Tentang Penyadapan Jokowi » INTELIJEN INDONESIA

Saturday, March 08, 2014

Tentang Penyadapan Jokowi

Memenuhi desakan berbagai pihak agar Blog I-I mengangkat analisa mengenai kasus penyadapan terhadap Jokowi, berikut ini beberapa perkiraan yang dikumpulkan berdasarkan fakta-fakta intelijen yang tidak dapat digunakan di pengadilan maupun tidak dimaksudkan untuk memojokkan kelompok tertentu atau menuduh secara sembarangan. Analisa ini hanya memuat perkiraan-perkiraan logis yang belum tentu benar, sehingga kepada seluruh pembaca dibutuhkan kepekaan dan ketelitian guna menghindari kesalahpahaman.

Silahkan membaca....

Pada 20 Februari 2014, tiba-tiba Sekjen PDIP, Tjahjo Kumolo mengungkapkan penemuan alat sadap di kediaman Gubernur DKI Jakarta, Jokowi. Kemudian juga beredar berita pernyataan Jokowi sendiri bahwa dirinya merasa disadap sejak Agustus 2013, baca  Jokowi Merasa Disadap Sejak Agustus 2013. Pernyataan Tjahjo Kumolo tersebut jelas segera menyerap perhatian publik dan mulailah berbagai komentar mewarnai pemberitaan berbagai media nasional. Kasus yang terungkap pada Desember 2013 tersebut merupakan hasil pemeriksaan tim Pemprov DKI yang menemukan tiga alat sadap yakni di kamar tidur, ruang makan dan ruang tamu. Hal ini menghasilkan sejumlah spekulasi tentang siapa yang melakukan penyadapan tersebut.

Jokowi telah melaporkan kasus penyadapan tersebut kepada PDIP dan tim internal PDIP menyimpulkan pelaku ada yang WNI dan WNA, namun PDIP memutuskan tidak melaporkannya ke Polisi. Hal ini tentunya mengundang spekulasi lain bahwa PDIP menyadap kadernya sendiri sebagaimana dituduhkan oleh Ruhut Sitompul, baca Bikinan PDIP sendiri. Hal senada dengan Ruhut juga diungkapkan oleh Marzuki Alie pada 23 Februari 2014, Ramadhan Pohan pada 21 Februari 2013. Meskipun tuduhan Ruhut tersebut tidak berdasarkan fakta, namun berdasarkan logika dapat diterima bahwa cara penanganan kasus penyadapan oleh internal PDIP agak janggal dan cenderung secara sengaja menyebabkan masyarakat berspekulasi masing-masing tanpa memperoleh kejelasan. Singkat kata kasus ini semakin meningkatkan ketokohan Jokowi yang menyebabkan persepsi baru di masyarakat sebagai orang yang layak disadap, ditakuti musuh politik. Beberapa rangkaian kisah penzaliman terhadap PDIP terus berlanjut dengan berita-berita lain misalnya tentang Megawati yang juga dibuntuti, baca Jokowi disadap Mega dibuntuti, PDIP tahu siapa penyadap, disadap nikmati saja. Semakin jelas arah politisasi dan pemanfaatan kasus penyadapan tersebut oleh PDIP.

Salah satu yang mengejutkan bagi jaringan Blog I-I dan komunitas intelijen justru komentar dari Wamenhan, Sjafrie Sjamsoeddin yang dalam selang waktu sangat singkat mengeluarkan pernyataan bahwa institusi pertahanan tidak terlibat kasus penyadapan Jokowi, baca Pernyataan Wamenhan tentang penyadapan Jokowi. Pernyataan yang tergesa-gesa tersebut secara logika justru membuat spekulasi bahwa penyadapan tersebut memiliki korelasi dengan institusi pertahanan. Mengapa demikian, karena secara teori seharusnya Wamenhan tidak perlu mengeluarkan pernyataan yang mendahului arah berkembangnya kasus penyadapan. Kaum militer terdidik yang memiliki pengalaman dalam operasi informasi akan melakukan kalkulasi yang matang sebelum mengeluarkan pernyataan publik. Apa yang dilakukan Wamenhan adalah early direct response untuk mencegah terjadinya spekulasi yang merugikan pihak yang mengeluarkan pernyataan, namun hal ini harus berdasarkan pada kalkulasi kemungkinan arah pengembangan penyelidikan kasus. Karena kekeliruan kalkulasi yang memperkirakan PDIP akan melaporkannya ke Polisi, maka segera dibuat pernyataan bahwa hal ini tidak memiliki korelasi dengan institusi pertahanan. Sebuah blunder yang parah dalam operasi informasi.

BIN menyusul mengeluarkan pernyataan bahwa institusinya tidak tau dan tidak terlibat dalam penyadapan Jokowi sebagai diungkapkan oleh Kepala BIN, Marciano Norman. Pernyataan Kepala BIN tersebut beberapa hari setelah polemik penyadapan Jokowi berkembang di media massa. Suatu hal yang normal dan normatif dan harus dilakukan oleh Kepala BIN dalam rangka menjernihkan spekulasi-spekulasi liar yang berkembang di masyarakat, terlebih setelah kasus "penculikan" mantan Ketua Umum Subur Budhisantoso dari acaran yang digagas kubu Anas Urbaningrum. Khusus untuk institusi intelijen sebesar BIN, perlu diketahui bahwa alat sadap yang dipasang di kediaman Jokowi bagi BIN termasuk mainan yang tidak terlalu canggih. BIN dalam isu politik juga telah berkomitmen untuk netral dan tidak terlibat dalam kompetisi pada politisi untuk mencapai kekuasaan. Hal ini juga didukung oleh pernyataan mantan Kepala BIN, AM Hendropriyono yang sangat dekat dengan PDIP. Hendropriyono menegaskan bahwa TNI dan BIN tidak mungkin melakukan penyadapan serta mengindikasikan pelaku dari pesaing partai lain. Pandangan Hendopriyono senada dengan pandangan umumnya petinggi PDIP.

Siapa partai lain yang berpotensi melakukan penyadapan? Jaringan Blog I-I hanya melihat tiga partai di luar PDIP yang potensi yakni PD, Golkar dan Gerindra karena akses ketiga partai tersebut ke dalam jaringan intelijen. Reaksi Gerindra adalah mendorong PDIP/Jokowi melaporkannya ke Polisi, reaksi Golkar adalah penyadapan digerakkan oleh unsur kekuasaan sedangkan reaksi PD adalah hal itu sensasi PDIP sendiri. Menarik bukan?

Lalu bagaimana Blog I-I menilai kasus penyadapan Jokowi tersebut?

Mencermati teknologi usang (mainan) alat sadap, dan reaksi-reaksi yang berkembang serta klaim bahwa PDIP sudah tau siapa yang melakukan penyadapan, maka Blog I-I menilai kasus penyadapan Jokowi hanya ulah konyol kelompok kepentingan amatir yang berupaya memperoleh informasi secara ilegal tentang kegiatan dan sikap Jokowi yang kemudian dapat dimanfaatkan untuk kepentingan finansial karena banyak pihak yang tertarik untuk mengetahuinya.
















Labels:

Comments:
"maka Blog I-I menilai kasus penyadapan Jokowi hanya ulah konyol kelompok kepentingan amatir yang berupaya memperoleh informasi secara ilegal tentang kegiatan dan sikap Jokowi yang kemudian dapat dimanfaatkan untuk kepentingan finansial karena banyak pihak yang tertarik untuk mengetahuinya."


seperti wartawan pa?

salam kenal, materi blognya menambah ilmu.
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters