Tentang Kasus Teroris Ciputat » INTELIJEN INDONESIA

Monday, January 06, 2014

Tentang Kasus Teroris Ciputat

Sungguh sebenarnya saya agak enggan membahas kasus ini karena belum dapat dikatakan final ditutup secara penyelidikan dan hukum. Namun berhubung banyak permintaan dari kalangan intelijen, aktivis HAM maupun sahabat Blog I-I meminta pandangan saya, maka saya luangkan waktu untuk menuliskan pandangan saya terhadap kasus Kelompok Teroris Ciputat.

Kelompok teroris Ciputat jelas terinspirasi oleh para seniornya yang bejihad baik di wilayah konflik seperti Afghanistan dan Filipina Selatan maupun di wilayah damai Indonesia melalui aksi-aksi teror yang diwarnai aksi kriminal berupa perampokan. Mereka adalah contoh sel-sel kecil yang tersebar yang pada saat ini sedang mengupayakan sebuah jalan untuk berjihad di wilayah konflik di Timur Tengah, khususnya Suriah. Pada saat ini ribuan orang asing berjihad di Suriah baik dari kelompok Sunni maupun Shiah dan sepertinya konflik terbuka masih akan terus berlanjut yang membuka kesempatan untuk "melatih diri" di medan peperangan dalam mengasah keyakinan terhadap jihad. Daya tarik Suriah dilengkapi juga dengan seruan jihad dari kelompok baru yang bermarkas di Sinai, Mesir yakni Jamaat Ansar Bayt al-Maqdis yang menyerukan perlindungan terhadap Masjid Al-Aqsa melalui jalan jihad. 


Lebih jauh lagi, bagi kita yang sudah pernah melakukan perjalanan di Timur Tengah, maka untuk masuk ke Suriah jauh lebih mudah daripada ke Afghanistan. Dengan lokasi di antara Lebanon, Irak, Yordania dan Turki, akan sangat mudah bagi para jihadis untuk masuk ke wilayah konflik dan dapat difasilitasi oleh kelompok-kelompok jihad yang sedang berperang di Suriah.

sumber: merdeka.com

Hal pertama yang ingin saya ingatkan kepada seluruh sahabat Blog I-I adalah jangan terlalu cepat menilai dan berprasangka atau membuat asumsi yang bombastis terhadap suatu kasus tanpa berdasarkan bukti-bukti yang kuat yang dapat dipergunakan sah secara hukum. Hal ini merupakan dasar dari investigasi Polisi maupun intelijen, dimana bukti adalah alat pokok dalam pengungkapan suatu kasus.

Hal pertama dalam pandangan Blog I-I yang dapat dikonfirmasi kebenarannya adalah pernyataan tanggal 3 Januari 2014 dari Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri, Brigadir Jenderal Boy Rafly Amar, yakni generasi teroris Ciputat bukan dari kelompok generasi Baasyir. Menurut informasi yang dikumpulkan jaringan Blog I-I, terdapat sekitar kurang dari 10 kelompok kecil yang terinspirasi oleh Tadzikroh Abu Bakar Baasyir, utamanya dalam hal konsep jihad dan kafirnya/thagut NKRI.

Blog I-I menyayangkan bahwa analis Polisi tidak secara sungguh-sungguh membedah Buku Tadzkiroh jilid I maupun II secara utuh. Akibatnya muncul pernyataan Pimpinan tertinggi Polri bahwa buku Tadzkiroh tersebut menjadi sumber inspirasi aksi-aksi perampokan. Hal ini tidak 100% salah, namun kurang tepat karena dari keseluruh tulisan yang bernuansa propaganda jihad tersebut hanya terdapat dua bagian yang dapat dikaitkan dengan fa'i (perampokan) yakni pada bagian rampasan perang (ghanimah) dalam situasi konflik perang terbuka, dan bagian status Indonesia yang dipandang "memerangi kaum muslimin" (negeri harbi) dimana secara tidak langsung aksi fa'i dapat ditafsirkan sebagai pengambilan hak kaum Muslimin dari kaum yang "memerangi Muslim" tersebut. Sehingga apabila definisi harbi baik dari aparatur pemerintahnya hinga masyarakatnya yang dianggap moderat Murji'ah yang juga memusuhi "Muslim sejati yang berjihad" maka akan sangat logis, apabila aksi fa'i menjadi seperti "dibolehkan".

Penjelasan saya tersebut dapat diartikan sebagai berikut, buku Tadzkiroh tidak secara langsung menjadi sumber dari anjuran melakukan aksi perampokan atau fa'i, melainkan dapat ditafsirkan oleh pembacanya sebagai "restu" karena dilakukan di negeri harbi.

Kembali ke kelompok Ciputat. Menurut pandangan Blog I-I, kelompok Ciputat belum memiliki kemampuan yang cukup canggih untuk melakukan aksi-aksi teror yang membahayakan. Namun demikian potensinya dikemudian hari dapat sangat membahayakan keselamatan publik di Indonesia. Tindakan Polisi mendeteksi berbagai aksi rampok yang terkait dengan kelompok Ciputat sudah tepat dan patut kita hargai setinggi-tingginya. Dalam kaitan ini, bukti-bukti yang tersedia sudah lebih dari cukup untuk menjerat seluruh tersangka ke penjara.

Namun masih ada ganjalan dalam hal eksekusi akhir dimana tertembaknya 6 orang tersangka yang akhirnya tewas menimbulkan polemik di masyarakat, khususnya dari kalangan pembela HAM. Apakah rakyat patut berterima kasih dengan eksekusi mati? Ataukah menuntut seluruh proses penanganan terorisme dilakukan secara hati-hati dengan tangkap hidup yang berarti Polisi harus siap mati menjadi korban dalam upaya tangkap hidup terhadap tersangka bersenjata dan memiliki pengetahuan tentang bahan peledak. Hal ini menjadi sangat sulit, karena pandangan umum, khususnya pembela HAM melihatnya dari sisi penegakan hukum, sementara para teroris mengumandangkan "perang" gerilya melawan pemerintah dalam skala sangat kecil. Apabila aparat polisi menggunakan pendekatan yang lebih halus dengan pengepungan, maka kemungkinan jatuhnya korban sipil di sekitar lingkungan menjadi semakin besar, sehingga pilihan penggerebekan dalam waktu cepat menjadi pilihan terbaik bagi komandan di lapangan. 

Setelah suatu kejadian, biasanya kita dapat menganalisa keadaan dengan mengira-ngira duduk kejadian. Bahwa korban berjatuhan dalam kondisi tidak berdaya, tentu akan tergambar karena mereka sudah tergeletak menjadi korban. Bahwa bukti-bukti saling tembak atau keberadaan bom yang meledak skala kecil atau tidak meledak juga dapat digambarkan baik melalui fakta di tempat kejadian maupun melalui pernyataan-pernyataan saksi. Ingat saksi walaupun tidak berbohong sangat mungkin menterjemahkan suatu keadaan secara keliru karena pada saat kejadian sekalipun, saksi dapat saja melakukan interpretasi sendiri yang tidak tepat. Hal ini sudah menjadi bagian basic dari investigasi Polisi maupun intelijen yang berpengalaman.

Lalu bagaimana yang terbaik? Khusus terhadap tersangka teroris atau penjahat bersenjata yang diketahui berbahaya, keputusan untuk tembak ditempat merupakan bagian dari prosedur penegakan hukum, dimana hal ini selain untuk keselamatan aparat polisi yang bertugas, juga untuk meminimalkan korban dari masyarakat yang berada di lingkungan operasi. Kita tentunya masih teringat aksi saling tembak yang terjadi dalam penggerebekan Dr. Azhari di Malang dan Noordin M Top di desa Kepuhsari, Solo yang berlangsung berjam-jam. Sejauh ini, polisi sukses meminimalkan/menghindari jatuhnya korban masyarakat dalam operasi penggerebekan, namun ketika tidak ada kejadian tentunya hal ini kurang diapresiasi. Karena menjadi hak asasi dari masyarakat yang berada di lokasi kejadian untuk terhindar dari insiden kematian karena Polisi tidak dapat mencegah meluasnya lokasi penggerebekan. Isolasi lokasi penggerebekan yang berpotensi terjadinya tindakan perlawanan dengan senjata merupakan standar prosedur dimana tujuannya adalah mencegah pelarian dan kemungkinan warga biasa menjadi sandera atau korban.

Informasi warga yang menyebutkan bahwa ada orang-orang asing yang berkeliaran yang diduga intel sejak tiga bulan lalu di Kampung Sawah bukan suatu kejanggalan karena hal itu merupakan bagian dari operasi surveillance polisi yang memastikan bahwa target sesuai dengan bukti-bukti yang diperoleh dari kasus perampokan sebelumnya.

Apabila hal ini benar, informasi tentang dua orang intel yang sempat mendatangi rumah terduga teroris dapat dilihat sebagai pengecekan akhir sebelum penggerebekan. Hal ini bukan tanpa resiko tinggi karena bisa saja dua intel tersebut dibunuh tersangka teroris. Kemungkinan besar hasil laporan intel adaah bahwa kondisi rumah membahayakan operasi dan kepadatang penduduk dan lingkungan memungkinan pelarian tersangka bersenjata yang dapat membahayakan masyarakat sekitar.

Kesimpulan bahwa aparat kepolisian dapat melakukan penangkapan dalam keadaan hidup bukan berdasarkan pada informasi belaka melainkan kepada analisa kondisi lapangan termasuk keberadaan bahan peledak atau bom rakitan, kepemilikan senjata api, dan karakter tersangka. Dalam kasus terorisme, dapat dipastikan bahwa umumnya teroris sejati siap mati, sehingga menjadi resiko tertinggi dalam operasi polisi dibandingkan dengan penangkapan maling misalnya.

Selanjutnya begitu banyak analisa dan dugaan-dugaan yang seharusnya diteliti kembali di lapangan dan hal ini tentunya juga menuntut keterbukaan dari Polisi guna memperbaiki operasi-operasi sejenis di kemudian hari. Perbedaan pendapat mengenai ditembak dalam keadaan tidak bersenjata dan saling tembak jelas sangat berbeda, hal ini akan mengarah kepada konsep justified killing dimana seorang aparat keamanan dapat melumpuhkan tersangka dengan menembakan senjata karena tersangka mencoba membunuh aparat atau tersangka dapat membahayakan nyawa masyarakat. Dalam kasus ini Polisi dibenarkan dan dilindungi oleh hukum karena dalam rangka penegakan hukum.

Terkait dengan delik persoalan ini tentunya Blog I-I tidak dapat berasumsi karena tidak melakukan penyelidikan dan tidak berada di lokasi.  Dibutuhkan kebesaran jiwa polisi yang melakukan operasi untuk secara tegas menjelaskan apakah tembak mati ditempat terhadap tersangka teroris dapat dikatakan justified. Menurut keterangan pers, jelas telah diumumkan bahwa penembakan tersebut telah tepat dan sesuai prosedur. Namun demikian, Polisi perlu waspada bahwa tindakan gegabah dapat melahirkan teroris-teroris baru yang berpotensi secara khusus mendendam kepada polisi dan simpati masyarakat-pun dapat luntur bila bukti-bukti bicara yang sebaliknya. 

Blog I-I berharap kritik terhadap Polisi bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme Polisi dalam melindungi dan mengayomi masyarakat dari ancaman kejahatan, termasuk terorisme. Blog I-I juga berharap aktivis HAM untuk lebih teliti dalam mencermati kasus-kasus sejenis dan menghindari tuduhan-tuduhan sepihak yang hanya berdasarkan pada dugaan yang kurang diperkuat bukti-bukti. Harapan Blog I-I kepada polisi tentunya adalah peningkatan profesionalisme dan sinergi antara operasi taktis dan strategis dalam penanganan terorisme tujuan akhirnya adalah menciptakan rasa aman bagi rakyat Indonesia dari ancaman terorisme.

Sekian, semoga bermanfaat.
SW





Labels: , , , ,

Comments: Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters