Perubahan Intelijen Perang Dingin dan Paska Perang Dingin (Serial Belajar Intelijen) » INTELIJEN INDONESIA

Wednesday, April 23, 2014

Perubahan Intelijen Perang Dingin dan Paska Perang Dingin (Serial Belajar Intelijen)

Dalam artikel hari ini, saya hanya ingin sharing tentang catatan dari buku William J. Lahneman berjudul Keeping U.S. Intelligence Effective tentang pentingnya perubahan sikap dan skill intelijen yang harus berubah bila menginginkan intelijen tetap efektif. Meskipun buku tersebut lebih banyak berbicara tentang bagaimana intelijen AS menjadi lebih efektif dalam menghadapi dinamika ancaman terhadap kepentingan nasional AS, namun tidak ada salahnya jika kita dapat mempelajarinya juga.

Lahneman yang meyakini bahwa revolusi intelijen sangat dibutuhkan dalam menghadapi dinamika ancaman menganjurkan sejumlah perubahan terhadap komunitas intelijen AS agar tetap efektif. Salah satu bagian dari saran Lahneman tersebut terkait dengan perubahan skill dan cara kalangan komunitas intelijen, sebagaimana tabel dibawah ini.


Dari tabel diatas cukup jelas bahwa Lahneman merujuk kepada sejumlah "kegagalan" intelijen AS dalam memprediksi atau mencegah terjadinya serangan terhadap kepentingan AS, khususnya yang berdampak strategis disebabkan oleh karakter intelijen perang dingin yang cenderung terkompartemen dalam spesialisasi dan sulitnya melakukan intelligence sharing antar lembaga intelijen. Hal inilah yang dianggap menjadi sumber kegagalan pencegahan serangan 9/11 dimana informasi dan analisa intelijen yang tersedia tidak segera disharing dalam komunitas intelijen sehingga akhirnya serangan tersebut tidak terhindarkan. Setidaknya demikian yang banyak diyakini oleh sebagian besar akademik, analis dan pengamat intelijen yang diakui secara politis dengan reformasi intelijen AS melalui pembentukan DNI yang kemudian menjadi koordinator dari komunitas intelijen AS.

Terlepas dari adanya sebagian kalangan yang meragukan peristiwa 9/11 sebagai kegagalan karena telah di-skenariokan oleh intelijen AS sendiri, apa yang terjadi kemudian adalah serangkaian perubahan drastis yang mendorong terciptanya suatu jaringan sharing informasi bukan saja di dalam AS melainkan juga secara internasional mengatasnamakan melawan terorisme.

Pelajaran penting yang dapat diambil oleh Indonesia adalah bahwa negara sebesar AS dengan sumber daya yang begitu besar masih mengalami suatu kendala dalam membangun sistem intelijen nasional yang solid dan bekerja secara efektif. Sehingga kemudian pemerintah AS mengambil langkah-langkah strategis guna memperkuat komunitas intelijen dengan tetap menjaga standar keamanan masing-masing institusi guna mencegah terjadinya kebocoran. Terkait dengan kebocoran, dari dokumen-dokumen Snowden kita dapat mempelajari bahwa spesialisasi intelijen masih berlaku bahkan semakin dalam dengan penggunaan teknologi tinggi yang belum dimiliki negara lain. Namun spesialisasi tersebut tidak menghalangi terjadinya sharing intelijen guna menghasilkan produk akhir yang lebih sempuran kepada pengguna yakni, Presiden. Dengan kata lain, masing-masing institusi induk tetap memiliki budaya dan profesionalisme yang khas, namun untuk kepentingan nasional berbagi informasi dalam rangka menghasilkan analisa dan perkiraan yang lebih tepat dan tajam.

Apa yang saat ini belum dimiliki Indonesia? dan haruskah Indonesia memilikinya? 

Indonesia telah memiliki komunitas intelijen yang dikoordinasikan oleh BIN baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah sesuai amanat Undang-Undang dan Keputusan Presiden. Namun eksekusinya dapat diperkirakan akan sangat sulit karena dua hal yang masih menghambat yakni spesialisasi intelijen dan budaya untuk berbagi informasi intelijen. Hal ini mudah untuk diucapkan namun sulit untuk dipraktekkan. Selain itu, ada kecenderungan sebagian petinggi/pejabat yang memanfaatkan untuk kepentingan karirnya, khususnya terkait dengan karir di instansi asal. Hal itu sebenarnya wajar saja dan cukup manusiawi karena merupakan bagian dari dinamika perjalanan seseorang yang meniti karir di dunia intelijen baik yang berinduk pada BIN, TNI, Polri ataupun departemen teknis terkait. Namun kewajaran ini harus tetap diawasi atas nama profesionalisme intelijen dan kepentingan nasional, jangan sampai kepentingan karir seseorang menyebabkan kelambatan respon pemerintah terhadap ancaman yang membahayakan bangsa Indonesia.

Perubahan cara pandang, paradigma, atau apapun namanya merupakan suatu keniscayaan sejarah dimana kita harus terus-menerus mengasah intelijen kita bukan saja mampu bersikap adaptif melainkan juga antisipatif. Intelijen merupakan lembaga terus-menerus belajar baik dari sejarah, masa kini, maupun masa depan. Berbagai bidang keilmuan yang terkait dengan keselamatan suatu bangsa dan dinamika informasi merupakan kewajiban yang harus diembannya. Apabila ingin dibandingan dari sisi intelektual, maka hanya dunia akademik yang dinamis yang memiliki kemiripan dengan dinamika dunia intelijen.

Perubahan sejumlah paradigma yang diajukan oleh Profesor Lahneman dapat menjadi valid apabila kita sungguh-sungguh kritis dalam memahaminya. Misalnya mengenai konsep bahwa pengetahuan adalah power (era perang dingin) dan berbagi pengetahuan adalah power (paska perang dingin). Apakah pernyataan tersebut Hitam-Putih atau Benar-Salah? Tentunya tidak bukan? Mengapa demikian?

Pertama, benar bahwa pengetahuan adalah power dan hal ini berlaku di masa lalu, di masa kini dan di masa mendatang. Lalu mengapa Prof. Lahneman menyarankan agar di era paska perang dingin cara pandang diubah menjadi berbagi pengetahuan adalah power? Secara catatan sejarah hal ini tidak terlepas dari kejadian 9/11 dimana seandainya FBI, CIA, dan berbagai lembaga intelijen AS saling berbagi pengetahuan/informasi, maka peristiwa 9/11 mungkin dapat dicegah atau diminimalkan dampaknya. Jadi walaupun pengetahuan akan tetap memiliki definisi sebagai power, maka berbagi pengetahuan akan menjadi power yang lebih dahsyat. Hal ini sebenarnya sederhana, seperti dalam peribahasa Indonesia bahwa dua kepala (atau banyak kepala) lebih baik dari pada satu kepala. Terlebih dalam urusan strategis tentunya kita tidak dapat bersandar pada kepintaran satu orang saja.

Sejumlah anjuran perubahan lainnya sebagaimana tercatat dalam tabel dapat sahabat Blog I-I renungkan sendiri merujuk kepada penjelasan sederhana diatas. Singkatnya marilah kita senantiasa melakukan introspeksi, peningkatan kemampuan operasi dan ketajaman analisa, serta penataan organisasi yang terbaik, sehingga intelijen secara individual maupun sebagai badan akan terus-menerus memberikan kontribusi yang terbaik untuk bangsa dan negara.

Akhir kata saya ingin mengundang siapapun anak bangsa Indonesia untuk berkontribusi baik dalam bentuk komentar maupun artikel sanggahan, karena niat saya sharing knowledge belum tentu yang terbaik bila dibandingkan dengan apa yang sahabat Blog I-I pikirkan ketika membaca Blog I-I.

Salam Intelijen
Senopati Wirang


Labels: , , , ,

Comments: Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters