomi tetap berputar secara dinamis walaupun melambat. Indonesia dengan penduduk terbesar ke-4 di dunia dan angka penduduk produktif yang tinggi secara kekuatan pasar memiliki kelebihan dimana pasar produk domestik dapat menghidupi jalannya bisnis kecil dan menengah tanpa harus mengkhawatirkan gejolak global dan pertukaran mata uang. Bagaimana dengan bisnis besar? Tentunya bisnis besar juga memperhitungkan pasar dalam negeri dan luar negeri dan peningkatan investasi asing. Persoalan berikutnya tentu dalam masalah pengangguran dan kemiskiinan serta perdebatan masalah upah minimum yang dari tahun ke tahun menjadi polemik di masyarakat. Yang pasti, kita mengharapkan para ekonom nasional kita untuk tidak menghabiskan waktu melakukan klaim keberhasilan, melainkan secara sungguh-sungguh memikirkan perbaikan ekonomi secara terus menerus yang akan membawa perubahan kesejahteraan yang nyata bagi bangsa Indonesia. Hal ini bukan lagi soal perbedaan ideologi antara pasar bebas dan kebijakan ekonomi negara, melainkan lebih kepada kebijakan mana yang paling tepat ditempuh Indonesia.

Di bidang sosial, tantangan terbesar yang dihadapi Indonesia adalah masalah kemiskinan dan pendidikan yang masih belum merata dari sisi kualitas. Di saat yang bersamaan, Indonesia telah melangkah jauh dalam politik dengan demokrasi dan keterbukaan, akibatnya rakyat terekspos dalam suatu keadaan yang sepintas terlihat seperti konflik antar kelompok. Insiden-insiden meluapnya emosi sebagai akibat dari penghargaan terhadap perbedaan telah memanaskan hubungan mayoritas-minoritas. Pada satu sisi, kelompok minoritas merasa memiliki hak sama dan melangkah secara konfrontatif "menantang" mayoritas atas nama kebebasan. Namun disisi lain kelompok mayoritas merasa memiliki hak untuk mengambil langkah tertentu karena dukungan komunitas yang besar sebagai pilihan bebas yg ditempuhnya. Dimana pokok persoalannya? ketika melangkah keluar dari jalan damai, yakni terciptanya aksi-aksi kekerasan. Garis merahnya adalah pada lahirnya tindak kekerasan yang berpotensi meluas menjadi konflik yang lebih besar yang bersifat komunal. Artinya kita semua harus mencegah terjadinya tindak kekerasan, karena konflik dengan kekerasan sekecil apapun akan menghambat kemajuan kita semua menuju Indonesia Raya yang bermartabat.

Di bidang budaya kita menyaksikan revitalisasi budaya-budaya nusantara yang memperkaya budaya nasional Indonesia yang dapat kita nikmati sebagai identitas dan milik bangsa Indonesia. Hanya saja hal itu jangan sampai melahirkan eksklusifitas kelompok yang secara perlahan dapat melunturkan identitas keIndonesiaan karena kebanggaaan yang berlebihan terhadap budaya daerah. Budaya bukan hanya dalam bentuk hasil karya budaya seperti musik, lagu, tarian, pakaian, adat istiadat dan hasil karya seni lainnya, melainkan juga terkait dengan sikap, tindak tanduk dan perilaku kita sebagai bangsa yang beradab. Budaya berkendaraan, budaya patuh hukum, budaya jujur dan ksatria, anti-korupsi dan budaya Indonesia yang tinggi lainnya juga sangat perlu untuk terus ditumbuhkembangkan ke dalam hati kita semua, sehingga identitas kita sebagai bangsa yang besar nyata mewujud dalam keseharian kita.

Di bidang hankam, sebuah reformasi nyata tampak dari pemisahan polisi untuk keamanan dan militer untuk pertahanan. Meskipun hal tersebut telah dinodai oleh sejumlah kasus konflik Polisi versus TNI di sejumlah daerah, namun secara umum dan meyakinkan pembagian otoritas tersebut dapat berjalan dengan baik. TNI semakin pulih nama baiknya dan kembali dapat diterima ditengah-tengah masyarakat Indonesia setelah lebih dari 30 tahun menjadi guardian Pemerintah Orde Baru. Sebaliknya Polisi masih harus terus mereformasi diri dengan terungkapnya perilaku tidak terpuji dari sejumlah oknum polisi yang menurunkan kepercayaan publik terhadap Polisi. Pemisahan Polisi dan Militer bukannya tanpa potensi ancaman dalam pemeliharaan koordinasi hankam di kemudian hari. Misalnya hingga saat ini, Indonesia belum memiliki Undang-Undang yang bersifat Nasional dalam menjamin perjalanan keselamatan bangsa Indonesia dari ancaman strategis yang memerlukan respon koordinatif dari seluruh komponen hankam termasuk intelijen. Walaupun jawabannya cukup jelas melalui UU Keamanan Nasional (National Security Act), namun karena kualitas RUU Kamnas masih kurang dan ketakutan sebagian kalangan terhadap penyalahgunaan UU Kamnas, maka Indonesia menjadi salah satu negara demokrasi yang belum memiliki dasar hukum dalam mempersiapkan respon strategis dari ancaman strategis yang terkait dengan keselamatan bangsa Indonesia.

Tulisan ini jelas tanpa detail data-data pendukung, dan hanya sebuah refleksi singkat bahwa betapapun kita menghadapi banyak masalah, namun begitu banyak indikator positif yang menjanjikan masa depan Indonesia Raya yang lebih baik. Jadi yakinilah dalam hati dan pikiran kita semua bahwa Indonesia akan terus berubah mewujudkan kemajuan.

Merdeka !

Senopati Wirang

Labels: , , ,

Comments:
artikelnya bagus mas...
 
keren abiss
 
Mantap abis Atikelnya,bersambung 2 tahun,salut
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters