Terorisme atas nama agama adalah strategi terburuk dalam sejarah Islam » INTELIJEN INDONESIA

Tuesday, March 18, 2014

Terorisme atas nama agama adalah strategi terburuk dalam sejarah Islam

Artikel ini khusus saya susun untuk seluruh umat Islam Indonesia untuk memahami akar persoalan terorisme yang kita hadapi bersama sejak berdirinya negara Republik Indonesia. Definisi terorisme yang paling sederhana adalah penggunaan kekerasan dan intimidasi untuk tujuan politik. Hal ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan perang, namun tanpa aturan karena targetnya mencakup siapapun/apapun yang dianggap musuh.

Terorisme merupakan suatu cara mencapai tujuan politik yang dilakukan baik oleh pihak yang lemah seperti Al Qaeda maupun pihak yang kuat seperti negara dengan berbagai perangkat keamanan dan pertahanannya. Namun dalam dinamika akademik maupun opini publik dan pemberitaan kita akan lebih sering melihat terorisme dari kelompok yang lemah. Lebih sempit lagi selama hampir 13 tahun belakangan ini, terorisme hampir selalu dikaitkan dengan isu Islamisme atau gerakan kelompok Islamist meskipun jumlah korban dari aksi-aksi kekerasan yang dapat dikategorikan sebagai suatu tindakan terorisme dari mereka yang mengatasnamakan Islam jauh lebih sedikit dari tindakan kekerasan yang mengatasnamakan pembebasan atau pencegahan meluasnya terorisme. Contoh paling mudah dapat dilihat dari jumlah korban rakyat Irak dalam perang Irak yang mencapai 110,600 orang tewas akibat kekerasan perang pada 2003-2009 (Associated Press) yang kemudian bertambah lagi sekitar 60 ribuan orang sampai dengan tahun 2013. Contoh lain adalah perkiraan belasan hingga puluhan ribu rakyat Afghanistan yang tewas selama perang pasukan internasional melawan Taliban selama satu dekade terakhir.

Hal ini bukan untuk membela siapapun yang memilih jalur kekerasan dalam mencapai tujuan politik, namun dalam rangka membuka mata umat Islam Indonesia betapa jalur kekerasan berupa strategi terorisme bukan saja buruk, melainkan secara strategis jangka panjang telah menodai kemuliaan agama Islam dan menjauhkan umat Islam dari pondasi dasar agama yakni memantapkan rukun Iman, melaksanakan rukun Islam, serta membawa perubahan sosial politik yang diridlai Allah SWT. Ketiga hal tersebut dalam publik opini yang dikembangkan musuh Islam menjadi sbb:
  • Pemantapan rukun Iman  = Fundamentalisme
  • Pelaksanaan rukun Islam = Fundamentalisme
  • Perubahan Sosial-Politik yang Islami = Radikalisme
Hal yang paling menyedihkan dari dinamika terorisme adalah terpecah-pecahnya umat Islam ke dalam tiga kelompok besar yakni radikal-moderat-liberal yang mana semuanya tidak pernah dikenal dalam Al Quran dan Hadits. Namun perpecahan yang begitu kuat tersebut tersebar di seluruh dunia Islam mencabik-cabik ukhuwah Islamiyah dalam sikap saling curiga karena dominasi akal-akalan untuk mencapai tujuan kelompok dari pada olah rasa keIslaman yang disinari cahaya Haq yang membimbing umat dalam perilaku hidup yang lebih baik dan seimbang antara dunia dan akhirat.

Lebih jauh lagi, terjadi apa yang disebut oleh orang-orang yang lebih mengutamakan akal sebagaimana pandangan Barat bahwa Islam di luar dan di dalamnya adalah semangat berkonflik berdarah-darah, dimana peradaban Islam merasa yakin dengan superioritas kebudayaannya, namun karena kenyataan zaman sekarang kondisi Islam lemah menjadi terobsesi dengan inferioritas kekuatan umat Islam. Sebagaimana dinyatakan oleh Samuel Huntington: “Islam's borders are bloody and so are its innards. The fundamental problem for the West is not Islamic fundamentalism. It is Islam, a different civilisation whose people are convinced of the superiority of their culture and are obsessed with the inferiority of their power.”     

Pandangan Huntington adalah khas labelling Islam yang lemah dan buruk dalam rangka mencegah simpati masyarakat Barat terhadap nilai-nilai Islam yang sesungguhnya. Pandangan yang mereduksi Islam ke dalam jihad kekerasan dan sikap permusuhan terhadap kelompok non-Islam merupakan strategi efektif mencegah perluasan pengaruh Islam sebagai way of life. Hal ini dinilai sebagai kelemahan oleh mereka yang mendukung aksi kekerasan terorisme dengan alasan bahwa perjuangan jihad harus sekarang juga (present time) dan penolakan terhadap jihad qital (perang) adalah sama saja dengan kemurtadan dari ajaran agama. Sebuah pendekatan hitam-putih yang sederhana tersebut sangat mudah diterima oleh mereka yang melihat suatu permasalahan dari satu sisi tanpa memperhatikan aspek yang lebih luas dan melakukan perhitungan yang lebih matang dalam suatu perjuangan penegakan kebenaran.

Sampai dengan tahun 1990-1991, kekuatan militer Osama bin Laden pernah mencapai angka yang cukup besar yakni sekitar 20 ribuan jihadis yang pernah berjuang di Afghanistan.  Mobiliisasi jihadis internasional dapat terjadi salah satunya karena dalam rangka menolong umat Islam Afghanistan menghadapi pasukan komunis Uni Soviet. Pada periode akhir tahun 1970-an, Uni Soviet melihat kesempatan menguasai kawasan strategis Afghanistan sebagai titik kendali untuk pengaruh komunis di Timur Tengah, Asia Tengah dan meluas hingga ke Afrika Utara dan Asia Selatan. Afghanistan memiliki posisi strategis secara geopolitik sehingga Amerika Serikat (AS) tidak akan membiarkan Uni Soviet melakukan penguasaan/pendudukan Afghanistan dan memperkuat rejim boneka di sana. Itulah sebabnya pada periode 1979 hingga 1989, AS bersama-sama negara Timur-Tengah khususnya Arab Saudi membangun pasukan paramiliter asing yang kemudian menjadi Al Qaeda yang membantu Afghanistan menghadapi Uni Soviet. 

Seluruh pihak yang terlibat dalam memfasilitasi terbentuknya Al Qaeda sama-sama menyadari bawa kerjasama melawan Uni Soviet hanya karena kesamaan kepentingan, namun hakikatnya tidak pernah sungguh-sungguh menjadi koalisi. Paska Perang Teluk I (Irak-Kuwait) dan Perang Teluk II (Perang Irak), Al Qaeda ditinggalkan dan dengan kekuatan yang ada merasa yakin akan mampu menggerakkan revolusi Islam global dengan penegakan syariah Islam yang diawali dengan misi mengusir kekuatan asing dari tanah umat Islam. Meskipun niatannya baik, namun kelemahan strategi Al Qaeda telah menjerumuskan umat Islam ke dalam konflik panjang yang akhirnya justru melemahkan perjuangan Islam sebagai suatu jalan hidup yang mulia. 

Perlu disadari bahwa peradaban Barat bukan lagi peradaban Judea-Kristen yang memusuhi Islam, melainkan suatu peradaban liberal yang menghambakan diri kepada nilai-nilai "kemajuan" zaman yang dapat dirasakan secara fisik melalui panca indera dan akal manusia. Kemajuan tersebut tidak selalu identik dengan kebenaran atau haq yang dibawa oleh misi agama baik Yahudi, Kristen maupun Islam, melainkan lebih digerakan oleh nafsu atau semangat pencapaian hasrat manusiawi. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya pemakluman kebebasan manusia sebagai pilihan dan jalan hidup, dimana agama tidak lagi dominan. Meskipun nilai-nilai Judea-Kristen mengilhami berbagai peri kehidupan manusia Barat, namun hal itu tidak secara total menjadi pondasi kesepakatan sosial (social contract) yang mengikat perilaku manusia-manusia Barat. Contoh yang paling jelas adalah dalam hal pembelaan terhadap kaum Lesbian, Gay, Bisexual, and Transgender (LGBT) yang menjadi hak asasi manusia dalam memilih orientasi seksualnya. Seperti kita semua ketahui, baik Yahudi, Kristen maupun Islam menolak LGBT melalui pendidikan moral dan kesehatan (lahiriah, mental, dan bathiniah). Kebebasan-kebebasan lain-pun terjamin dimana manusia BEBAS berupaya mencapai kebahagiaannya sendiri-sendiri, sehingga negara dan hukum harus dapat menjaminnya. Disinilah kemudian nilai-nilai agama tidak dapat diterapkan secara total karena akan berbenturan dengan kebebasan individu. 

Dalam sejarahnya, semua pemerintahan yang berdasarkan agama berupaya "memaksakan" totalitas dalam kehidupan beragama sehingga terjadi penghakiman kepada mereka yang tidak tunduk dan patuh dalam pelaksanaan nilai-nilai agama. Hal inilah yang sulit diterima di suatu komunitas yang selama ratusan tahun mempraktekan dan memperjuangkan nilai-nilai kebebasan individu yang menjadi jalan hidup yang diyakini.

Kampanye kebebasan individu memiliki kekuatan strategi yang sangat dahsyat, melebihi dakwah agama di era modern karena kreatiftas dan argumentasi logis serta adanya ruang dimana kepentingan setiap individu akan terlindungi dan bersifat lintas agama. Sementara perjuangan berdasarkan salah satu agama akan menyebabkan terancamnya hak-hak individu atau kelompok yang berada di luar agama. Bahkan dari dalam kelompok agama yang sama juga tersimpan kekhawatiran terancamnya kepentingan para penganutnya sendiri. Hal inilah yang menyebabkan tantangan perjuangan mereka yang menginginkan kehidupan dalam naungan cahaya Illahi mengalami tantangan yang berlipat-lipat. Artinya siapapun anda yang ingin menegakkan kalimat Allah SWT di buminya perlu memikirkan berbagai aspek perjuangan yang akan membuat perjuangan tersebut sukses.

Manusia menilai hanya dari apa yang dapat dipahaminya, sehingga ketika anda menilai dunia dari pemahaman yang sempit, maka dunia akan terlihat sempit. Bila anda bersikap lemah dan menyerah karena musuh anda begitu kuatnya dan mustahil dikalahkan, maka anda akan menjadi pecundang yang memalukan. Tetapi sebaliknya jika anda mengumandangan perlawanan tanpa strategi dan penyusunan kekuatan yang benar seperti langkah para teroris, maka anda akan dengan mudah dihancurkan bahkan dimanfaatkan lebih lanjut untuk menghancurkan seluruh sendi-sendi agama Islam yang lain yang selama 13 tahun ini kita lihat betapa pembatasan perkembangan Islam menjadi semakin kuat di berbagai negara di dunia. Apakah anda para teroris yang benar, atau Islam moderat yang cenderung munafik karena membiarkan Islam diinjak-injak? Apakah anda para jihadis qital dijamin surga dengan aksi terorisme? Ataukah para Islam moderat dijamin neraka karena kelemahannya dalam menegakkan Islam? Jawabnya wallahu alam bishawab. Saya tidak berhak menilai sesuatu yang berada di wilayah Yang Maha Kuasa dalam menilai.

Sungguh Islam tidak dapat tegak bila umatnya lemah, namun pilar Islam juga akan rapuh apabila dibangun diatas pondasi teror. Apabila anda sepakat, mari kita susun bersama suatu strategi perjuangan yang akan efektif dalam mempersiapkan diri dalam membawa perubahan yang lebih baik. Mari kita angkat kedua tangan kita dan berdo'a sebagaimana diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW: 

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ ، وَمِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ  ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ

"Ya Allah, Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari siksaan kubur, siksa neraka Jahanam, fitnah kehidupan dan setelah mati, serta dari kejahatan fitnah Almasih Dajjal." (HR. Bukhari-Muslim) 

Perhatikan do'a yang seyogyanya kita baca setiap selesai shalat, kita berlindung dari siksa kubur, siksa neraka jahanam, fitnah kehidupan, dan setelah mati, serta dari kejahatan fitnah Almasih Dajjal.

Saya tebalkan kata fitnah kehidupan dan fitnah almasih Dajjal karena hanya dua hal ini yang kita alami dan rasakan ketika menjalani hidup di dunia yang fana ini. Peristiwa terorisme adalah contoh dari fitnah yang berat bagi umat Islam di seluruh dunia yang memperoleh labelling baru sejak peristiwa 9/11. Betatapun Barat kemudian merevisi perang melawan teror tersebut, namun sekali lagi manusia menilai sebatas pemahamannya sehingga janganlah bersedih atau menjadi lemah meski dinilai secara sepihak dalam pemahaman yang lemah tentang Islam. Hanya dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT, maka umat Islam akan kembali memperoleh pencerahan tentang strategi terbaik dalam menjalani kehidupan di dunia.

Perhatikan juga bagaimana semakin menjauhnya umat Islam Indonesia dari upaya perbaikan sosial politik nasional Indonesia. Ketiadaan kepemimpinan dalam umat Islam yang mencerminkan ketulusan seperti dalam contoh Nabi Muhammad dari partai-partai Islam juga merupakan fitnah kehidupan. Kasus yang menimpa sebagian dari pimpinan umat Islam karena terjebak dalam perjuangan duniawi dan kenikmatan dunia bukan akhir dari segala harapan karena hanya kepada Allah SWT umat Islam bersandar. 

Akhir kata saya ingin menyampaikan terima kasih kepada agen P-five yang tidak henti-hentinya memperingatkan Blog I-I untuk tetap teguh memperjuangan cita-cita bangsa dan negara Indonesia. Dalam kaitan itu, mohon agar jaringan Blog I-I dari agama selain Islam memahami maksud dan tujuan artikel ini untuk umat Islam Indonesia yang harus terus memperbaiki diri dalam menyikapi dinamika zaman dan tidak terjebak dalam sempitnya pemahaman yang kemudian mereduksi nilai-nilai Islam yang seolah eksklusif yang mengklaim kebenaran sebagai milik kelompok.

Juga kepada kekuatan manapun yang memusuhi Islam yang secara rajin mengawasi Blog I-I, silahkan anda berusaha menghancurkannya dengan kekuatan dan segala tipu daya. Namun perlu anda ketahui bahwa Islam tidak pernah memusuhi umat manusia, kecuali mereka yang menyembunyikan kebenaran, membuat kerusakan dan mengabaikan keadilan.

Kepada mereka yang masih mendukung atau bahkan menjadi bagian dari kelompok teroris, ingatlah bahwa bila Allah SWT berkehendak maka seluruh umat manusia akan menjadi Muslim dan mengabdi kepadaNya. Tinggalkanlah strategi terorisme yang merupakan jalan terburuk yang tidak pernah ditempuh oleh Nabi Muhammad SAW.

Salam
Senopati Wirang

Labels: , ,

Comments: Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters