Fitnah / Hoax Polisi, TNI, BIN rekayasa Bom Thamrin » INTELIJEN INDONESIA

Saturday, January 16, 2016

Fitnah / Hoax Polisi, TNI, BIN rekayasa Bom Thamrin

Bersama ini Blog I-I ingin menyampaikan kepada seluruh sahabat Blog I-I bahwa ada pihak-pihak yang menghembuskan kebohongan dalam isu terorisme di Indonesia, termasuk kasus bom Thamrin yg baru terjadi tanggal 14 Januari yang lalu sebagai rekayasa aparat keamanan Indonesia (Polisi, BIN, TNI). Informasi tersebut jelas-jelas fitnah yang keji dan bermaksud jahat melemahkan dukungan rakyat Indonesia kepada aparat keamanan dalam melaksanakan tugas mulia melindungi rakyat dari serangan teroris. Beberapa jaringan Blog I-I bahkan mencium upaya melemparkan fitnah tersebut kepada Blog I-I dengan rujukan artikel Bisnis Terorisme

Artikel bisnis terorisme tersebut harus dibaca secara hati-hati sebagai kritik membangun agar Polisi, BIN, dan TNI bersatu padu melakukan operasi menghadapi terorisme yang sudah terlalu lama mengganggu ketentraman rakyat Indonesia. Baru-baru ini Blog I-I juga mendapatkan informasi bahwa operasi terpadu tersebut sudah terselenggara dalam melumpuhkan gerombolan Santoso. Operasi semacam itulah yang seharusnya terus digalakkan lebih besar lagi sehingga gerombolan Santoso dapat ditumpas hingga ke akar-akarnya.

Sekitar 7 tahun Indonesia dapat dikatakan aman dari serangan yang teroris yang besar, dan dengan terjadinya bom Thamrin maka eksistensi teroris kembali terasa dalam denyut kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Hanya dengan mengefektifkan operasi-operasi keamanan aparat keamanan, maka bangsa Indonesia dapat meniadakan ancaman terorisme. Dengan dukungan seluruh rakyat Indonesia yang cinta damai dan cinta tanah air dan kemanusiannlah, maka rasa aman dapat terwujud dengan cepat dan dijaga sebaik-baiknya.

Media sosial dan internet mempercepat tersebarnya suatu informasi termasuk yang benar dan yang bohong, hal ini sangat berbahaya bila berita kebohongan tersebut menciptakan rasa curiga sesama elemen bangsa Indonesia. Kebohongan melalui media sosial termasuk melakukan forward berita bohong tersebut seringkali tidak kita rasakan karen hanya memencet beberapa tombol di handphone atau komputer kita dan tersebarlah kepada ratusan, ribuan, bahkan ratusan ribu atau jutaan pemiliki akun lain. Misalnya sebuah twitter dengan follower yang jutaan, disadari atau tidak berita tweet atau retweet-nya akan diterima oleh seluruh followernya, dan bila berita itu bohong adanya maka yang mampu melakukan filter pribadi mungkin hanya beberapa persen, dan selebihnya melalui retweet atau bahkan mengembangkannya, dan bila berulang-ulang, maka terciptalah citra bohong tentang sesuatu. Sangat berbahaya bukan?

Khusus dalam kasus terorisme dan ancaman keamanan lainnya yang serius, langkah serius juga harus ditempuh oleh aparat keamanan untuk memberikan efek jera bermain-main dengan berita bohong melalui media sosial. 

Akhir kata Blog I-I menghimbau kepada seluruh sahabat Blog I-I untuk berkontribusi positif kepada pembangunan dan penciptaan rasa aman dan damai dalam masyarakat Indonesia.

Salam Intelijen,
SW

Labels: , , , , ,

Comments:
Menurut sy (dgn terjadinya kontak senjata terbuka dan pelaku cenderung tdk menyembunyikan identitas) itu bukan sekedar aksi teroris. Tetapi lebih dari itu adalah sebuah pesan pernyataan sikap "Ini loh kami bisa kapan saja membuat perlawanan kepada kalian, kami memiliki kekuatan untuk melawan".

Dugaan sy, ini soal perebutan kue saja.
 
Kita harus lihat dari sudut pandang yang berbeda. Paska ramai2x di Thamrin itu yang adalah opini revisi UU intelijen yang walau agak dihambat di DPR tetapi DPR mendorong di bentuk Perpu. Artinya ada proses Perpu lebih cepat dibandingkan proses revisi UU.

Untuk kepentingan siapakah Revisi UU Intelijen itu? Kita harus lihat bahwa awal tahun ini adalah awal berlakunya MEA. Sudah paham pastinya bahwa MEA adalah pasar bebas diberlakukan di semua negara ASEAN yang nantinya akan interkoneksi dengan pasar bebas si seluruh regional di dunia. Dlm memahami pasar bebas singkatnya semua mekanisme diserahkan pada kehendak pasar dan negara tidak lagi terlibat didalamnya. Peran negara hanya sebatas pembuatan regulasi2x/aturan untuk memperlancar kondisi tersebut (investasi modal). Nah kembali ke persoalan, pembuatan UU intelijen sedari awal sebagai salah satu bentuk regulasi atau aturan disamping peraturan lain yang sejenis dilahirkan untuk kepentingan tersersebut. Teror pun dilakukan dalam rangkan penguatan terus terhadap UU yang sudah dibuat salah satunya merevisinya.

Dari situ sebenarnya sudah tergambar, siapakah pelaku teror tersebut? Sutiyoso sendiri bilang jangan menilai bahwa intelijen kecolongan. Saya memaknai kalimat itu seperti bahasa bersayap dengan 2 kemungkinan 1. intelijen memang sudah tahu rencana tersebut 2. intelijen yang mensetingnya.

Teror2x seperti inikah bukan sekali dilakukan. Polanya sama hampir diseluruh dunia termasuk. Dimana kepentingan neoliberalismelah dan agen2xnya dibelakang teror3x itu termasuk di Thamrin kemarin. apalagi banyak analisa kejanggalan yang banyak di bahas di ruang yang lain yang makin menguatkan bahwa kejadian tersebut mengarah ke settingan dan bukan dari suatu tindakan karena paham radikal seperti yang di beritakan. Polanya sangat jelas.

Salam


 
Selalu ada pihak yang.melemahkan aparat dengan menghembuskan isu rekayasa dalam kejadian terorisme.Kita harus menyadari, bahwa terorisme sudah didepan mata dan sedang merencanakan kejadian yang tak diduga kapan dan.dimana terjadi. Mari kita galang persatuan dan.kesatuan untuk menjaga keutuhan NKRI.
 
media sering kali terlalu lebay memberitakan sesuatu
 
Dalang ny sngt sulit terungkap, n ad pla yg mnyangka battle of sarinah trdpt unsur false flag operation.

Sulit mlpaskn terorisme dr politik mski it dicover dg hal extrimisme idelogi


 
lucu...... target pakai pistol tdk di ketahui pelornya sdh habis, kalau aku sdh terkapar haehehe
 
Kasus sarinah emang banyak kejanggalan, tp apa harus d kata, kejadian sudah terjadi ya biarlah terjadi walaupun pasti ada dampak buruk lainnya pada sgelintir orang, seperti islam d kambing hitamkan kembali sebagai agama teroris padahal tidak demikian
 
siapa menabur benih ia pula memanen,selang beberapa hari pasca arab Saudi eksekusi ulama Iran lalu serta merta ada teror thamrin, dari sudut pandang analisa intelijen adalah sebuah kewajaran jika ini di korelasikan.
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters