Perkiraan pemilu 2014 dan perbandingannya dengan Pemilu 2009 » INTELIJEN INDONESIA

Wednesday, March 12, 2014

Perkiraan pemilu 2014 dan perbandingannya dengan Pemilu 2009

Dengan hati penuh harap serta do'a, saya mendo'akan agar para caleg 2014 yang sebagian besar merupakan muka lama dapat berubah menjadi lebih baik sebagai manusia, sebagai pemimpin, sebagai wakil rakyat nantinya untuk perbaikan bangsa dan negara Indonesia. Saya berdo'a bahwa meskipun kita akan melihat mayoritas muka lama di DPR RI, kita akan mengharapkan adanya kesadaran untuk perubahan demi kemajuan bangsa Indonesia. Sedangkan bagi segelintir muka baru caleg 2014, semoga semangat baru melandasi langkah berpolitik yang bersih dan sungguh-sungguh untuk memajukan Indonesia.

Berikut ini, Blog I-I menyampaikan perkiraan keadaan pemilu 2014 dibandingkan dengan pemilu 2009.
Pemilu legislatif 2014 dan 2009 secara umum akan mirip dalam hal kualitas para caleg yang tercatat yang mana berarti dalam 5 tahun ke depan, bangsa Indonesia belum dapat berharap banyak akan terjadi perubahan yang siginifikan. Kita telah paham kualitas para caleg dan kiprahnya selama ini serta berbagai kasus yang mewanainya. Meskipun telah ada sejumlah anggota dewan yang berguguran tersentuh kasus korupsi, namun kasus-kasus yang belum terungkap serta karakter yang cenderung mementingkan diri sendiri dan kelompok masih kuat dalam diri para caleg yang akan kita pilih bersama pada 9 April 2014.

Fakta tersebut jangan mematahkan semangat anda sebagai warga negara untuk terus-menerus mendorong perubahan dengan menyampaikan aspirasi kepada anggota Dewan dengan harapan mereka akan berubah dan mau sungguh-sungguh bekerja. Hal ini tidak menggeneralisir kualitas seluruh anggota Dewan saat ini dan yg akan maju kembali, melainkan hanya sebagai kewaspadaan. Kita semua juga paham dan dapat membaca berita tentang siapa-siapa yang sungguh-sungguh mengabdikan dirinya ketika menjadi anggota Dewan, minimal dengan kerajinannya dalam menyelesaikan tugas-tugasnya termasuk dalam hal kehadiran rapat, kontribusi pandangan dan analisa terhadap masalah nasional, pembuatan draft rancangan UU dll.

Hal signifikan yang akan berubah adalah dalam hal komposisi asal partai anggota Dewan dimana Partai Demokrat (PD) hampir dapat dipastikan menjadi partai yang paling melorot dalam prosentasi anggota Dewan tahun 2014 ini. Menurut data dari jaringan Blog I-I, apabila Partai Demokrat dapat mengefektifkan kampanye dengan menggunakan juru kampanye dari peserta konvensi capresnya, barangkali akan dapat sedikit menolong. Namun secara umum perolehan suara PD akan melorot tajam yang akan diikuti oleh melorotnya jumlah kursi PD di DPR RI.

Sedikit berbeda dengan perkiraan sejumlah polling, Blog I-I hanya bersandar pada sampling kurang serius dengan pola acak di pasar atau tempat keramaian dengan masyarakat umum di seluruh propinsi Indonesia dengan hasil sebagai berikut: Pada papan atas PDIP dan Golkar akan menjadi dua partai yang akan mendominasi perolehan kursi DPR dengan prosentase diatas 15% namun sulit tembus 20% dengan pengecualian bagi PDIP jika Jokowi diajukan menjadi Presiden. Sementara di papan kedua akan diisi oleh PD, Gerindra, PKS, PAN dan PPP yang akan berada di kisaran 5-10%. Kemudian di papan ketiga adalah PKB dan Nasdem yang akan lolos diatas ambang batas 3,5% namun sulit untuk tembus diatas 5%. Papan terakhir akan diisi oleh Hanura,  PBB dan PKPI yang sulit untuk mencapai ambang batas dengan perolehan suara antara 1 - 3,5%.

Perkiraan Ranking :
  1. PDIP 18% (tanpa mengajukan capres sebelum pemilu legislatif) menjadi 23% apabila mengajukan Jokowi sebagai capres.
  2. Golkar 16%
  3. PD 8%
  4. Gerindra 7%
  5. PKS 6.5%
  6. PAN 5,5%
  7. PPP 5%
  8. PKB 4%
  9. Nasdem 3,5%
  10. Hanura 3%
  11. PBB 1%
  12. PKPI 1% atau bahkan kurang dari 1%.
Perkiraan golput, suara mengambang, suara tidak sah, dll apabila angka diatas terpenuhi adalah sekitar 22%, sehingga perhitungan total mencapai angka 100% dari total prosentase pemilih. Hal ini hanya akan terjadi apabila kampanye himbauan dan ajakan untuk aktif pemilu dapat terus digiatkan yang berarti terjadi penurunan golput dari tahun 2009. Sebaliknya apabila, situasi kurang kondusif terus berlangsung dalam penyelenggaraan pemilu, misalnya yang menyebabkan terhalangnya masyarakat menggunakan hak pilihnya atau sosialisasi yang buruk dan saling serang antar partai dan caleg atau capres yang menciptakan polemik negatif, maka perkiraan jumlah golput akan menjadi hampir dua kali lipat mendekati angka 40-an% yang akan mengurangi suara seluruh partai politik.

Tetap dalam prinsip netralitas intelijen dari politik nasional, perkiraan tersebut diatas dilakukan tanpa tujuan politik, hanya sebagai kalkulasi bagi intelijen dalam mempersiapkan diri mengamankan jalannya pesta demokrasi dari gangguan keamanan dari kelompok yang ingin mengganggu proses pemilu.

Sepanjang seluruh pelaku politik mengedepankan semangat berdemokrasi yang damai, maka tidak akan terjadi ancaman keamanan yang berarti. Meskipun diperkirakan akan ada sejumlah konflik sebagai akibat dari proses penyelenggaraan yang kurang sempurna, namun hal itu akan dapat diselesaikan melalui jalur yang sudah disediakan baik dalam proses pengaduan ataupun gugatan hukum.

Ancaman boikot sudah terdengar dari segelintir kelompok separatis, khususnya di Papua. Sementara gangguan keamanan juga sudah muncul beberapa kali di Aceh yang diperkirakan dipicu oleh kompetisi politik lokal atau kepentingan kelompok tertentu.

Manusia menimbang dan memilih calon berdasarkan pada pengetahuannya yang terbatas. Dalam kaitan ini peranan media sangat kuat dalam menciptakan persepsi masyarakat tentang partai mana dan siapa yang akan dipilihnya. Terlepas dari sejumlah tuduhan mengenai politik tebar pesona dan kampanye tanpa kerja nyata, siapa yang dikenal dan dirasa cocok oleh pemilih akan dipilih di dalam bilik pemilihan. 

Hasil perkiraan jaringan Blog I-I mungkin tidak jauh berbeda dengan sejumlah polling yang lebih dahulu mengumumkan hasilnya. Namun ada satu pelajaran berharga dari masukan jaringan Blog I-I, yakni mengenai dari mana masyarakat mengetahui para calon pemimpin nasional baik caleg maupun capres, jawabnya media massa baik elektronik maupun cetak. Selamat datang era media dan pengembangan opini publik, sejumlah bantahan tentang popularitas yang dikemukakan oleh sejumlah politisi adalah bagaikan penyangkalan tanpa dasar sehingga akan semakin menenggelamkan diri manakala mencoba melakukan counter-media propaganda.

Langkah terbaik dalam melihat fenomena pengaruh media adalah dengan kerja nyata melakukan perubahan yang dicita-citakan rakyat Indonesia. Anda siapapun politisi aktiflah dalam mengabdi untuk masyarakat dan bukan pencitraan kosong atau liputan hampa tentang betapa hebatnya diri anda. Tetapi biarkanlah rakyat yang menilai dan melakukan pilihan.

Semoga bermanfaat
Senopati Wirang

  

Labels:

Comments:
Perkiraan saya suara PDI-P masih dibawah partai golkar, namun untuk jagonya PDI-P, Jokowi kemungkinan besar jadi setelah bersaing ketat dengan prabowo. Thks
 
Sepertinya prabowo diangkat jadi presiden RI 1 mari kita tunggu saja
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters