Bagaimana Menyikapi Rusia? » INTELIJEN INDONESIA

Wednesday, June 04, 2014

Bagaimana Menyikapi Rusia?

Artikel kali ini tidak membahas dinamika politik dalam negeri Indonesia yang semakin hangat dengan persaingan menjelang pemilu Presiden/Wakil Presiden pada 9 Juli 2014, ataupun kembali meyakinkan publik Indonesia bahwa Intelijen bersikap NETRAL dengan tidak memihak kepada salah satu kubu politik.

Artikel ini merupakan suatu catatan strategis yang harus dipahami sungguh-sungguh oleh Pemerintah Indonesia saat ini maupun yang akan menjadi pemenang dalam pemilu nanti. Meskipun artikel ini berdasarkan sumber informasi jaringan Blog I-I yang tersebar di berbagai belahan dunia, namun tentunya tidak lepas dari kode etik dan rahasia negara untuk tidak mengungkapkan hal-hal yang dapat membahayakan kepentingan nasional Indonesia. Perlu sahabat-sahabat Blog I-I sadari bahwa Blog I-I bukan laporan jurnalisme yang memiliki kewajiban moral menyampaikan informasi kepada publik, melainkan sedikit percikan analisa intelijen yang bertujuan memberikan sekilas ilustrasi persoalan strategis yang perlu diperhatikan oleh kita bersama. Dengan demikian, bila anda seorang intel aktif, analis intel, perwira intel, atau yang bekerja untuk lembaga intelijen jangan mengandalkan atau mencopy-nya untuk laporan. Tetapi gunakanlah sebagai pembanding dengan analisa anda sendiri. Kepada sahabat Blog I-I dari masyarakat umum, berhati-hatilah dalam membaca dan memahami serta jangan dilihat sebagai refleksi Pemerintah Indonesia.

Mengapa Rusia?
Dibawah kepemimpinan Vladimir Vladimirovich Putin, Rusia berhasil memulihkan posisinya sebagai negara besar yang diperhitungkan di percaturan internasional. Kualitas Putin dapat dibandingkan dengan Mantan Presiden AS George Bush pertama, yang sama-sama memiliki latar belakang intelijen yang sangat kuat. Dari sisi sikap yang konservatif, keduanya juga memiliki karakter nasionalis yang didukung oleh strategi-strategi membela kepentingan nasional yang agresif dan kalkulatif sehingga berbagai kepentingan nasional masing-masing dapat dicapai. 

Putin yang berkuasa di Rusia sejak tahun 2000 (Presiden 2000-2008 dan Perdana Menteri 2008-2012 dan kembali menjadi Presiden sejak 2012) hingga saat ini merupakan tokoh sentral dalam perpolitikan Rusia. Terlepas dari adanya analisa bahwa Rusia tidak demokratis dan telah dikuasai oleh oligarki kekuasaan di sekeliling Putin, Rusia sebagai negara berhasil memulihkan posturnya baik secara ekonomi, politik, maupun pertahanan dan keamanan. Lebih jauh lagi, faktor Rusia kembali dominan dalam berbagai konflik yang berkembang di berbagai kawasan. Lihat saja misalnya dua konflik yang masih bergejolak saat ini yakni konflik di Suriah dan Ukraina. Ketidakberdayaan Barat dalam melakukan intervensi guna mengamankan kepentingan demokrasi liberal dan ekonomi salah satunya terganjal oleh faktor Rusia. 

Amerika Serikat yg selama ini hampir selalu tampil sebagai aktor utama dalam berbagai penyelesaian konflik di dunia harus melihat kenyataan bahwa konsep libertarian interventionism untuk terus-menerus mengupayakan penyelesaian konflik di dunia semakin berat dan mahal. Meskipun dalam setiap intervensi AS tersebut diwajibkan untuk adanya kepentingan khusus AS baik secara ekonomi maupun geopolitik, namun tidak semua kartu utama dalam konflik dapat dikendalikan AS. Hal inilah yang menyebabkan AS perlu memikirkan ulang berbagai strategi globalnya. Langkah kebijakan luar negeri dan pertahanan keamanan AS selama ini hampir tidak ada tantangan dengan minimalnya kehadiran Rusia, misalnya dalam perang Irak, Afghanistan dan Libya. Namun dalam kasus Suriah dan Ukraina, jelas bahwa ketika Rusia hadir, AS dan sekutu negara Barat-pun berpikir ulang, dan sepertinya masih belum pasti bagaimana strategi menghadapi Rusia selain melalui mekanisme sanksi ekonomi yang belum tentu berhasil.

Adanya strategic partnership Rusia-India (Oktober 2000) bagaikan penegasan hubungan erat Uni Soviet-India pada era Perang Dingin. Strategi Rebalancing Asia Pacific AS dengan dukungan utama Australia, Jepang, dan Korea Selatan serta upaya merangkul negara-negara ASEAN, justru semakin memperat "aliansi" China - Rusia, dan cenderung menguntungkan Rusia karena kecurigaan China adalah bahwa rebalance tersebut tidak lain merupakan pembendungan pengaruh China di kawasan Asia Pasifik. Baik China maupun Rusia tidak mungkin menjadi bagian dari Blok Barat yang dipimpin AS, namun belum kembali membentuk format Blok Timur sebagaimana era Perang dingin. Hal itu bukan saja dikarenakan sistem ekonomi global yang semakin terbuka dan terintegrasi, melainkan juga karena kurangnya relevansi pembentukan Blok Timur dikaitkan dengan sistem ekonomi dan politik global saat ini. Apa yang akan terjadi adalah persaingan yang semakin tajam di berbagai sektor dalam rangka mencapai keunggulan terhadap lawan. Salah satunya adalah peningkatan tajam operasi intelijen luar negeri baik dari Rusia, China maupun AS dan negara-negara Barat.

Di dunia intelijen, dunia saat ini sudah berada dalam situasi yang lebih kompleks dari pada situasi saat perang dingin. Terdapat berbagai elemen musuh yang harus secara teliti didefinisikan oleh setiap negara apabila tidak mau kecolongan.

Kegamangan kebijakan luar negeri AS, dan berbagai manuver politik dan ekonomi Rusia cenderung mengarah pada situasi perang dingin, perbedaannya adalah bahwa pada tingkat global terjadi persaingan perebutan pengaruh dalam mendorong model tata kelola dunia (global governance) untuk kepentingan negara-negara yang bersaing. Hal itu terjadi di semua sektor, persaingan teknologi, pendidikan, ekonomi, angkatan bersenjata, aliansi, dlsb. Ke depan Rusia dan China akan terus berupaya memasukan konsep-konsep tata kelola dunia (international order), namun masih belum jelas apakah akan mengarah kepada suatu Blok baru atau tetap berada dalam payung model global governance saat ini. Perkiraan Intelijen Blog I-I adalah bahwa China cenderung untuk masuk ke dalam semua relung tata kelola dunia dan secara bertahap mempengaruhinya, sementara Rusia disamping juga berusaha untuk memantapkan posisinya di percaturan politik global seperti China, akan memainkan peranan yang lebih agresif daripada China baik secara retorika politik maupun strategi yang akan membuat Blok Barat membayar mahal, tanpa Rusia mengeluarkan biaya yang terlalu besar. 

Bagaimana sikap Indonesia?

Indonesia selama 10 tahun terakhir juga menunjukkan berbagai keberhasilan yang memperkuat posisi global Indonesia.  Namun demikian, Indonesia masih dapat dikatakan memiliki pekerjaan rumah yang sangat banyak sehingga kiprah globalnya masih terbatas di ranah diplomasi dan peran serta dalam menjaga ketertiban dunia melalui pengiriman pasukan perdamaian. Meskipun Indonesia masuh dalam kelompok G20, dari pemantauan intelijen peranan tersebut cenderung sebagai pelengkap global economic governance dimana kepentingan nasional Indonesia belum sepenuhnya terakomodasi. Hal itu bukan karena disebabkan lemahnya diplomasi, melainkan lebih disebabkan oleh fakta masih kurangnya kekuatan pondasi ekonomi nasional Indonesia yang harus terus-menerus diperbaiki guna meningkatkan daya saing global Indonesia. Indonesia dengan kelompok kelas menengah yang semakin besar menjanjikan perubahan yang semakin baik ke depan, namun hal itu harus didukung oleh pemerataan pembangunan sehingga kelas menengah tidak semuanya berkumpul di perkotaan. Rencana percepatan pembangunan desa dengan dukungan RUU Desa serta desentralisasi yang telah berjalan dengan otonomi daerah secara teori akan menciptakan pemerataan pembangunan. Namun faktanya sumber daya dan tantangan setiap daerah berbeda sehingga tetap memerlukan perhatian serius dari Pemerintah Pusat untuk mendukung pembangunan di kawasan yang tertinggal.

Hubungan Indonesia - Rusia dapat dikatakan jauh lebih baik daripada era Perang Dingin dimana Rusia banyak melakukan operasi intelijen di Indonesia. Meskipun saat ini, Rusia juga masih aktif melakukan operasi intelijen di Indonesia, namun hal itu dapat dilihat sebagai kewajaran sebagaimana juga berbagai negara melakukannya di negara lain. Target kegiatan intelijen Rusia di Indonesia pada umumnya diarahkan untuk mengetahui rencana strategis Indonesia dan hubungan Indonesia dengan AS dan negara-negara Barat. Dalam kaitan ini, Rusia akan terus berusaha mengisi setiap kekosongan kerjasama Indonesia dengan negara-negara Barat. Sebagai contoh misalnya soal kesempatan pembelian alutsista yang diperlukan TNI dan pendidikan. Pengaruh Rusia dan operasi intelijennya jauh lebih halus dan semakin mirip dengan pola-pola yang dilakukan oleh AS di Indonesia. Sehingga hal ini menjadi bagian dari kalkulasi Indonesia sendiri, khususnya kalangan TNI dan Intelijen dalam menyikapi sebaik-baiknya.

Bagaimanapun juga Indonesia tidak bermusuhan dengan Rusia, namun juga bukan aliansi karena Indonesia memutuskan untuk bersikap bebas (mandiri) dan aktif. Beratnya melaksanakan politik bebas dan aktif adalah bahwa dalam aspek "bebas" sesungguhnya Indonesia belum dapat sungguh-sungguh bebas karena masih banyak ketergantungan dan kelemahan yang disebabkan oleh masih kurangnya kekuatan nasional Indonesia. Meskipun demikian, Indonesia cukup berhasil dalam menutupi kelemahannya dengan berbagai terobosan diplomasi yang dapat melindungi kepentingan nasional Indonesia. Dengan semangat kepentingan bersama, Indonesia bersama-sama negara ASEAN misalnya dapat mengupayakan pencegahan konflik di kawasan yang akan merugikan pembangunan ekonomi seluruh negara di kawasan Asia Tenggara.

Dampak dari dukungan Rusia kepada rejim Asad di Suriah adalah sentimen negatif terhadap Rusia dari mayoritas Muslim Sunni Indonesia. Sementara dampak dari intervensi Rusia di Ukraina menyadarkan Indonesia akan bahaya intervensi asing dalam kasus separatisme. Rusia hingga saat ini masih dipersepsikan secara negatif oleh kebanyakan orang Indonesia yang masih mengingat kekejaman komunisme, saat ini dengan perkembangan Indonesia menjadi negara yang sungguh-sungguh demokrasi tidak membawa perubahan banyak dalam persepsi terhadap Rusia, karena demokrasi di Rusia dapat dikatakan kualitasnya jauh dibawah Indonesia.  

Apakah Indonesia dapat mengambil kebijakan seperti era Presiden Sukarno dengan memaksimalkan situasi global untuk kepentingan nasional Indonesia? Hal ini akan lebih sulit karena di dalam sistem politik Indonesia telah banyak kekuatan dalam negeri yang memiliki pandangan yang berbeda, misalnya kelompok nasionalis, kelompok Islam, kelompok minoritas, kaum Buruh dan Tani, kelompok pengusaha konglomerat, aktivis HAM, LSM, dll yang mana semuanya dapat memberikan pengaruh dalam arah kebijakan nasional Indonesia. Artinya sistem politik demokrasi membuka kesempatan kepada berbagai elemen bangsa untuk berkontribusi, sehingga kepemimpinan Indonesia tidak akan lagi terpusat pada satu orang Presiden. Minimal setiap gagasan yang asli muncul dari Presiden memerlukan perhitungan politik dalam negeri atau masukan dari berbagai kalangan dalam memperkuat legitimasinya.

Satu hal yang membuat faktor Rusia tidak terlalu dominan adalah karena posisi geografisnya yang jauh dari Indonesia. Indonesia tidak perlu khawatir sebagaimana Ukraina yang bertetangga dengan Rusia, namun hal ini tidak berarti Indonesia tidak peduli dengan dinamika politik luar negeri Rusia.

Sikap yang dapat menjadi alternatif bagi Indonesia antara lain: pertama memaksimalkan setiap kesempatan dalam hubungan internasional Indonesia. Artinya Indonesia dapat saja tutup mata dengan berbagai sikap Rusia dan tetap memaksimalkan hubungan ekonominya dengan Rusia. Kedua berhati-hati dan bersikap selektif dalam hubungan Indonesia - Rusia artinya Indonesia perlu menghindari kesalahpahaman dengan negara Barat yang saat ini melaksanakan sanksi ekonomi, serta memilih sektor-sektor kerjasama yang menguntungkan namun tidak akan menciptakan kontroversi. Ketiga, Indonesia mendekat ke AS dan mempelajari sungguh-sungguh kemungkinan terburuk dari "konflik" terselubung antara Rusia-AS serta memaksimalkan hubungan Indonesia-AS tanpa harus terjebak dalam sikap memusuhi Rusia. Keempat mendekat ke Rusia dalam rangka memahami perspektif Rusia dalam melihat tata kelola dunia sebagai alternatif yang lebih seimbang dan lebih baik untuk kepentingan global.

Disamping keempat alternatif diatas, hal yang pasti dan harus diperhatikan Pemerintah Indonesia adalah dampak dari kebijakan Rusia di kawasan kepada Indonesia. Sebagaimana kita ingat bersama bahwa intervensi militer Uni Soviet ke Afghanistan telah melahirkan generasi teroris yang merusak kedamaian, keamanan, keselamatan bangsa dan ekonomi Indonesia. Generasi tersebut belum semuanya terungkap, telah disusul oleh generasi baru yang akan lahir dari konflik di Suriah, meskipun konteknys berbeda yakni antara Sunni dan Shiah, namun dukungan Rusia kepada rejim Asad jelas akan dicatat oleh umat Islam Indonesia baik dari kelompok garis keras, Islam Politik atau masyarakat Muslim Sunni secara umum. Konflik di Suriah juga telah mempertajam konflik Sunni-Shiah di Indonesia yang selama ini dalam situasi yang kondusif. Proses radikalisasi di dalam negeri Indonesia tidak bersumber dari kegagalan Pemerintahan, melainkan dari konflik yang berada di luar negeri, sehingga sudah sewajarnya apabila Intelijen Indonesia mempersiapkan laporan selengkap-lengkapnya tentang konflik-konflik di luar negeri yang berdampak ke dalam negeri Indonesia.

Sekian
Semoga bermanfaat,
Salam Intelijen
Senopati Wirang    

Labels: , , , , , ,

Comments:
wahhh serem banget ya rusia
 
Masing-masing negara akan saling aktif dalam dinamika politik global, termasuk juga NKRI. Namun terlepas dari itu, mari kita tingkatkan kewaspadaan terhadap pengaruh asing yang masuk ke Indonesia. Tidak sedikit pengaruh asing tersebut menimbulkan konflik, dan memang semua itu bukan untuk tujuan utama mereka. Sadar dan tidak sadar, kita semua akan digiring pada suatu klimaks dari perpecahan, dan disintegrasi bangsa. Salah satu tujuan asing di Indonesia adalah resource sumber daya alam dan mineral tambang yang besar. Jadi rekan-rekan bisa memikirkan jauh kedepan, kepentingan asing di NKRI adalah dengan tujuan itu. Salam
 
Soal intervensi Uni Soviet di Afghanistan yg anda katakan bahwa memunculkan kelompok2 radikal macam Al-Qaeda dsb, itu malah hasil dari ciptaan Amerika saat berusaha mendepak Uni Soviet keluar dari Afghanistan. Amerika diwakili oleh CIA menciptakan Al-Qaeda beserta tokoh pentingnya (Osama bin Laden) untuk melakukan perlawanan terhadap Uni Soviet agar keluar dari Afghanistan! Jadi bukan karena Soviet menginvasi Afghanistan lalu muncul dengan sendirinya gerakan2 ekstrim seperti yg anda katakan, itu salah! Bisa anda baca di buku karangan Hillary Clinton yg berjudul The Hard Choice
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters