Mengapa Indonesia dekat dengan Amerika Serikat (AS) » INTELIJEN INDONESIA

Sunday, January 19, 2014

Mengapa Indonesia dekat dengan Amerika Serikat (AS)

Meskipun di Indonesia terdapat sejumlah kelompok masyarakat yang Anti-AS, namun dinamika perjalanan bangsa dan negara sejak reformasi cenderung mendekat kepada AS. Apakah hak itu suatu kebetulan yang tidak direncanakan, ataukah suatu strategi nasional, ataukah keterpaksaan, ataukah karena hembusan angin, ataukah kemiripan cara pandang, kesamaan kepentingan dan kedekatan elit politik, atau karena politik luar negeri utopis 1000 sahabat?

Meski saya termasuk pengkritik terhadap politik 1000 sahabat dan 0 musuh yang tidak rasional tersebut, namun secara kultural Indonesia cenderung mengambil posisi "aman" dan "nyaman" di dunia internasional. Dengan mengambil posisi yang secara moral sulit ditolak dan secara strategis juga tidak membahayakan. Sebagai orang Indonesia, kita semua sangat paham dengan suasana kebathinan seperti ini bukan.

Indonesia juga belum cukup matang untuk memiliki ambisi global dengan berbagai peranan yang penting sebagai bangsa yang besar. Aspirasi peranan regional dan global seringkali terhambat oleh fakta betapa persoalan domestik sangat banyak dan menjadi fokus yang dituntut oleh masyarakat untuk segera diselesaikan. Betapa kemampuan Indonesia untuk mengatasi persoalan domestik masih banyak yang perlu diperbaiki menyebabkan Indonesia perlu mempertimbangkan untuk low profile dan selektif dalam politik luar negerinya.

Indonesia juga tidak dapat bergabung dengan aliansi pertahanan dengan AS karena latar belakang sejarah yang akan menyebabkan pimpinan nasional Indonesia kesulitan untuk secara terbuka menjadi sekutu AS. Selain itu, faktor konflik Israel-Palestina dan posisi AS di dunia Islam juga sering dipersepsikan sebagai "ancaman" bagi umat Islam. Betapapun AS memiliki peranan-peranan yang dapat dinilai positif bagi perbaikan di dunia Islam, kecurigaan umat Islam yang tersebar dari Turki Timur Tengah, Afrika dan Asia terlanjur menjadi bagian dari narasi yang dipersempit ke dalam sejarah panjang "permusuhan" Islam- Yahudi/Kristen sejak generasi pertama keturunan Nabi Ibrahim. Hal inilah yang menyebabkan politisi Indonesia dari Partai Politik manapun tidak dapat secara terbuka menampilkan kedekatan dengan AS. Dalam salah satu artikel Blog I-I yang berjudul Anti-Amerika telah dijelaskan bahwa kita perlu untuk lebih teliti dan berhati-hati dalam menyikapi dinamika politik global, sehingga tidak mudah terperosok ke dalam kebijakan yang merugikan bangsa dan negara Indonesia. Lebih jauh lagi Blog I-I juga pernah menyarankan untuk lebih teliti dalam menyikapi pandangan-pandangan yang didasari oleh teori konspirasi terhadap AS seperti dalam artikel 60ribu intel asing. Singkatnya Blog I-I mencoba untuk kritis dan obyektif serta tidak terbawa pandangan emosional.

Apakah ini berarti Blog I-I membuka potensi peningkatan kedekatan Indonesia dengan AS? Terlebih Blog I-I juga pernah memuat artikel tentang strategi aliansi dengan China seperti: Aliansi Strategis dengan China, Aliansi Strategis China 2, Aliansi Strategis China 3, Aliansi Strategis China 4, dan juga catatan Agen P5 tentang China. Catatan Agen P5 tersebut sangat kritis dan berhasil mengembalikan posisi Blog I-I ke dalam jalurnya. Namun pembelaan Blog I-I adalah bahwa Blog I-I memang sengaja memprovokasi kalangan intelijen Indonesia untuk meningkatkan perhatiannya terhadap isu 10-50 tahun ke depan dimana dunia tidak akan sama dengan yang saat ini kita jalani. Kita patut bersyukur bahwa Agen P5 memberikan sumbangan pemikirannya yang dapat mencerahkan pikiran kita.

Kembali kepada judul artikel Blog I-I yang ingin mengungkapkan mengapa Indonesia dekat dengan AS, maka berikut ini beberapa faktor yang dapat menjelaskan secara gamblang yang sepatutnya kita pahami sebagai realita dan bukan sebagai suatu konspirasi:

  1. Indonesia dan AS adalah sama-sama negara demokrasi. Hal ini juga merujuk kepada Democratic Peace Theory yang mengajukan pandangan bahwa negara demokrasi akan enggan untuk terlibat dalam konflik bersenjata dengan sesama negara yang diidentifikasi sebagai demokrasi. Hal ini bukan semata-mata pernyataan melainkan masuk lebih dalam ke sistem politik domestik dan kepada budaya politik demokrasi. Dengan kata lain, diperlukan suatu prakondisi yang sangat luar biasa bagi sesama negara demokrasi untuk bermusuhan atau berperang. Dalam kaitan ini, hubungan Indonesia-AS menjadi semakin dekat dan kuat karena faktor demokrasi yang semakin menguat di Indonesia. Secara perlahan politisi dan rakyat Indonesia mulai dapat melihat cara pandang AS tanpa harus menanggalkan nasionalisme dan budaya Indonesia.
  2. Perhitungan strategis Indonesia di kawasan Asia Pasifik bersama-sama negara ASEAN (Asia Tenggara) tidak dapat mengabaikan pertumbuhan militer China yang sangat cepat. Ketidakseimbangan kekuatan militer di kawasan Asia Pasifik dapat dengan mudah membuat tegelincirnya konflik kawasan menjadi perang. Hal ini sudah pernah terjadi dalam sejarah Asia pada saat China dibawah sistem Kerajaan (khususnya Yuan, Ming, dan Qing  Dinasty). Indonesia di era Kerajaan Singhasari pernah diserang oleh Dinasty Yuan dibawah kepemimpinan Kubilai Khan Sementara Dinasti Ming mengirimkan pasukan ke wilayah Asia Tenggara, Indian Ocean, Teluk Persia, kepulauan Maldives, bahkan hingga Somalia dan Kenya bagian timur pantai Afrika. Sedangkan Dinasti Qing berhasil menguasai hingga Taiwan dan berhasil mengusir invasi Tsar Rusia serta menundukkan Tibet. Khusus bagi Indonesia paska kemerdekaan, keterlibatan Republik Rakyat China (RRC) dalam gerakan komunisme yang kemudian memberontak tidak akan pernah terlupakan dimana Angkatan ke-V petani yang dipersenjatai dengan senjata asal China hampir saja membawa Indonesia dalam perang saudara besar-besaran. 
  3. Faktor nomor 2 diatas mendorong negara-negara di kawasan Asia Tenggara menganggap penting kehadiran AS sebagai penyeimbang karena hingga saat ini kemampuan militer negara-negara Asia Tenggara dapat dikatakan sulit untuk mengimbangi China apalagi bila dihadapi satu lawan satu. Indonesia tentunya tidak dapat mengabaikan kalkulasi strategis di kawasan khususnya di wilayah Laut China Selatan dimana sengketa kepemilikan pulau Spratly dapat menjadi titik awal konflik yang membahayakan stabilitas keamanan di kawasan. Sehingga sangat rasional bagi Indonesia untuk memelihara atau bahkan meningkatkan kedekatan hubungan dengan AS. Pada saat yang bersamaan tentunya Indonesia tidak perlu bermusuhan dengan China karena kepentingan ekonomi yang besar diantara kedua belah pihak.
  4. Pada level global AS dan China saling berstrategi dalam menyikapi dinamika politik ekonomi dunia. Sebagai negara nomor 1 dan nomor 2 dalam berbagai elemen power negara, tentunya Indonesia harus mampu melihat situasi tersebut secara strategis dengan terus menggenjot pembangunan ekonomi, memantapkan sistem politik demokrasi dan mencerdaskan rakyatnya sehingga menjadi dasar bagi kekuatan bangsa dan negara. Pilihan Indonesia untuk membesarkan anggaran pendidikan sudah sangat tepat, namun Indonesia masih banyak kebutuhan yang mendesak di bidang-bidang lain seperti energi, infrastruktur jalan raya, keamanan pangan, pencegahan dan penanggulangan bencana (karena besarnya potensi ancaman bencana alam), serta berbagai PR domestik lainnya. Pada saat konsentrasi pembangunan dalam negeri terus digiatkan tersebut, tentunya Indonesia harus terus memperhatikan dinamika global, termasuk berbagai gejolak di kawasan lain sehingga dapat menghindari dampak negatif dari dinamika tersebut. Hal ini pula yang menyebabkan Indonesia perlu dekat dengan AS sebagai sumber ilmu pengetahuan dan informasi.
Dapatkah sahabat Blog I-I bayangkan, seandainya para analis intelijen Indonesia kurang memahami konteks tersebut diatas dan terbawa dalam emosi propaganda baik yang bersifat ekstrim Pro-Barat dengan semangat liberalisme yang berlebihan atau terpengaruh oleh propaganda Anti Barat atau Anti AS yang semata-mata hanya berdasarkan pada teori konspirasi dan kecurigaan tanpa alasan. Andaipun ada alasan-alasan atau bukti yang merugikan Indonesia, tentunya hal itu harus dilihat sebagai tantangan bangsa untuk lebih cerdas dalam memenangkan pertarungan strategi di dunia.

Semoga artikel ini dapat membawa pemahaman yang lebih baik tentang kemana Indonesia akan melangkah dalam dinamika global. Apakah strategi navigating a turbulent ocean sebagai sebuah konsep sudah cukup. Apakah hal itu tidak terlalu kuno sebagaimana pandangan kaum realis yang melihat dunia yang anarkis dimana ancaman tersebar dari berbagai sudut sebagaimana sebuah kapal yang berada ditengah badai lautan. Semoga juga artikel ini dapat memicu pemikiran-pemikiran yang lebih tajam lagi untuk kemajuan Indonesia Raya yang kita cintai. Sebagai bangsa yang cinta damai, seyogyanya pula Indonesia cukup percaya diri dengan karakter etnisitas, pemikiran local genius, dan pembumian agama asal Timur Tengah (Islam, Kristen) dan India (Hindu, Buddha) dan China (Konfusius) serta kepercayaan asli leluhur kita yang telah ada sejak era Pithecanthropus Erectus, dimana bangsa Indonesia adalah salah satu leluhur tertua di dunia. Sekali lagi, ingatlah kita adalah bangsa yang sangat Tua dan lupa akan kebesaran dirinya dan terjebak dalam kepicikan kepentingan pribadi dalam ketamakan individual yang membuat kita menjual diri kita untuk kekayaan pribadi dan melupakan persaudaraan sejati Indonesia Raya yang kita cita-citakan dan kita temukan kembali sejak tahun 1945. Merdeka !

Salam
Senopati Wirang

Labels: ,

Comments:
boleh dekat asal selamat,jangan jauh ataupun acuh,ambil kerjasama positifnya saja.. :)
 
Masih ingatkan pada tahun 60-an bagaimana Indonesia tampak berkawan akrab juga denga China dan kawan se-ideologisnya? kemungkinan karena di Indonesia dan China mempunyai kepentingan ideologis/politik yang sama. Kini kesamaan kepentingan pula yang membuat Indonesia seakan tampak berkawan dekat dengan Amerika, akan tetapi apa yang terjadi dimasa depan siapa yang tahu?
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters