Keputusan Megawati Memilih Jokowi sebagai Capres PDIP » INTELIJEN INDONESIA

Saturday, March 15, 2014

Keputusan Megawati Memilih Jokowi sebagai Capres PDIP

Artikel ini hanya ingin meluruskan pandangan sebagian komunitas intelijen yang menuduh Blog I-I ikut terlibat dalam mendorong Ibu Megawati memilih Jokowi sebagai capres. Hal itu berdasarkan keputusan Ibu Megawati yang keluar dua hari setelah artikel Blog I-I tentang perkiraan pemilu 2014
Meskipun perkiraan Blog I-I hampir selalu tepat sesuai prinsip intelijen, namun sekali lagi perlu ditegaskan bahwa Blog I-I tidak berpolitik dan akan tetap bersikap netral dalam politik nasional Indonesia sesuai dengan prinsip dunia intelijen yang digagas Blog I-I sejak awal lahirnya Blog I-I.

Bahwa seringkali terjadi kemiripan antara artikel Blog I-I dengan rangkaian peristiwa yang kemudian terjadi, hal itu adalah kebetulan belaka. Keputusan Ketua Umum PDIP untuk mencalonkan Jokowi sebagai Presiden tidak terlepas dari dinamika sosial politik nasional yang membawa nama Jokowi melambung tinggi di atas sejumlah kandidat calon presiden. Faktor paling penting dalam menyikapi keputusan tersebut bagi PDIP adalah kehati-hatian dalam mempersiapkan sebaik-baiknya proses Jokowi menjadi orang nomor 1 di Indonesia. Hal ini khususnya terkait dengan soliditas partai yang harus mencapai 100% atau setidaknya 99% dan meminimalkan pengaruh negatif dari kelompok yang kurang berkenan dengan pencalonan Jokowi dari dalam PDIP. Keputusan Megawati dikeluarkan sekitar 26 hari menjelang pemilu legislaltif tanggal 9 April 2014. Hal ini cukup seimbang karena tidak terlalu jauh maupun terlalu dekat dengan pelaksanaan pemilu legislatif. Namun demikian, euphoria pendukung Jokowi perlu dikendalikan guna meminimalkan dampak negatif yang dapat ditimbulkan. Artinya menjelang pelaksanaan pemilu 9 April, akan lebih baik bila Jokowi untuk tetap calm dan melaksanakan tugas sebagai Gubernur Jakarta sebaik-baiknya. Sementara bila akan ikut kampanye, konsentrasi pada upaya perolehan suara partai ketimbang soal copras capres.

Dua jam setelah penghitungan hasil pemilu legislatif 9 April, sesuai keputusan KPU, maka PDIP sebagai partai pemenang akan jelas. Namun harus diingat bahwa perkiraan saat ini kemenangan PDIP tidak terlalu signifikan dibandingan dengan kemenangan PD pada tahun 2009, hanya beda beberapa persen sesuai perkiraan Blog I-I yakni 23% bila Jokowi menjadi capres. Artinya PDIP meski dapat memajukan calon sendiri berdasarkan hasil pileg yang memberikan PDIP kursi lebih dari 20% di DPR RI, namun PDIP akan tetap memerlukan koalisi dari partai lain di parlemen yang solid dan kecil kemungkinan menikam ditengah jalan.  Mungkin saja dalam 26 hari ini, para caleg PDIP lebih mematangkan rencana dan sungguh-sungguh serta dapat "memanfaatkan" momentum Jokowi, sehingga prosentase PDIP meningkat tajam dari perkiraan Blog I-I, misalnya menyentuh 30%, tapi hal memerlukan strategi tepat dan kualitas caleg PDIP yang mantap. 

Selanjutnya sebagaimana juga dengan pemilu 2009 dimana penentuan pasangan dapat berpengaruh secara signifikan, maka PDIP dapat segera memulai kalkulasi penentuan cawapres yang terbaik dari sisi kemungkinan koalisi maupun faktor penerimaan oleh masyarakat. Perkiraan Blog I-I, cawapres Jokowi perlu mempertimbangkan aspek kedekatan dengan umat Islam tanpa harus dari partai Islam karena dalam pilkada Jakarta, sangat jelas bagaimana kampanye bernuansa Islam berhadapan dengan nuansa nasionalis.

Dalam kaitan ini Blog I-I akan menyampaikan perkiraan keadaan politik nasional paska pencalonan Jokowi berdasarkan informasi jaringan Blog I-I di seluruh Indonesia sebagai berikut:
  1. Jokowi akan semakin menjadi sorotan dan sasaran serangan, pembelaan, hujatan dan pujian, sehingga blunder kecil dapat membalikan simpati publik. Sekitar 4 bulan menjelang Pilpres adalah masa kritis dimana Jokowi dan PDIP harus memelihara momentum simpati yang tinggi dari masyarakat.
  2. Partai-partai lain akan mengalami pengurangan suara karena larinya sebagian suara ke PDIP seiring pencalonan Jokowi. Namun hal ini tidak terlalu signifikan bagi partai-partai kader yang memiliki mesin politik yang baik seperti Golkar, PD, Gerindra, PKS, PPP, PAN, dan PKB. Partai yang akan mengalami pengurangan suara yang agak besar akan dialami oleh Hanura, Nasdem, PBB, dan PKPI. 
  3. Kompetisi capres akan menjadi trinitas Jokowi-Prabowo-Aburizal Bakrie. Apabila momentum simpatik Jokowi dapat dipelihara dalam 4 bulan ini, maka Jokowi akan menang dalam satu putaran yang tipis diatas 50% dengan Prabowo nomor dua dan Ical nomor 3. Namun apabila momentum simpatik tersebut terganggu oleh berbagai situasi internal PDIP dan blunder politik baik oleh Jokowi maupun PDIP, maka Jokowi hanya dapat menang melalui dua putaran. Pada putaran kedua Jokowi akan kembali menghadapi Prabowo. Lagi-lagi faktor kelihaian politik Jokowi dalam memelihara simpati publik akan menentukan apakah akan menang telak, tipis atau bahkan terbalik karena blunder politik selama masa kampanye.
  4. Kans Prabowo tetap terbuka luas khususnya terkait dengan karakter nasionalis yang kental, sikap tegas, dan janji politik yang menjanjikan perubahan yang lebih baik untuk rakyat Indonesia. Popularitas Prabowo akan terus merambat khususnya apabila Prabowo melanjutkan strategi turun ke lapangan ke daerah-daerah dimana masyarakat akan merasakan tatap muka langsung dari seorang tokoh nasional capres yang mana tidak dapat dilakukan Jokowi karena keterbatasannya di kala masih menjabat sebagai Gubernur Jakarta. Tim Prabowo harus meminimalkan dampak negatif dari berita, misalnya insiden kasus penolakan Prabowo sebagai pembicara sebagaimana baru-baru ini. Hal ini dapat mempengaruhi simpati publik karena dalam suatu "pesta" demokrasi publik cenderung ingin senang dalam menyampaikan dukungan dan menghindari keseriusan yang bernada konflik. Prabowo memerlukan intel politik yang cerdas dalam menilai kemungkinan adanya "jebakan" yang memancing terjadinya pemberitaan negatif terhadap Prabowo.
  5. Aburizal Bakrie adalah seorang pejuang yang gigih walaupun kans untuk menang boleh dikatakan tidak terlalu besar. Bersandar dengan mesin Golkar dan rajinnya keliling Indonesia, ARB dapat membalikan prediksi-prediksi polling apabila Jokowi dan PDIP mengalami blunder politik, dan Prabowo terpancing emosi dalam menghadapi serangan track record isu HAM di masa lalu.
  6. Bagaimana dengan faktor-faktor hukum yang sedang diperjuangkan oleh Yusril Ihza Mahendra? Hal ini diperkirakan akan diredam oleh MK demi kelancaran pemilu yang hanya menghitung hari, namun demikian hal ini juga sangat penting untuk diperhatikan karena aspek legalitas tidak dapat diabaikan. 
  7. Akankah terjadi sesuatu yang membahayakan keselamatan rakyat Indonesia dari kacamata intelijen? Menurut pemantauan Blog I-I faktor stabilitas politik dan keamanan Indonesia tetap berada di tangan tiga serangkai TNI, Polri, dan Intelijen. Sepanjang ketiga institusi tersebut bekerja efektif dalam pengamanan pelaksanaan pemilu, bersikap netral dan pro-rakyat, serta secara tepat menggunakan sumber dayanya dalam memelihara ketertiban, melindungi rakyat dan mencegah terjadinya konflik terbuka. Maka tidak ada satupun kekuatan politik di dalam negeri Indonesia yang berani mencoba mengambil langkah sembrono berupa kekacauan atau aksi dengan kekerasan. Kepemimpinan Jenderal Moeldoko, Jenderal Polisi Sutarman, dan Letnan Jenderal Marciano Norman dalam mengawal pesta demokrasi rakyat Indonesia sangat diharapkan. Strategi dan respon mereka bertiga akan memiliki posisi kunci manakala terjadi sesuatu yang tidak diharapkan di bidang keamanan terkait pemilu.
  8. Akhir kata, marilah kita angkat sisi-sisi terbaik dari seluruh capres yang akan memasuki arena perebutan suara rakyat Indonesia. Mereka adalah orang-orang pilihan yang memiliki potensi untuk memajukan Indonesia Raya. Hentikan segala bentuk kampanye hitam, fitnah dan adu domba, dan marilah kita bangun suatu kesadaran bahwa emosi tidak akan pernah dapat menyelesaikan masalah bangsa. 
  9. Do'a kami komunitas Intelijen Blog I-I adalah semoga bangsa Indonesia dapat menyelenggarakan dan menjalankan pemilu 2014 dengan jujur, adil, lancar, tertib, dan aman serta menghasilkan wakil rakyat yang berkualitas dan pimpinan nasional yang kita dambakan mampu membawa perubahan yang lebih baik bagi Indonesia Raya.
Sekian
Senopati Wirang 

Labels: , , , , , ,

Comments: Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters