Serial Belajar Singkat Intelijen: Agit - Prop » INTELIJEN INDONESIA

Friday, January 10, 2014

Serial Belajar Singkat Intelijen: Agit - Prop

Masih ingatkah sahabat-sahabat Blog I-I tentang istilah Agit-Prop yang merupakan singkatan dari Agitasi dan Propaganda atau dalam bahasa Inggrisnya Agitation and Propaganda?

Kalangan intel senior atau intel aktif yang pernah belajar teknik-teknik kegiatan kelompok komunis di masa lalu dapat dipastikan sangat paham dengan istilah ini.

Agit-Prop dalam sejarahnya digunakan pertama kali oleh kelompok komunis atau minimal dilabelkan sebagai bagian dari kegiatan kaum komunis atau afiliasi lainnya seperti Front Group, Study Circle yang dimasa lalu memang buatan dari para aktivis kiri yang dinamis dan kritis.

Agit-Prop melibatkan pencitraan dramatis terhadap sebuah isu, misalnya demonstrasi massal, pidato-pidato yang bernuansa desakan dan memancing emosi, dan peristiwa-peristiwa yang diciptakan untuk memancing perhatian media.

Contoh yang kebetulan baru saja terjadi dan akan mudah sahabat Blog I-I pahami sbb:
  1. Kemunculan seseorang tidak kenal (yang kemudian diketahui identitasnya sebagai Masnun) yang secara atraktif membawa tali gantungan berwarna oranye menyambut kedatangan Anas Urbaningrum di kantor KPK.
  2. Pelemparan telur oleh seseorang yang kemudian diketahui sebagai Arianto, Ketua DPC Palmerah LSM Generasi Muda Peduli Tanah Air (Gempita).
  3. Aksi atraktif Mamat di Tuban yang menggantung boneka yang diibaratkan sebagai Anas.
Keseluruhan aksi-aksi yang berada dalam seputaran kasus semacam itu adalah khas sebuah kegiatan agit-prop yang dalam perkembangannya bukan lagi hal yang khas miliki kaum komunis, melainkan juga teknik jitu yang diandalkan kalangan intelijen dalam menciptakan suatu kondisi atau cipta-kondisi. 

Kegiatan agit-prop disadari atau tidak juga dilakukan oleh kelompok-kelompok politik non-komunis, khususnya dalam rangka mencapai kekuasaan, mempertahankan kekuasaan, atau bahkan merusak sistem yang sudah mapan. 

Bahwa saya mengambil contoh kasus di terkait Anas dan KPK semata-mata hanya untuk kemudahan kita memahami bahwa aktivitas-aktivitas yang sepintas terlihat biasa saja, sesungguhnya memiliki referensi dalam ilmu intelijen. Hal ini tidak berarti kegiatan agit-prop yang terjadi selalu didalangi oleh intelijen, melainkan sangat mungkin dilakukan oleh individu atau kelompok yang menjadi lawan dari target yang mungkin mengerti betapa besar dampak agit-prop dalam penciptaan opini publik. Sangat jarang kegiatan yang bernuansa agit-prop dilakukan sebagai refleksi spontanitas individu yang memiliki idealisme tinggi.

Pada level yang lebih tinggi, agit-prop juga menjadi faktor pendorong terjadinya konflik komunal, pemberontakan (separatisme), dan terorisme. Hal ini dapat kita cermati bagaimana misalnya ulama radikal menghasut pengikutnya untuk melakukan aksi kekerasan seperti menghalalkan pembunuhan. Hal yang sama juga terjadi manakala situasi tidak normal terjadi di wilayah yang rentan dengan konflik etnis dan agama.

Semoga bermanfaat
SW


Labels: , ,

Comments: Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters