Benarkah Intel Pembohong? » INTELIJEN INDONESIA

Sunday, February 16, 2014

Benarkah Intel Pembohong?

Beberapa sahabat Blog I-I yang kemungkinan besar merupakan anggota dari komunitas intelijen menyampaikan perasaaan galau atau gundah di hati perihal pandangan bahwa intel suka berbohong. Hal itu juga dikaitkan dengan kesalehan dalam beragama, dengan prinsip-prinsip moral dan etika baik berdasarkan agama maupun budaya kita sebagai bangsa Indonesia.

Sebuah persoalan yang sulit dan kompleks yang harus kita pahami dengan keyakinan, yang mana kita juga tidak selayaknya secara sembarangan menganggap enteng masalah yang dapat mempengaruhi psikologi kita sebagai manusia yang dasarnya adalah baik.
Sebagai manusia beragama tentunya kita perlu keselarasan dalam keyakinan dan tindak perbuatan atau perilaku keseharian kita serta tidak mengorbankan keyakinan kita dengan membiarkannya tergerogoti oleh sikap lemah kita.

Meskipun nuansa penjelasan saya berdasarkan pada agama Islam yang dianut oleh mayoritas masyarakat Indonesia, namun hal ini tidak menutup pendekatan yang sama dengan keyakinan pada agama lain yang juga dianut oleh sebagian masyarakat Indonesia. Prinsip-prinsip dasar bahwa berbohong tersebut dilarang oleh agama dan dipandang sebagai perbuatan yang tidak baik adalah sama di mata semua agama. Bahkan dalam budaya asli Indonesia sekalipun, kebohongan dipandang sebagai perbuatan sangat tercela yang dapat mencelakakan orang lain maupun pelakunya.

Umat muslim yang belajar pada umumnya mengetahui bahwa berbohong atau berdusta merupakan salah satu ciri dari orang munafik. Baik di dalam ayat Al-Qur’an maupun hadits Nabi shollallahu ’alaih wa sallam cukup jelas bahwa sifat kaum munafiqun dikaitkan dengan kebiasaan berdusta. Berbohong merupakan ciri khas utama kaum munafiqun. Sebagaimana dalam surat Al-Munafiqun dibawah ini:


إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ
“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.” (QS. Al-Munafiqun [63] : 1)

Kemudian dalam salah satu hadits Nabi shollallahu 'alaihi wassalam disebutkan kebiasaan atau karakter orang munafik sbb:
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًاأَوْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْ أَرْبَعَةٍ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ
Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada empat hal yang bila ada pada seseorang berarti dia adalah munafiq atau siapa yang memiliki empat kebiasaan (tabi’at) berarti itu tabiat munafiq sampai dia meninggalkannya, yaitu jika berbicara dusta, jika berjanji ingkar, jika membuat kesepakatan khiyanat dan jika bertengkar (ada perselisihan) maka dia curang”. (HR. Bukhari No. 2279)

Tidaklah mengherankan apabila seorang intel merasakan gundah di dalam hatinya manakala melakukan kegiatan yang mengharuskan dirinya berbohong. Sudah sepatutnya para agen intelijen dibekali pemahaman yang cukup mengenai masalah ini dalam rangka memelihara kesehatan jiwanya dan mencegahnya terjerumus menjadi orang munafik. 

Saya meyakini bahwa dalam agama lain-pun berbohong juga dipandang sebagai perbuatan tercela yang melahirkan dosa dan akan mengotori jiwa seseorang. Sehingga sebagai intelijen yang beriman perlu kiranya untuk mewaspadai sifat dan kebiasaan berbohong tersebut. Lalu bagaimana dengan kenyataan bahwa dalam melaksanakan tugas seorang intel mau tidak mau akan berbohong misalnya mengenai jati diri yang sesungguhnya ataupun mengenai maksud dan tujuan dari keberadaannya di suatu lingkungan. Hal ini menciptakan suatu pertentangan di bathin kita bukan?

Kita tentunya tidak menginginkan diri kita termasuk dalam golongan orang-orang pembohong yang tercela apalagi terkutuk karena merugikan banyak pihak. Kita juga tidak ingin terjebak dalam kegamangan identitas diri yang dipandang hina oleh masyarakat karena digeneralisir sebagai kumpulan manusia pembohong. 

Sahabat Blog I-I perlu menyadari sepenuh-penuhnya bahwa kebohongan juga akan melahirkan suatu penyakit masyarakat yang sulit memiliki rasa saling percaya. Kebohongan demi kebohongan akan melahirkan fitnah di tengah-tengah lingkungan kita dan akhirnya melemahkan persaudaraan. Kebohongan dan pertentangan bathin seorang agen intelijen juga akan melahirkan karakter ragu-ragu dalam mengambil keputusan dan cenderung akan mencelakakan dirinya. Selain itu akan melahirkan sikap was-was takut kebohongannya akan terbongkar. Hal itu juga akan sangat merugikan baik secara individu maupun kelompok dimana tanpa adanya keyakinan pada misi pekerjaan, yang terkoyak-koyak adalah hati seorang intel.

Saya tidak akan meneruskan pembahasan bahaya bohong tersebut hingga ke dosa dan resiko yang ditanggung hingga hukuman baik di dunia maupun di akhirat.

Apakah dengan demikian maka seorang intel dipastikan akan masuk golongan orang-orang munafik dan menjadi ahli neraka?

Hal ini tentunya membutuhkan penjelasan tafsir dari seorang ahli agama, penjelasan pakar moral dan etika, penjelasan dari ilmu psikologi, dan penjelasan-penjelasan lain guna melahirkan ketentraman di hati seorang intel. Namun saya akan coba menjelaskan masalah ini berdasarkan pemahaman pribadi dan pengalaman hidup yang cukup panjang dalam kebohongan demi bangsa dan negara Indonesia.Intelijen, spy, mukhabarat, atau apapun namanya memerlukan suatu upaya-upaya tertentu guna mencapai tujuannya. Salah satunya adalah untuk dapat berbohong secara spontan dan alami ketika berada di lingkungan yang menjadi sasarannya atau di wilayah musuh. Bayangkanlah suatu situasi perang bahwa kematian senantiasa mengintai seorang operator intelijen, sehingga tidak akan terhindarkan bahwa seorang agen pasti akan menggunakan identitas palsu dan harus berbohong bukan saja untuk melindungi keselamatan dirinya melainkan juga untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan bangsa dan negaranya. Intel akan selalu dibenci oleh musuh-musuhnya karena sulit terdeteksi dan dampak kegiatan intelijen akan fatal. Itulah sebabnya seorang intel yang sadar akan selalu siap mengakhiri hidupnya manakala kegiatannya terbongkar. Baik di masa lalu maupun di masa sekarang, tertangkapnya seorang intel sering berakhir dengan penyiksaan dan kematian. Sehingga seorang intel memiliki alasan yang sangat kuat untuk berbohong, karena hal itu sudah menjadi bagian dari skenario pekerjaannya. Apakah hal ini berdosa? Apakah hal ini menjadi dasar untuk memasukan intel ke dalam golongan orang munafik? 

Sangat dapat dipahami bila bangsa lain membenci intel yang menyusup, tetapi akan sangat menyedihkan dan menyakitkan hati siapapun bila ada suatu bangsa yang memperlakukan intel-nya sendiri sedemikian buruknya setelah ia selalu siap sedia untuk mati bagi bangsanya sendiri. Kebohongan yang dibangun di dunia intelijen bukan untuk keuntungan pribadi atau kelompok melainkan untuk kemaslahatan rakyat yang dicintainya. Pengorbanannya bahkan hingga merasuk jiwanya dalam kerelaan untuk menjalani kehidupan yang tidak nyaman. Kebohongan intel juga tidak merusak jati diri seseorang sehingga menjadi ciri kemunafikan karena hal itu dilakukan secara temporer dalam kegiatan tertentu dan tujuan tertentu yang jelas dasarnya. Sehingga hal ini dapat dianggap sebagai seni berperan dan bersandiwara di teater konflik antar bangsa.

Namun demikian, tetap ada bahaya dari kegiatan berbohong yang dilakukan seorang intel dalam pekerjaannya. Bahaya tersebut adalah membawa kegiatan berbohong dalam kehidupan pribadi yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaan atau misi untuk bangsa dan negara. Bahkan demi prestasi dan jabatan kadangkala intel juga tergoda untuk berbohong dalam membuat laporan sehingga malahan menyesatkan dan menyengsarakan rakyat. Hal inilah yang dapat masuk kategori dosa dan masuk dalam golongan orang-orang munafik. Bila penyakit berbohong masuk ke wilayah pribadi seorang intel, maka ia telah keluar dari profesionalisme. Dalam kondisi ini, secara psikologis seorang intel munafik akan menjustifikasi kebohongannya seolah demi misi bangsa dan negara padahal hakikatnya keuntungan pribadi. Saya dapat pastikan bahwa intel semacam ini sudah terjangkiti penyakit hati dan lupa akan kemuliaan pekerjaan seorang intel.

Diperlukan kewaspadaan yang luar biasa bila anda berprofesi sebagai seorang intel untuk tidak menjerumuskan diri, hati, dan jiwa anda ke dalam karakter-karakter rendah dengan kebohongan, korupsi, dan kesombongan yang didasari oleh keakuan anda yang menjelma dalam keseharian anda di tengah-tengah masyarakat.

Seorang intel yang baik dan profesional hanya berbohong dalam misi yang maha penting demi keselamatan bangsa dan dirinya ketika berada ditengah-tengah musuh bangsanya. Seorang intel yang baik dan profesional tidak akan membohongi keluarganya, orang tuanya, istri, suami dan anak-anaknya demi kesenangan pribadinya. Seorang intel yang baik dan profesional tidak akan membohongi lingkungannya guna mencari keuntungan pribadi.

Namun demikian seorang intel juga tidak perlu menceritakan bahwa dirinya adalah intel karena hal ini adalah kebodohan. Ingatlah prinsip tiga monyet bijaksana (Three Wise Monkeys), yakni: see no evil (monyet menutup mata), hear no evil (monyet tutup telinga), speak no evil (monyet tutup mulut).


Meskipun tiga monyet bijaksana tersebut diterjemahkan juga sebagai refleksi tutup rahasia bahwa apa yang didengar dan dilihat adalah untuk dirnya sendiri, namun dalam dunia intelijen ada tambahan penjelasan bahwa hal itu juga dapat menghindari kebohongan yang tidak perlu. Sebagai contoh, bahwa tetangga sebelah rumah anda tidak tahu bahwa anda bekerja untuk intelijen bukanlah suatu kebohongan karena idealnya seorang intel memiliki identitas pekerjaan lain yang dapat diketahui tetangganya. Selain itu, tidak ada maksud dan tujuan tertentu terhadap tetangganya tersebut selain kerahasiaan dirinya yang harus terus-menerus dilindungi. Artinya tidak perlu anda cerita kesana kemari bahwa anda bekerja untuk intelijen apalagi dengan gaya yang memuakan bagi lingkungan anda.

Akhirnya perlu kembali saya tegaskan bahwa terdapat pembeda yang jelas dalam kebohongan untuk kejahatan dan semata-mata suatu refleksi kemunafikan dengan kebohongan seorang intel yang dilakukan dalam misi pekerjaannya, sbb:
  1. Kebohongan seorang intel bukan kebiasaan yang dilakukan setiap waktu dan pada setiap kesempatan untuk kesenangan atau kepentingan pribadinya sebagaimana orang-orang munafik.
  2. Kebohongan seorang intel terkait erat dengan keselamatan diri dalam melaksanakan tugas serta untuk mencapai tujuan memperoleh informasi yang dibutuhkan bangsa dan negaranya. Sehingga dalam kesehariannya seorang intel harus menjunjung tinggi kejujuran baik dalam menyampaikan laporan secara profesional maupun dalam kehidupan pribadinya. Karena nilai tertinggi seorang intel justru dari akurasi laporannya dan tingkat kepercayaannya. Artinya karakter kejujuran dan terpercaya merupakan inti karakter seorang intel.
  3. Seorang intel harus pandai menyimpan rahasia, dan hal ini bukan menyembunyikan kebenaran karena suatu rahasia bukan untuk dibuka-buka kepada siapapun. Artinya ketika seorang intel tidak menceritakan apapun tentang diri dan pekerjaannya tidak dapat dikatakan berbohong. Hal ini adalah bagian dari pemeliharaan keselamatan diri dan keluarga tanpa bermaksud membohongi lingkungan.
  4. Intel yang baik bukanlah seorang pembohong karena seorang pembohong akan membohongi atau menghianati siapapun termasuk bangsa dan negaranya sendiri.
  5. Terdapat persyaratan yang ketat ketika seorang intel merancang kebohongannya yakni dibatasi waktu operasi dan hanya dilakukan untuk alasan yang jelas. Sehingga seorang intel tidak perlu hidup dalam kebohongan dalam keseharian bersama lingkungan terdekatnya seperti keluarga dan sahabat-sahabatnya.
Dengan keseimbangan tersebut maka yakinlah akan kemuliaan pekerjaan intelijen. Betapapun masyarakat mencibirkan mulutnya dengan rasa jijik tidak percaya, kewajiban seorang intel adalah memastikan bahwa informasi penting terkait keselamatan masyarakat yang mencibirnya tersebut tersedia dengan cepat dan tepat. Namun berhati-hatilah untuk tetap memelihara integritas kejujuran kita dalam mengabdi kepada bangsa dan negara Indonesia karena godaan seorang intel jauh berlipat-lipat banyaknya.

Semoga catatan ini dapat memperbaharui dan menyegarkan hati sahabat-sahabat Blog I-I yang risau karena pertentangan bathin dalam masalah kebohongan. 

Salam Senopati Wirang  



Labels: , , , , ,

Comments:
Kebohongan yang dimaksud apabila kita membuat laporan intelijen palsu yang dapat merugikan siapa saja,tapi mengenai cover,desepsi dan trik-trik lainnya...itu bukanlah sebuah kebohongan...di zaman Nabi Muhammad SAW saja ada intelnya...tapi intel yang terdidik dan memiliki iman yang kuat.
 
Informasi in bermanfaat nih buat ane, saya ucapkan terimakasih banyak ya gan atas informasinya
 
apapun tentang kegiatan yang dilakukan oleh intel. Semoga memberikan manfaat dan tidak sekedar sensasi belaka
 
Profesi Intel memang di haruskan untuk bisa "menutupi" identitas aslinya.

Yang ditakutkan adalah kebiasaan berbohongnya itu terbawa ke kehidupan sehari2 (dalam keluarga misalnya)
 
tdk usah saling menyalahkan, mari saling introspeksi diri
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters