Tentang Film The Act of Killing » INTELIJEN INDONESIA

Thursday, January 30, 2014

Tentang Film The Act of Killing



Pertama kali saya menonton film the Act of Killing (JAGAL) tahun 2013 lalu, tidak ada hal yang terlalu istimewa dengan film tersebut, karena bangsa Indonesia sudah faham tentang situasi kebathinan Indonesia sesuai konteks sejarahnya.


Film tersebut telah dimanfaatkan oleh simpatisan komunis yang berlindung dibalik isu Hak Asasi Manusia yang telah lama "membenci" Indonesia karena kekalahan politik di masa lalu. Sebut saja misalnya kelompok Tapol (Tahanan Politik) yang dimotori oleh Carmel Budiardjo yang kemudian didukung oleh segelintir sahabatnya di Parlemen Inggris dan beberapa aktivis sosialis-komunis yang mengaku peduli dengan Indonesia. Kelompok lain adalah  East Timor Action Network (ETAN) yang belakangan namanya dirubah sedikit menjadi East Timor and Indonesia Action Network yang dimotori oleh John M. Miller. Kedua organisasi tersebut sesungguhnya kecil namun memiliki jaringan yang bagus di berbagai negara khususnya di markasnya sendiri yakni ETAN di AS dan Tapol di Inggris. Perlu diakui bahwa kegiatan Tapol dan ETAN telah banyak mencapai hasil yang juga dinikmati oleh bangsa Indonesia, salah satunya adalah demokratisasi yang telah merubah wajah Indonesia menjadi negara demokrasi. Walaupun peranan ETAN dan Tapol dapat dikatakan kecil karena konsentrasi kegiatan mereka yang relatif sempit, namun kadangkala gaungnya seperti lebih besar dari realitanya.

Kembali ke film the act of killing.
Kisah Anwar Congo, Adi Zulkadry, Herman Koto atau bahkan ilustrasi lainnya di Medan, Sumatera Utara tampak seperti dokumentasi dan kesaksian dari tokoh-tokoh yang dipilih dalam film tersebut. Terlepas dari tepat atau tidaknya penggambaran kisah jagal sepanjang film tersebut, menurut pandangan saya, negara tidak perlu memberikan respon karena film dokumenter sekalipun hanyalah satu sudut pandang yang berhasil direkam. Dalam kaitan ini, adalah sudut pandang atau kisah yang diingat dari tokoh yang dipilih sutradara. Andaikata ingatan tokoh yang dipilih dalam film tersebut valid dan benar terjadi, maka detail pembunuhan yang digambarkannya adalah kejahatan dirinya sendiri dan pengakuan yang dilakukannya melalui sebuah film adalah refleksi pribadi para tokoh yang diwawancarai tersebut. Detail kekejaman yang digambarkan tokoh-tokoh dalam film tersebut adalah khas perilaku jahat dari sang pelaku sendiri. Satu hal penting yang harus kita sadari bersama adalah bahwa Bangsa Indonesia tidak memiliki mimpi buruk sebagaimana pelaku kekejaman dalam film tersebut. Mengapa kita tidak memiliki mimpi buruk sebagaimana pelaku kekejaman dalam film tersebut, karena mayoritas bangsa Indonesia sama sekali tidak terlibat dengan berbagai peristiwa itu dan hal itu menjadi kurang penting manakala dikaitkan dengan kepentingan bangsa. Namun bila dikaitkan dengan kepentingan menengakan keadilan dan rasa kemanusiaan, barangkali upaya rekonsiliasi kebenaran masih dapat diteruskan dalam rangka pembelajaran generasi muda Indonesia untuk masa depan Indonesia yang lebih baik. 

Cerita satu sisi dari salah seseorang atau beberapa orang yang mengaku sebagai pelaku kejahatan di masa lalu yang dikemas dan didramatisir ala akting theatrikal memang menarik dan mungkin jarang dilakukan, sehingga film tersebut mendapatkan penghargaan. Hal ini bukan saja karena faktor keunikan kisahnya, melainkan juga karena detail kekejaman yang sulit diterima akal mayoritas bangsa Indonesia. Satu hal yang janggal adalah sisi-sisi propaganda yang menggambarkan ultranasionalis ala Nazi seolah tidak ada rasa bersalah atas nama Pancasila yang direpresentasikan dengan Pemuda Pancasila.

Negara Indonesia pada saat itu dapat dikatakan tidak normal, setelah coup atau pengalihan kekuasaan dari Presiden Sukarno kepada Presiden Suharto, potensi konflik dan ketegangan terjadi dimana-mana. Hal itu disebabkan oleh meruncingnya konflik antara kaum komunis dengan kelompok nasionalis dan agama.

Komunisme merupakan ideologi yang dijadikan "musuh" oleh pemerintah Orde Baru dan dijadikan musuh bersama bangsa Indonesia. Hal itu merupakan fakta sejarah dimana perang antara kaum komunis Indonesia melawan kelompok agama dan nasionalis meluas dimana-mana. Apabila kaum komunis lebih cerdas dan memenangkan pertarungan genting pada periode 1950-an hingga akhirnya kalah pada tahun 1965, tentunya Indonesia akan seperti negara gagal bekas Uni Soviet, karena aliran pimpinan komunis pada waktu itu adalah berkiblat kepada Moskow dan bukan Beijing. Bila kelompok Tapol dan ETAN menuduh terjadi pembantaian jutaan kaum komunis, maka bila komunis menang barangkali bangsa Indonesia akan tersisa separuh saja. Bahkan sebelum Komunis menang sekalipun, telah banyak pimpinan agama dan rakyat Indonesia yang menjadi korban pembunuhan. Saya masih ingat cerita bagaimana Muso Alimin melancarkan operasi pembunuhan agar rakyat Indonesia memilih antara Muso atau Sukarno yang juga pernah direkam sejarah. Entahlah apakah masih ada saksi hidup kekejaman Komunis Indonesia yang dapat direkam dalam film dokumenter. 

Bagi saya. tahun 1965 adalah tahun kritis yang akhirnya dimenangkan oleh nasionalis dan Tentara dengan dukungan dari kelompok agama. Bahwa banyak korban di pihak yang kalah yakni komunis seperti logika perang saudara dimana yang kalah menderita dan yang menang berkuasa. Pada saat itu, belum ada aturan main seperti sistem demokrasi dan tidak ada penegakan hukum, sehingga hukumnya adalah darurat militer, sehingga tidak mengherankan apabila Pemerintah membentuk Kopkamtib untuk memulihkan ketertiban. Bila langkah-langkah strategis tidak ditempuh, maka kejadian saling bunuh antara anggota masyarakat akan mirip dengan situasi saling bunuh antara etnis di Afrika, tidak terkendali dan terjadi dalam jangka waktu yang panjang. Pewawancara tampak berupaya menggiring peristiwa sejarah 1965 ke dalam diskusi kejahatan perang, hal ini sangat tidak masuk akal karena konflik yang digambarkan dalam film adalah antar warga masyarakat non-combatant. 

Sisi baik dari film the Act of Killing adalah membuka sisi gelap sejarah Indonesia yang berdarah-darah untuk menyadarkan kita sebagai bangsa untuk tidak mengulanginya. Meskipun film tersebut tidak dapat digeneralisir sebagai fenomena umum yang terjadi di Indonesia tahun 1965-an, namun kita hingga saat ini masih menyaksikan bagaimana amuk massa dan kekejaman manusia Indonesia masih terjadi. Sebagaimana terjadi pada tahun 1998, konflik Islam-Kristen di Poso, kasus antar etnis Dayak-Madura di Sampang, konflik Aceh, konflik Ambon, konflik di Nusa Tenggara Barat, konflik Timor-Timur, konflik Papua, kelompok Ahmadiyah, kelompok Shiah, dll. 

Tidak ada yang perlu ditakuti dari sejarah Indonesia betapapun suramnya. Namun yang harus diperhatikan adalah bahwa pengungkapan sejarah bukan untuk mengungkit-ungkit menang-kalah yang akan membangkitkan kembali semangat saling bunuh yang pernah terjadi. Hal ini juga bukan alasan untuk membangkitkan komunisme yang akan kembali memecah belah bangsa Indonesia dan menghambat kemajuan Indonesia ke depan.

Kita punya sejarah, namun kita juga punya masa depan. Apakah kita harus larut dan takut dengan sejarah tentunya TIDAK PERLU. Namun kita harus sadar bahwa sejarah kita tidak sempurna sebagai bangsa. Sebagaimana juga pembantaian yang dilakukan pendatang Eropa di Amerika Serikat, kekejaman penjahat dari Inggris yang dibuang ke Australia dan membantai suku Aborigin. 

Hal yang perlu disadari oleh bangsa Indonesia adalah bahwa kita memiliki potensi untuk KEJAM dan hal ini pernah terjadi dalam sejarah Indonesia yang belum dewasa, belum matang, dan belum demokratis. 

Sisi bahaya dari film dari sisi kebangsaan dan kepentingan nasional Indonesia adalah dapat menjadi alasan untuk kebangkitan komunisme Indonesia.  Kemudian seolah-olah kaum komunis Indonesia tidak kejam dan sebaliknya kaum nasionalis, agama dan tentara yang sangat kejam. Satu hal yang perlu disadari adalah bahwa kaum komunis tersebut juga bangsa Indonesia yang memiliki potensi untuk KEJAM terlebih bila berkuasa.

Mengapa ada pihak-pihak yang terus-menerus menuntut "permintaan maaf" terhadap kaum komunis? Hal ini merupakan langkah strategis untuk memberikan landasan kebangkitan komunisme Indonesia yang dapat hidup di alam demokrasi. Dengan bangkitnya komunis, maka komponen politik domestik Indonesia akan kembali NAS-A-KOM yang akan cenderung tidak stabil dan menghambat Indonesia menjadi bangsa yang besar dalam jangka waktu 25-50 tahun ke depan. Mengapa tidak akan stabil, karena karakter dan potensi kita untuk menjadi KEJAM.

Apa buktinya kita berpotensi KEJAM? Dengan dalih Nasionalisme, umat Islam yang ingin menegakkan syariah Islam dan tokoh besar Islam seperti Kartosuwiryo dan sebagian tokoh-tokoh lainnya dieksekusi. Dengan dalih Agama, kelompok Jemaah Islamiyah tega membunuhi manusia dengan cara terorisme. Dengan dalih komunisme, tokoh-tokoh agama Islam di Jawa juga dibunuhi oleh kaum komunis. 

Akhir kata, kita perlu menyadari kondisi obyektif bangsa kita sendiri dengan segala potensinya dari sejarahnya maupun masa depannya. Film the Act of Killing dapat menjadi cermin untuk introspeksi, namun bukan rujukan kebenaran sejarah. Tidak perlu risau bagaimana film tersebut "mendiskreditkan" potensi-potensi positif bangsa Indonesia yang saat ini demokratis, menjunjung tinggi HAM, dan giat membangun bangsa baik melalui good governance di dalam negeri maupun bisnis yang handal di dunia internasional.

Semoga bermanfaat, mohon kritiknya manakala saya keliru.

Salam,
Senopati Wirang


Labels:

Comments:
sangat recomended tampaknya nih.
jadi penasaran.
 
Review yang jelas dan jujur, memang banyak topik kontroversial yang ditelusuri film dokumenter Jagal/The Act of Killing.

Tapi film itu fokusnya lebih kepada tindakan manusia dalam membunuh manusia lain, dan lebih dari itu, lepas dari semua peraturan yang diharapkan diterapkan ke tindakan pengambilan nyawa orang lain, lepas dari konsekwensi moral. Saya sangat setuju kita jangan takut akan sejarah, pemerintah Indonesia seharusnya mengakui terjadinya pembunuhan massal 65/66 sebagai bagian dari sejarahnya dan memastikan jangan sampai terjadi kejadian dimana rakyat Indonesia darahnya bercucuran sebanyak itu.

Masalah permintaan maaf itu bukan kepada kaum komunis, lebih kepada korban sesama manusia yang nyawanya ditelan kejadian itu, komunis atau tidak jangan kita lupa mereka itu dulunya rakyat Indonesia(setidak cocoknya ideologi mereka dengan Pancasila) mereka masih saja sesama manusia, dan TNI di bawah pimpinan Soeharto bukan hanya membunuh mereka, tapi mendorong rakyat biasa untuk berpartisipasi dalam pembunuhan massal itu, jelas ini kejahatan perang, pelakunya rakyat yang di belakangi pemerintah saat itu.

Generasi saya sudah dari kecil dididik PKI itu setan, PKI itu pembunuh dan memang sejarah Polpot atau Stalin menunjukkan itu. Dari kecil diajarkan kalau saja PKI menang Indonesia rakyatnya dibunuh sebanyak mungkin, tapi kenapa organisasi yang berambisi menghabisi rakyat Indonesia bisa begitu mudahnya dihabisi. Saya sangat setuju Komunisme tidak cocok di Indonesia, tetapi sejarah G30S PKI memang sangat amat tidak jelas. Korban dari pembunuhan massal bukan hanya yang bersalah(Komunis) tapi juga kaum Tionghoa yang jadi target, bahkan orang-orang yang tidak ada hubungannya juga menjadi korban amuk masyarakat yang dihasut Soeharto. Kalau mendengarkan cerita G30S dari orang-orang yang tua ceritanya tidak jelas, ada yang bercerita PKI jahanam membunuh orang banyak dengan memaksakan ideologi, kalau tanya kaum Tionghoa ada yang menceritakan rasa ketakutan mereka diburu tanpa alasan, rasanya kita kalau melihat ke cerita ini kita menyamankan diri dari kenyataan begitu banyak orang mati dengan pernyataan "Mereka semua komunis jahanam, bukan manusia, mereka pantas mati."

Menonton film dokumenter ini saya jadi berpikir, kita terus saja meyakinkan diri(dan dengan alasan yang baik) bahwa komunis yang sudah dibunuh adalah monster, tapi dengan melakukan itu, kita lupa mereka itu juga manusia, dan kita memperlakukan mereka dengan cara sama yang kita percaya mereka akan memperlakukan kita.
Bukannya jadi sama saja pembunuh dan yang dibunuh.

Maaf kalau ada yang salah, ini murni pendapat saya yang saya sendiri tidak sepenuhnya yakini.
 
ulasan yang jelas ketara , dari seorang yang kurang suka dengan komunis , sungguh tidak dapat di terima suatu pembunuhan massal terhadap satu kelompok masyarakat, dengan alasan bahawa meraka berpotensi menjadi kejam . berpotensi memberontak, berpotensi membunuh, pemberantasan pki '65 adalah sebuah genosida yang tidak perlu terjadi ,
 
I have read some excellent stuff here. Definitely price bookmarking for revisiting.
I wonder how much effort you place to make any such
magnificent informative site.

My weblog: friendship
 
Ulasan ceritanya memang bagus , tapi penggambarannya terlalu berlebihan. Yang terpenting, dibawah 18 tahun jangan melihat.
 
nonton lh youtube. lalu cari "the shadow play (CIA roles in Indonesian killings of 1965-1966)". JANGAN KAGET.
 
Kebetulan saya melihat komen anda dan jujur saya senang, saya -dengan mohon maaf terlebih dahulu, sempat berpikir mayoritas orang Indonesia berpendapat seperti sang penulis.

Tapi dari komen anda saya melihat anda orang yang menghargai nyawa orang lain, tidak seperti penulis yang mengatakan bahwa pembantaian '65 "kurang penting manakala dikaitkan kepentingan bangsa".

Kadang saya berpikir, orang Indonesia membangga-banggakan diri sebagai orang cinta damai dan berbudaya. Tapi sikap yang tidak mengindahkan nyawa jutaan orang yang dibantai dengan tidak adanya keadilan, apakah itu mencerminkan perdamaian dan adanya budaya?
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters