Kontroversi Wikileaks Australia: Korupsi Pencetakan Uang Negara Libatkan SBY dan Mega? » INTELIJEN INDONESIA

Thursday, July 31, 2014

Kontroversi Wikileaks Australia: Korupsi Pencetakan Uang Negara Libatkan SBY dan Mega?

Berbeda dengan pandangan umum masyarakat dunia (khususnya mereka yang mendukung kebebasan memperoleh informasi) tentang Wikileaks sebagai sebuah alternatif berita berdasarkan pembocoran dokumen rahasia, Blog I-I memiliki keyakinan 99% bahwa Wikileaks tidak lain tidak bukan adalah sebuah operasi propaganda yang menggunakan konsep "desepsi informasi" dengan menggunakan dokumen dengan tujuan politik tertentu.

Sebelum saya membahas tentang masalah dokumen pemerintah Australia yang berjudul Australia-wide censorship order for corruption case involving Malaysia, Indonesia and Vietnam ada baiknya saya jelaskan terlebih dahulu analisa saya tentang fenomena Wikileaks sebagai berikut:

Pertama, Wikileaks mengklaim diri sebagai organisasi jurnalistik non-profit, online, yang mempublikasikan dokumen rahasia dan bocoran informasi, dan berbagai media (film, rekaman) yang dirahasiakan dari sumber tanpa nama (anonymous). Dari klaim awal ini sudah tampak suatu bentuk operasi yang mendorong mereka yang memiliki akses kepada informasi rahasia untuk "membocorkan" informasi atas nama kepentingan publik. Dari sejumlah pembocoran informasi ada yang murni terdorong oleh kepentingan publik, namun porsi yang terbesar ternyata untuk kepentingan politik yang pada intinya membuat pihak yang dirugikan oleh pembocoran informasi tersebut menjadi sibuk, mengalamai ketegangan politik, atau bahkan mengalami tekanan untuk melakukan klarifikasi atas informasi dokumen yang bocor tersebut. Hal itu sangat-sangat politis bukan? Faktor anonymous sangat penting karena dari puluhan, ratusan atau bahkan ribuan anonymous tahukah anda bahwa prosentase yang terbesar sudah dapat dipastikan adalah operator-operator intelijen yang memiliki akses informasi rahasia. Sehingga pola jurnalistik Wikileaks hanyalah bagaikan bentuk lain dari Washington Post bagi Pemerintah AS atau media mainstream di suatu negara yang memiliki hubungan khusus dengan intelijen. Anda yang memiliki minat yang tinggi terhadap intelijen tentunya sering membaca berita di media massa yang menyiratkan suatu informasi dari sumber pemerintah yang tidak mau disebut namanya. Model menitipkan informasi kepada media mainstream memang tidak lagi menghebohkan karena suatu terlalu biasa bagi publik. Lahirnya Wikileaks jelas memberikan suatu alternatif propaganda yang akan segera menarik perhatian para pemimpin suatu negara apabila dokumen yang dibocorkan tersebut memiliki dampak politik yang besar.

Kedua, Wikileaks yang pertama kali muncul tahun 2006 di Islandia dikendalikan oleh organisasi yang diberi nama Sunshine Press dengan tokoh kunci seperti Julian Assange, seorang aktivis internet asal Australia, yang merupakan pendiri, direktur dan kepala editor Wikileaks. Selain Assange juga terdapat beberapa tokoh yang secara terbuka namanya dipublikasikan seperti Kristinn Hrafnsson, Joseph Farrell, Sarah Harrison. Belum ada kepastian siapa sesungguhnya mereka pada pendiri Wikileaks tersebut apakah mereka murni pejuang kebebasan informasi ataukah hanya decoy atau umpan dengan cover yang kuat dan support dari lembaga intelijen yang berkepentingan. Dari dinamika yang terjadi terdapat dua kemungkinan: (1) sejak awal adalah alat dari lembaga intelijen, (2) awalnya murni penggiat kebebasan informasi namun kemudian dikooptasi oleh lembaga intelijen. Lembaga intelijen mana yang sanggup melakukan operasi online secara global dengan kekuatan proteksi website dengan metode mirror maupun berbagai teknik underground lainnya? Jawabnya kemungkinan besar merujuk kepada NSA (National Security Agency) milik Pemerintah AS. Namun dalam operasionalisasi di lapangan tentunya dibawah kontrol CIA dan koleganya Kanada, Inggris, Australia dan Selandia Baru (Five Eyes). Apa dasarnya saya "menuduh" Wikileaks tidak lain hanya alat propaganda politik global yang bernuansa subversif kepada negara lain? Perhatikan bahwa meskipun kebocoran terbesar berasal dari Pemerintah AS, namun tidak ada satupun bocoran informasi yang akan berdampak strategis bagi kepentingan AS. Maksud saya berdampak strategis adalah bahwa bocoran informasi tersebut akan sungguh-sungguh dapat menghancurkan sendi-sendi negara, legitimasi politik, ekonomi, militer AS.

Ketiga, bersumber dari Wikipedia informasi pertama yang dibocorkan oleh Wikileaks adalah tentang rencana pembunuhan pejabat Somalia yang ditandatangani oleh Sheikh Hassan Dahir Aweys (masuk dalam daftar teroris AS tahun 2001). Informasi berikutnya adalah tentang korupsi keluarga mantan Presiden Kenya (1978-2002) Daniel Toroitich Arap Moi. Pada 2007, dokumen tentang Camp Delta SOP diunggah oleh Wikileaks, kemudian disusul oleh kasus Julius Baer sebuah Grup Bank Swasta Swiss, dan seterusnya tentang Scientology, Sarah Palin, daftar anggota British Nationalist Party (BNP), Peru Oil Scandal, dan seterusnya yang mana tidak ada yang dapat dikatakan membahayakan kepentingan nasional AS. Beberapa pihak mungkin menduga kebocoran akun Yahoo Sarah Palin sebagai hal yang membahayakan AS, sesungguhnya hal itu merupakan kesengajaan untuk menjegal Sarah Palin menjadi semakin populer di mata publik AS untuk kepentingan nasional AS sendiri. Demikian juga dengan "kebocoran" dokumen Camp Delta SOP yang merupakan kesengajaan belaka karena detail mengenai akses Palang Merah Internasional kepada tahanan Guantanamo telah diminta oleh American Civil Liberties Union, dapat dikatakan pembocoran tersebut sebagai jawaban.

Keempat, Wikileaks menjadi semakin heboh pada awal 2010 karena "kebocoran" sekitar 250.000 dokumen kawat diplomatik AS dan 500.000 dokumen laporan militer yang terdiri dari Iraq War Logs dan Afghan War Logs (termasuk video serangan udara di Baghdad) yang disengaja oleh Chelsea Elizabeth Manning aka Bradley Edward Manning. Meskipun kemudian pada Agustus 2013, Manning dihukum 35 tahun penjara. Menurut informasi dari jaring Blog I-I, kebocoran tersebut dapat dilihat sebagai desepsi informasi dimana tujuan utama dari pembocoran laporan militer AS terkait perang Irak dan Afghanistan adalah bagian dari exit strategy AS karena AS mulai menghitung ulang untung-rugi perang Irak dan Afghanistan yang mana menyerap begitu banyak sumber daya AS khususnya diukur dari aspek keuangan. Bisa jadi Manning yang tidak stabil karena masalah orientasi gender tersebut memang didorong atau dijebak untuk membocorkan informasi tersebut. Selain itu, laporan kawat diplomatik AS yang minim atau tanpa analisa berarti hanya "informasi mentah" dari sumber-sumber dimana perwakilan AS berada. Dengan demikian tidak akan menimbulkan masalah bagi AS karena kita hanya akan dapat membaca minat Kedubes AS tanpa tahu maksud dan tujuan sesungguhnya, sebaliknya informasi-informasi sensitif yang dapat menimbulkan gejolak politik tersebut bila dibocorkan akan mengganggu stabilitas politik suatu negara dan sama sekali tidak mengganggu stabilitas politik AS.

Kelima, Wikileaks berusaha merangkul Snowden dan Snowden sendiri sempat mendapatkan dukungan dari kelompok Wikileaks, namun kemudian berkat kelihaian agen-agen rahasia dari Слу́жба Bне́шней Pазве́дки dibaca Sluzhba Vneshney Razvedki (SVR), upaya Wikileaks untuk merangkul Snowden kandas dan akhirnya Sowden jatuh ke pangkuan Moskow. Perbedaan utama dari Snowden dan Manning adalah bahwa Snowden memiliki banyak informasi yang dapat berdampak strategis kepada AS. Hal ini khususnya dalam teknologi informasi dan teknik-teknik propaganda modern yang dikembangkan AS dengan konsep dasar denial and deception. Sejak Snowden masuk dalam perlindungan Moskow, maka pengetahuan Russia tentang AS dan sekutunya meningkat sangat tajam dan Moskow-pun mulai memainkan peranan-peranan strategis. Perhatikan bagaimana tingkat kepercayaan diri Putin dan Russia secara umum meningkat tajam paska "terjebaknya" Snowden di Russia. Sementara itu, tawaran asylum bagi Snowden dari 4 negara Amerika Latin yakni Ekuador, Nikaragua, Bolivia, and Venezuela merupakan jebakan untuk kematian Snowden karena tidak ada satupun dari keempat negara tersebut kebal penetrasi CIA dan hanya Russia yang dapat melindungi Snowden dari operasi pembunuhan CIA. Sehingga akhirnya secara situasional, Snowedn terdampar di Russia karena Russia juga menghendaki informasi yang dimiliki Snowden termasuk pengetahuan yang berada di kepala Snowden.

Keenam, Wikileaks terus berkembang dengan berbagai bocoran dokumen dan informasi yang dapat mengganggu situasi politik suatu negara. Informasi tersebut terus berkembang dari sumber-sumber anonymous di luar bocoran Manning maupun sedikit dari Snowden yang American centric. Sebagai sebuat outlet atau etalase tentang bocoran dokumen rahasia untuk publik atas nama kebebasan informasi, Wikileaks bukan saja mengungkapkan apa-apa yang dibutuhkan publik untuk kemajuan kemanusiaan, namun justru menjadi alat bidik yang efektif dalam menimbulkan kegaduhan politik. Hal ini telah berkali-kali menimpa Indonesia, termasuk mengganggu hubungan diplomatik Indonesia - Australia.

Tentang Dokumen Australia yang Korupsi Pencetakan Uang Negara

Kemarahan Presiden SBY dan Ibu Mega dapat dipahami karena pemberitaan di media massa nasional Indonesia khususnya Sindonews yang secara mentah menterjemahkan apa yang dipublikasikan oleh Wikileaks pada 29 Juli 2014. Tanpa prasangka bahwa Sindonews sengaja mengangkat berita tersebut karena faktor Hary Tanoesoedibjo yang gagal berpolitik baru-baru ini, kita perlu melihat dokumen Australia yang dibocorkan Wikileaks tersebut sebagai berikut:

Pertama, deskripsi singkat yang dituliskan oleh Wikileaks sedikit menyimpang dari dokumen yang sesungguhnya. Deskripsi singkat tersebutlah yang kemudian diterjemahkan secara kasar oleh Sindonews dan menjadi berita tanpa melakukan pembacaan dokumen secara hati-hati. Tanpa bermaksud membela SBY atau Mega yang namanya ditulis pada nomor 2 poin k dan l tersebut, dapat disampaikan bahwa apa yang dimaksud dengan Perintah Pengadilan yang dibocorkan tersebut kemungkinan besar terkait dengan proses pengadilan lain yakni yang melibatkan sejumlah pejabat lembaga percetakan uang Australia dan Pejabat Reserve Bank of Australia dalam kasus pencetakan uang untuk Malaysia, Indonesia dan Australia. Hal ini perlu dilakukan sebagai jaminan bahwa proses hukum yang sedang berjalan dalam kasus korupsi di Australia tersebut tidak dikaitkan atau dimanfaatkan untuk tuduhan korupsi kepada sejumlah pimpinan politik di Malaysia, Indonesia, dan Vietnam. Hal ini merupakan hal yang lumrah dimana penyebutan nama-nama dalam kasus hukum dapat berdampak hukum pula karena keterkaitan langsung dalam tindak kejahatan atau tidak. Dengan adanya perintah pengadilan tersebut, maka dapat dipastikan bahwa nama-nama yang disebut tidak terlibat baik dalam hal menerima uang suap maupun melakukan upaya mengambil keuntungan dari proyek pencetakan uang plastik oleh perusahaan Australia tersebut.

Mengapa saya yakin bahwa nama-nama yang disebut dalam dokumen Australia tidak terlibat, karena dalam proses penyelidikan skandal korupsi di Australia boleh jadi akan disebut beberapa pihak yang antara lain sebagaimana perintah pengadilan nomor 1:
a. menerima atau mencoba menerima suap atau pembayaran yang tidak pantas
b. mendiamkan (setuju dengan bersikap diam) atau menutup mata terhadap siapapun yang menerima atau mencoba menerima suap atau pembayaran yang tidak pantas
c. merupakan pihak yang dimaksud atau diusulkan untuk menerima suap atau pembayaran yang tidak pantas

Dalam kaitan ini, pihak pemberi suap yakni perusahaan percetakan dokumen berharga Australia dan pejabat Bank Sentral Australia kemungkinan besar akan menargetkan pengambil keputusan di suatu negara, sehingga poin c menjadi relevan dimana politisi Malaysia, Indonesia, dan Vietnam menjadi target untuk disuap oleh perusahaan Australia. Hal ini tidak berarti para politisi tersebut terbukti menerima suap. Mengapa pengadilan harus mengeluarkan perintah yang mencegah pemanfaatan proses hukum terhadap sejumlah pejabat Australia tersebut? Sebagaimana disebutkan dalam alasannya antara lain untuk melindungi hubungan internasional Australia karena publikasi dokumen tersebut dapat merusak citra nama-nama orang yang disebutkan dalam dokumen yang dibocorkan karena diyakini nama-nama yang ditulis sungguh-sungguh tidak terlibat dalam skandal tersebut.

Kedua, kita perlu membaca dokumen lain tertanggal 12 Juni 2013 yang tidak dibocorkan karena kemungkinan besar hanya menyebut nama-nama pejabat Australia yang terindikasi kasus korupsi. Selain itu, bocoran perintah pengadilan Australia yang menyebut nama SBY dan Mega juga merupakan turunan dari proses dakwaan terhadap sejumlah pejabat Australia sehingga dapat dikatakan murni urusan pengadilan dalam negeri Australia yang kebetulan terkait dengan proyek pencetakan uang plastik untuk Malaysia, Indonesia, dan Vietnam. Sebagai tindakan preventif, pengadilan Australia mengeluarkan perintah untuk merahasiakan informasi terkait proses hukum korupsi tersebut termasuk perintah untuk tidak mempublikasikan dokumen yang kemudian justru dipublikasikan oleh Wikileaks.

Ketiga, siapa yang untung dan siapa yang rugi? Australia untungkah dari publikasi dokumen rahasianya? Rasanya Australia justru akan sangat rugi apabila sengaja membocorkan bahkan secara strategis dapat membuat Australia semakin jauh dari sahabat-sahabatnya di Asia. Sementara itu, Malaysia, Indonesia dan Vietnam jelas sangat dirugikan dari publikasi dokumen yang dapat merusak citra elit-elit politiknya.

Keempat, ingatkah sahabat-sahabat Blog I-I ketika saya menyampaikan warning kepada Pemerintah Indonesia dalam artikel Agresi Brutal Israel tanggal 11 Juli yang lalu? Bacalah kalimat terakhir dalam artikel tersebut: Ingat ! Kita sudah terlanjur mengambil sikap keras terhadap Israel demi membela saudara-saudara kita di Palestina. Apakah Israel akan diam berpangku tangan?

Karena Wikileaks merupakan media propaganda kontroversial yang sarat dengan kepentingan politik, maka sangat mungkin bahwa anonymous yang membocorkan dokumen pemerintah Australia tersebut adalah mereka yang bersimpati kepada Israel dalam rangka "mengganggu" Indonesia dan Malaysia yang bersuara keras terhadap pembantaian yang dilakukan oleh Israel. Sedangkan Vietnam dalam hal ini hanya terbawa-bawa saja karena bukan target utama operasi propaganda yang berupaya melemahkan legitimasi Pemerintahan di Indonesia dan Malaysia dengan menciptakan opini publik tentang korupsi jutaan dollar dalam kasus pencetakan uang oleh perusahaan Australia yang berada dibawah Bank Sentral Australia. Apakah saya hanya mengkait-kaitkan saja dengan teori konspirasi, jawabnya tidak, karena bila kita perhatikan proses publikasi dokumen yang merugikan Indonesia, biasanya terjadi pada saat ada sesuatu yang penting terkait dengan politik luar negeri Indonesia. Sehingga selain untuk pengalihan, Pemerintah Indonesia perlu berpikir secara lebih tajam dalam mendeteksi hal-hal serupa yang kemungkinan besar masih akan terjadi lagi di masa mendatang.

Berbeda dengan dokumen Snowden yang juga pernah menghebohkan, pada umumnya dapat dikatakan berita lama dengan tanggal dokumen yang sudah lama pula. Berita tentang pencetakan uang negara Australia ini tertanggal 19 Juni 2014 dan dibocorkan pada 29 Juli 2014, waktu yang tidak terlalu lama bukan? Artinya hanya dapat dibocorkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan dan memiliki akses kepada informasi dimaksud.

Akhir kata, kita tidak dapat meremehkan dokumen-dokumen yang dibocorkan melalui Wikileaks, namun demikian kita juga tidak perlu panik karena faktanya baik Megawati maupun Presiden SBY secara proses tidak ikut-ikutan dalam proses pencetakan uang negara bahkan yang tandatangan adalah Gubernur dan Deputi Gubernur Bank Indonesia dan yang mengurus langsung proses pencetakan yang dilakukan sendiri adalah oleh Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Perum Peruri) sebagaimana diamanatkan oleh PP No.32 Tahun 2006. Dalam hal pencetakan yang dilakukan oleh perusahaan asing, tentunya Bank Indonesia waktu itu (tahun 1999) memiliki pertimbangan sendiri tentang mengapa menggunakan perusahaan asal Australia tersebut.

Sekali lagi saya mengingatkan kepada Pemerintah Indonesia untuk bersiap-siap dengan berbagai serangan gangguan stabilitas yang dilakukan oleh pihak-pihak yang terganggu oleh sikap dan kebijakan luar negeri Indonesia khususnya Israel dan jaringan internasionalnya. Untuk sementara waktu, jaringan Blog I-I telah mendapatkan jaminan bahwa informasi Snowden tidak akan mengganggu Indonesia, namun bagaimana dengan sumber-sumber lain yang liar baik yang merupakan pencurian informasi maupun kesengajaan, atau karena sentimen atau simpati tertentu yang dimanfaatkan oleh pihak yang memusuhi Indonesia? Semoga Intelijen resmi Indonesia segera mengambil langkah-langkah strategis yang cerdas untuk mencegah terulangnya hal semacam ini, atau minimal melakukan klarifikasi berdasarkan fakta sebagaimana telah dilakukan oleh Blog I-I.

Salam Intelijen
Senopati Wirang




Labels: , , , , , , , , , ,

Comments: Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters