Dunia bukan segalanya » INTELIJEN INDONESIA

Monday, March 10, 2014

Dunia bukan segalanya

Setelah artikel mempersiapkan kematian, saya ingin menambahkan dengan artikel singkat bahwa bagi seorang intel sejati, dunia bukanlah segalanya. Mengapa intel menjadi cenderung filosofis dan bagaikan membangun suatu sandaran yang kokoh dalam menjalankan hidupnya. Hal ini tidak terlepas dari dosa dan noda dunia intelijen yang sulit dibersihkan manakala kita menekuninya. 

Betapapun anda beristighfar setiap menjelang dan bangun tidur, bayang-bayang setiap tindak dan perbuatan anda akan memiliki konsekuensi terhadap jiwa anda. Apabila anda kehilangan rasa dalam menyikapi setiap peristiwa hidup maka anda akan menjadi seorang psikopat dengan mematikan rasa diri anda dan secara perlahan berlindung ke dalam kemegahan dunia. Pada akhirnya anda akan menjadi korup dan menganggap tujuan hidup anda semata-mata hanya dunia. 

Dosa dan noda akan mengikis rasa hati dan kejernihan berpikir, secara perlahan tapi pasti juga menggerogoti keyakinan yang ada di dalam hati anda tentang hidup dan kehidupan. Seorang intel cenderung untuk berdosa sehingga ingatlah selalu untuk memohon maaf dan ampunan. Dosa yang disadari akan dapat terhapus dengan air mata penyesalan, namun dosa yang dinikmati karena kecintaan pada dunia, jabatan dan harta akan menjerumuskan anda menjadi jiwa-jiwa yang rusak. Hal ini banyak saya lihat terjadi pada sebagian kalangan komunitas intelijen yang diberikan cobaan dengan jabatan dan harta, sungguh cahaya rasa hatinya telah hilang menjelma menjadi monster-monster yang serakah yang seolah berbuat baik untuk bangsa, padahal untuk kepuasan diri sendiri.

Intel juga sering mengalami masa-masa susah karena keseriusan pekerjaannya sehingga sering mendorong lahirnya sikap putus asa atau masa bodoh. Hal ini semakin melemahkan jiwa dan menganggap pekerjaan adalah segala-galanya. Padahal bila diyakini bahwa dunia bukan segalanya, maka dalam melaksanakan tugas intelijen seorang intel akan sadar bahwa urusan perkerjaan bukan puncak hidup manusia, melainkan refleksi profesionalisme dalam bekerja dan mencari nafkah yang halal.

Dengan melihat dunia bukan segalanya, bukan berarti apatis dan mengabaikan peningkatan ilmu, skill, dan berbagai hal yang dapat menunjang kelancaran pekerjaan. Tentunya kesadaran akan pentingnya profesionalisme perlu diimbangi dengan kesadaran bahwa tujuan hidup atau misi pekerjaan intel adalah untuk kebaikan masyarakat Indonesia, untuk melindungi bangsa dan negara. Untuk itulah seorang intel rela berkorban dan diapresiasi sesuai kemampuan pemerintah. 

Hanya dengan kesadaran bahwa dunia bukan segalanya akan melahirkan hati insan intelijen yang ikhlas dalam bekerja. Tidak mengejar kekayaan, kepopuleran, atau kenikmatan, karena bagi seorang intel sejati kepuasan tertinggi adalah manakala negara mampu melindungi rakyatnya berkat produk intelijen.   

Sejak tulisan ini diupload, saya akan mengakhiri jejak-jejak buruk di dunia cyber sebagai suatu pesan kepada para pemantau Blog I-I bahwa mungkin manusia dapat dinilai dari jejaknya, namun kesengajaan suatu jejak juga dapat menyesatkan, atau ketidaksengajaan suatu jejak juga dapat menciptakan suatu citra, atau ketidaksadaran akan adanya jejak yang mencerminkan atau tidak mencerminkan seseorang juga sangat tergantung pada fakta-fakta lanjutannya. Artinya jati diri seseorang yang sesungguhnya hanya diketahui dirinya dan Yang Maha Pencipta. Apalagi ketika dunia bukan segalanya, maka segalanya akan menjadi dunianya.

Salam 
Senopati Wirang 

Labels:

Comments:
dengan membaca artikelnya ini saya menambah ilmu dan wawasan saya makasih saya tunggu postingan selanjutnya yang tentunya lebih bermanfaat makasih
 
Ass, pak sy mau tanya.
Apakah orang yg direkrut untuk menjadi intel hanya anggota militer?, atau ada yg dari warga sipil.
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters