Tentang Pemberitaan Jokowi (Belajar memahami pembentukan opini) » INTELIJEN INDONESIA

Saturday, April 05, 2014

Tentang Pemberitaan Jokowi (Belajar memahami pembentukan opini)

Kepada seluruh sahabat Blog I-I yang rajin mengunjungi dan menyampaikan pendapatnya kepada Blog I-I, baik dalam bentuk komentar maupun diskusi via email, perlu saya sampaikan bahwa Blog I-I tidak berpolitik dalam pemilu 2014 sesuai netralitas intelijen dalam negara demokrasi manapun di seluruh dunia.

Terkait artikel Stanley Greenberg dan Indonesia dapat saya pastikan bahwa hal itu bukan dukungan kepada Jokowi. Namun demikian saya sangat memperhatikan pertanyaan tentang pemberitaan Jokowi yang luar biasa oleh sejumlah media sebagai mana ditanyakan saudara Lutfi Hakim. Selain itu saya sangat mengapresiasi pendapat kelompok study mahasiswa yang menilai artikel Blog I-I tersebut sebagai kontras dari propaganda TM2000.

Bagi sahabat Blog I-I yang mendalami studi komunikasi, tentunya sudah paham tentang dahsyatnya dampak media dalam pemilu dan persaingan menuju kursi kekuasaan. Indonesia baru saja memasuki babak baru demokrasi dengan pemilu langsung pada tahun 2004 dengan terpilihnya Presiden SBY dan lahirnya partai baru yang mendapatkan dukungan publik yakni Partai Demokrat (PD). Ingatkah saudara/i sekalian bagaimana nama SBY melambung sedemikian rupa karena simpati media dan publik paska berkembangnya kesan "terzalimi" yang terkenal dengan Jenderal cengeng dan lain sebagainya. Perhatikan bagaimana hal itu menjadi titik awal melambungnya SBY melebihi seluruh kandidat capres dan sebagai partai baru PD tiba-tiba langsung menjadi kekuatan menengah dan pada pemilu 2009 menjadi sangat besar.

Bagi Blog I-I, peranan media adalah suatu keniscayaan keberpihakan berdasarkan pada kalkulasi pemilik modal dan simpati publik. Ada yang direkayasa dan ada yang murni hasil pantauan para wartawannya. Saya percaya bahwa cukup banyak wartawan yang masih ideal dalam memberitakan suatu berita tanpa bermaksud merubahnya menjadi operasi pembentukan opini atau propaganda atas pesanan pemilik modal. Namun demikian, media yang berpihak secara politik adalah suatu "kewajaran" yang perlu diawasi oleh publik sebagai pihak yang terkena dampak langsung. Hal itu karena adanya afiliasi politik media baik karena faktor pemilik modal maupun karena dewan redaksi yang memiliki kesamaan ideologi dengan partai politik.

Dalam kasus Jokowi, Blog I-I melihatnya lebih sebagai kombinasi antara adanya simpati publik sehingga akan selalu menarik sebagai berita, dan simpati media yang kemudian semakin membesarkan citra Jokowi melalui frekuensi pemberitaan yang sering dan pemilihan berita yang positif. Hal ini menjadi tugas publik untuk mempertanyakannya apakah media sudah bersikap obyektif dan seimbang sehingga tidak menjerumuskan persepsi publik. Oleh karena itulah, maka Blog I-I tidak menyerang secara pribadi kepada akun TM2000 maupun asatunews.com yang secara aktif mengeluarkan kampanye atau berita yang bertolak belakang dengan mainstream media di Indonesia tentang Jokowi. Apa yang dilakukan Blog I-I hanyalah pengecekan sederhana  dan tidak dimaksudkan untuk berpropaganda, namun menunjukkan kepada publik bagaimana suatu propaganda terbentuk. Hal ini merupakan tanggung jawab pendidikan publik yang merupakan tugas kita bersama sebagai anak bangsa. Sehingga sebagaimana dinyatakan oleh kelompok study mahasiswa, pada akhirnya biarkan rakyat yang berpikir dan menentukan pandangannya berdasarkan pada berbagai informasi yang tersedia.

Apa yang dikembangkan oleh TM2000 dan asatunews.com dalam kacamata intelijen adalah suatu upaya meyakinkan publik terhadap adanya kemungkinan "konspirasi". Hal ini juga patut dihargai sebagai upaya memberikan peringatan kewaspadaan bagi publik dalam menelan berbagai informasi yang berkembang. Bahwa publik kemudian percaya atau tidak percaya sepenuhnya merupakan hak publik dalam menentukan sikapnya. Itulah pula sebabnya ketika Blog I-I ditanyakan pendapatnya tentang akun-akun atau pemberitaan yang sudah menjurus kepada "konflik" apakah harus ditindak, Blog I-I secara tegas menyatakan bahwa pemberitaan semacam itu harus dikumpulkan dan dianalisa terlebih dahulu dan jangan tergesa-gesa serta harus jelas dasar hukumnya dan jangan sampai menciptakan ketakutan baru bagi masyarakat untuk berbeda pendapat. Apa yang terjadi hingga saat ini masih berada dalam ruang lingkup dinamika kampanye, propaganda atau pembentukan opini, dan belum masuk dalam kategori hasutan melakukan tindak kekerasan sehingga aparat pemerintah belum perlu melakukan tindakan apapun selain memonitor saja.

Lalu bagaimana dengan pemberitaan yang berlebihan dari media tertentu yang berafiliasi atau bersimpati secara politik? Hal ini harus dikembalikan kepada aturan main dunia pers sesuai dengan UU Pers maupun UU Politik lainnya termasuk aturan main yang dikeluarkan Komisi Pemilihan Umum. Blog I-I bukan ahlinya dalam masalah ini, semoga pihak-pihak yang berkompeten melakukan hal-hal yang perlu dilakukan dalam mengawal langkah dunia pers menyediakan informasi yang berbobot, obyektif dan mendidik. Selain itu, hal ini juga menjadi tanggung jawab moral kalangan pers yang apabila terbukti tidak obyektif dan adil dalam pemberitaan akan menjerumuskan rakyat Indonesia.

Apabila rakyat Indonesia senang dengan berita-berita sensasi atau teori konspirasi, hal ini juga akan terbukti ketika mereka memutuskan akan melakukan apa dan bagaimana. Termasuk dalam hal pemilu, persaingan melalui tema-tema kampanye, dinamika serangan politik, dan kepiawaian merespon serangan politik, termasuk beredarnya berbagai kampanye hitam merupakan suatu dinamika yang normal di dalam demokrasi, khususnya pada masa kampanye dan menjelang hari-hari pemilihan. Ketika anda berada di dalam berbagai pilihan partai, caleg maupun capres, maka kesan mana yang terkuat dalam benak anda biasanya itulah yang akan anda pilih. 

Menjadi hak masyarakat para pemilih dalam menyenangi kampanye, dalam bersimpati pada propaganda politik, atau dalam membenci kenyataan politik. Perhatikan poin-poin pertanyaan berikut ini:
  1. Apakah rakyat lebih melihat figur ketokohan yang populer ataukah program kerja?
  2. Apakah rakyat lebih melihat karakter kepemimpinan ataukah rekam jejak?
  3. Apakah rakyat hanya bersandar pada satu sumber berita ataukah berdasarkan perbandingan beberapa berita yang berbeda?
  4. Apakah jargon kampanye berpengaruh dalam sikap para pemilih?
  5. Apakah kampanye hitam dapat merubah cara pandang para pemilih?
  6. Bagaimana posisi harapan publik berkorelasi dengan calon-calon pemimpin nasional?
  7. Apakah penentuan pilihan parpol, caleg atau capres hanya berdasarkan pengetahuan umum melalui berita?
  8. Bagaimana peranan media elektronik dan cetak dalam membentuk opini publik Indonesia terkait pemilu 2014?
  9. Sejauh mana peranan media sosial dalam turun serta mempengaruhi pandangan publik terhadap pemilu 2014?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut barangkali lebih tepat menjadi pertanyaan riset mereka yang mendalami studi di fakultas ilmu sosial dan politik. Namun secara umum kita sebagai masyarakat cenderung bersandar dan ikut-ikutan pada suatu "trend" dan salah satu "trend" terkuat adalah media, hal ini juga berlaku untuk iklan dalam strategi pemasaran. Dari pengetahuan dan jaringan yang dimiliki oleh Blog I-I, semangat pendidikan publik inilah yang diharapkan dapat meningkatkan kebiasaan untuk berpikir kritis dalam masyarakat Indonesia. 

Semangat Blog I-I adalah agar berita berimbang berdasarkan fakta dan bukan angan-angan atau bahkan rekayasa kebohongan. Hal ini sangat penting agar masyarakat Indonesia lebih teliti dan terbuka pikirannya sehingga semakin mandiri dalam memutuskan pilihannya, sehingga tidak menyesal di kemudian hari. Blog I-I juga tidak menafikan kemungkinan adanya kebenaran dalam opini ataupun propaganda yang dikembangkan dan bersifat pro dan kontra di tengah-tengah masyarakat. Itulah pula sebabnya Blog memberikan judul serial belajar memahami pembentukan opini.

Untuk lebih jauh dan detail tentang apakah ada kejanggalan dalam pemberitaan Jokowi, tentunya yang paling memahami adalah media yang mengeluarkan berita-berita yang dituduhkan tidak berimbang. Hal ini memerlukan penelitian khusus atau bahkan penyelidikan yang mendalam dalam rangka mengumpulkan bukti-bukti. Secara gampangnya sahabat Blog I-I bisa saja melakukan studi khusus dengan mengumpulkan seluruh bukti-bukti pemberitaan yang telah terpublikasi dan disusun secara statistik kemudian dibandingkan dengan berita lain. Susun klasifikasi berdasarkan kepantasan posisi berita dari prioritas penting tidaknya. Misalnya berita "bencana alam" sewajarnya lebih penting daripada berita "Jokowi tersenyum" "Prabowo gagah berkuda" "ARB sayang keluarga" "Wiranto berhati nurani", dst. Apabila sahabat Blog I-I menemukan angka rata-rata jumlah pemberitaan yang fantastis terhadap tokoh tertentu bahkan disaat ada berita yang jauh lebih penting untuk diketahui publik, maka hal itu sudah aneh. Kemudian mengenai posisinya apakah dalam headline dalam berita TV waktu prima ataukah selingan. Semoga ada mahasiswa komunikasi atau politik yang meneliti pola-pola pemberitaan tersebut sehingga kita semua dapat belajar.

Akhir kata, saya ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh sahabat Blog I-I yang selalu memberikan dukungan moril maupun tantangan argumentasi. Semoga bermanfaat.

Salam,
Senopati Wirang

Labels: , , , , ,

Comments:
#JokowiSalahkan

google.co.id/search?q=Jokowi+Salahkan
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters