Para Calon Presiden dan Intelijen » INTELIJEN INDONESIA

Wednesday, April 30, 2014

Para Calon Presiden dan Intelijen

Perhatikan bagaimana dinamika politik nasional akhir-akhir ini yang berjalan. Tampak masih banyak elit politik yang kurang adaptif atau masih hidup di masa lalu sehingga berpotensi menimbulkan hambatan bagi kemajuan Republik Indonesia. Selain itu, tampak pula bagaimana elit politik melihat dunia intelijen juga melalui kacamata masa lalu yang sudah jauh berbeda dengan fakta saat ini. Sebagai contoh dan agar berimbang saya sampaikan kritikan kepada 3 calon Presiden yang paling dominan saat ini yakni Jokowi, Prabowo, dan Aburizal Bakrie. 


Pertama, Jokowi. Pada 8 April 2014 Jokowi pernah menyerukan agar Badan Intelijen bersikap netral dalam pemilu 2014.  Seruan tersebut bukan saja menunjukkan ketidaktahuan atau "perasaan curiga" kepada Badan Intelijen yang sesungguhnya sejak reformasi intelijen sudah berkomitmen untuk NETRAL. Apabila cara pandang Jokowi sebagai calon presiden berulang-ulang atau tetap seperti itu, maka hal itu akan sangat aneh karena siapapun presiden yang akan menang maka seluruh komunitas intelijen akan setia kepada sang single client Presiden. Sehingga tidak perlu ada pandangan semacam itu. Apabila dasarnya ketidaktahuan tentunya dapat ditempuh dengan menanyakan kepada pimpinan PDIP atau bila perlu dengan pertemuan. Dalam tradisi negara demokratis, biasanya intelijen akan memberikan briefing situasi nasional dan perkiraan keadaan yang sama kepada seluruh calon presiden. Hal ini dilakukan dalam rangka menciptakan atau membangun suatu hubungan atas dasar saling percaya demi bangsa dan negara. Semoga di masa mendatang Indonesia dapat melaksanakan briefing intel kepada seluruh capres/cawapres sehingga dunia intelijen tidak lagi dipandang sebagai alat kekuasaan melainkan pengawal kedaulatan dan keselamatan bangsa.

Kedua, Prabowo. Secara umum Prabowo lebih paham tentang dunia intelijen dan memiliki network dari sisa-sisa Kopassus yang masih aktif di dunia intelijen dan setia kepada Prabowo. Hal itu wajar saja karena Prabowo malang melintang di dunia strategis, taktis dan operasional yang bersinggungan dengan dunia intelijen. Namun sungguh sangat disayangnya dalam sejumlah pandangannya tampak bahwa Prabowo masih hidup di dunia masa lalu, misalnya seruan Prabowo agar BIN jangan terlibat politik, utamanya menjelang pemilihan presiden. Walaupun pernyataan Prabowo tersebut sudah cukup lama, namun tercatat baik dalam dokumen Blog I-I. Bagusnya saat ini Prabowo belum terjebak dalam "hasutan" sebagian kalangan termasuk Sosiolog UI, Thamrin Tomagola yang menghembuskan isu miring bahwa BIN dan tentara menghadang Prabowo. Semoga Prabowo tidak akan terjebak dengan isu-isu miring tersebut.  

Ketiga, Aburizal Bakrie secara pengalaman bisnis sebagai pengusaha tentunya cukup paham pentingnya intelijen sebagaimana berkembang dalam intelijen ekonomi khususnya di bidang pemasaran, teknologi, produksi, dan inovasi. Pandang ARB tentang intelijen dan kaitannya dengan Golkar adalah sangat Orde Baru sentris dimana pada suatu kesempatan Ical mengungkapkan bahwa Golkar harus punya intelijen. Dalam kaitan pembentukan departemen intelijen dalam Golkar tersebut, rencananya akan merekrut bekas militer, intel atau polisi dan dikerahkan ke pelosok. Cukup aneh bukan bila semangatnya demikian, berarti ARB juga masih hidup di masa lalu, dimana dalam rangka mengetahui dinamika politik nasional memerlukan jaringan intelijen. 

Kekeliruan para capres dalam melihat dunia intelijen dapat disebabkan karena mengetahui bagaimana kondisi dan sepak terjang intelijen Indonesia, karena ketidaktahuan, atau karena pengalaman di masa lalu yang melihat betapa efektifnya intelijen Indonesia bekerja dalam semangat menjaga kekuasaan Presiden dan bukan mengawal perjalanan bangsa dan negara Indonesia dari ancaman strategis.

Betapapun saya mengungkapkan kelemahan ketiga calon Presiden yang mudah-mudahan akan dapat berkompetisi secara fair, tidak ada maksud lain agar para capres mau lebih sungguh-sungguh mengenali dunia intelijen Indonesia yang sangat progresif, minimal dari kaca mata Blog I-I. Dari jaringan Blog I-I baik dari komunitas intelijen, LSM, aktivis HAM, wartawan, lawyer, mahasiswa, pemuda, dapat dirasakan bahwa kepercayaan rakyat Indonesia terhadap intelijen semakin meningkat dari waktu ke waktu. Hal ini tidak terlepas dari reformasi intelijen, netralitas intelijen dalam politik, serta peningkatan sumber daya manusianya. Walaupun belum ada polling resmi, namun seandainya ada pihak yang membuat polling, saya yakin hasilnya akan jauh lebih baik dibandingkan pada era Orde Baru.

Akhir kata, mari kita hentikan berbagai kampanye hitam, fitnah dan adu domba serta hal-hal yang membuat figur para capres menjadi "buruk" di mata bangsa Indonesia. Jokowi adalah sosok jujur dan sederhana yang menjanjikan perubahan, Prabowo adalah sosok yang tegas dan berani yang menjanjikan perubahan,Aburizal Bakrie adalah sosok pekerja keras dan tangguh yang menjanjikan perubahan. Akan berdampak positif bagi bangsa Indonesia untuk mengungkapkan sisi baik dan positif dari para capres. Walaupun akan juga baik apabila kita paham sisi negatifnya karena tidak ada manusia yang sempurna, namun semangat kita sebagai bangsa memerlukan nuansa positif untuk sungguh-sungguh mewujudkan harapan kita bersama.

Salam,
Senopati Wirang

Labels: , , ,

Comments:
saya setuju sekali dengan pernyataan diatas
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters