Kepada Seluruh Umat Islam Indonesia » INTELIJEN INDONESIA

Wednesday, April 06, 2016

Kepada Seluruh Umat Islam Indonesia

Artikel ini bukan artikel intelijen dalam konteks NKRI, melainkan suatu perspektif pribadi yang dijiwai oleh semangat berbuat baik sebagaimana diajarkan dalam Islam.
Mohon maaf sebelumnya apabila analisa dalam artikel Skenario Penghancuran Islam telah menyinggung sebagian umat Islam Indonesia karena dapat diterjemahkan sebagai tuduhan "kebodohan" kepada saudara-saudara kita yang berjihad ke Irak dan Suriah dan terlibat dalam perang proxy yang kompleks yang melibatkan AS-Israel-Barat-Rusia-Iran-Arab Saudi-Turki. Benar bahwa artikel tersebut menggunakan teknik framing dari data-data sejarah konflik yang terjadi terkait dunia Islam, khususnya di Timur Tengah. Benar bahwa Blog I-I tidak mengambil rujukan kepada Al Quran dan Hadits karena hal itu bukan keahlian komunitas Blog I-I. Mohon agar dimaklumi bahwa artikel tersebut tidak secara eksklusif membela Islam. Tujuan artikel tersebut adalah dalam rangka pembelajaran dengan menyajikan artikel yang bersifat netral dalam kerangka Negara Republik Indonesia.


Kami sangat paham dengan semangat jihad dalam arti berperang yang dikobarkan sebagian umat Islam Indonesia yang sangat peduli dengan perkembangan dunia Islam baik di dalam negeri maupun luar negeri. Bahwa kematian adalah hal yang pasti terjadi dan menjemput kematian secara mulia dengan jihad adalah inti ajaran jihad yang tidak dapat dibantah oleh setiap orang yang mengaku Muslim. Persoalannya bukan pada konsep jihad perang atau qital yang merupakan jihad tertinggi dalam Islam, melainkan kepada kehati-hatian dalam menyikapi strategi dan tipu daya yang meyebabkan umat Islam terpuruk dalam ketidakberdayaan. 

Secara bathiniah dan keyakinan beragama, bahwa apapun yang terjadi di dunia baik dan buruk adalah atas Kehendak Allah SWT merupakan keimanan. Kami tidak akan membantah anggapan bahwa peristiwa-peristiwa yang terjadi di seputar konflik di dunia Islam adalah ketetapan Allah SWT dan bukan karena "kehebatan" skenario Barat (AS, Israel dan sekutunya) atau pengaruh Rusia, Iran dan lain-lain dalam menciptakan kondisi tersebut. Apa yang kami gambarkan dalam artikel Skenario Penghancuran Islam adalah suatu dinamika, proses, dan sebab akibat yang kemudian dapat kita terjemahkan sesuai dengan kemampuan akal kita masing-masing. Kami belum tentu benar bahkan boleh jadi jauh dari hakikat kebenaran. Peristiwa-peristiwa di dunia dapat selalu dikaitkan dengan ajaran agama, dapat diproses untuk dipahami secara saintifik (akademis), dapat didekati dengan pemahaman akal yang terbatas, dapat diserap dengan common sense, atau bahkan dapat tidak dipedulikan, kembali kepada masing-masing individu. Salah satu hal terpenting yang umumnya dilakukan manusia adalah berusaha untuk memahami persitiwa-peristiwa dunia tersebut untuk kemudian menjadi bahan pertimbangan dalam menyikapinya. 

Kehinaan dan pelecehan yang terjadi terhadap umat Islam di dunia maupun di Indonesia salah satunya adalah karena meninggalkan jihad dan kehilangan semangat/spirit dalam memperjuangkan nilai-nilai Islam. Keyakinan kepada ajaran Islam tergerus oleh konsep-konsep yang dibangun dari pemahaman akal manusia tentang begaimana manusia seharusnya berperilaku, berkarya, bernegara, behubungan sosial, dst. Ketika mantan Presiden PKS, Tifatul Sembiring mengutip hadits riwayat Ahmad tentang homoseksualitas, maka hal itu memicu "kemarahan" pembela LGBT yang menyebabkan tuduhan hate speech. Hakikat di atas empirisme, manusia tidak akan pernah pernah mampu mencapai penjelasan total tentang hakikat yang tersimpan dibalik hukuman yang keras terhadap homoseksualitas. Kemanusiaan dan penerimaan manusia terhadap hukum-hukum agama dan hukum-hukum buatan manusia sangat terkait erat dengan kenyamanan sang manusia itu sendiri. Penolakan campur tangan agama dalam urusan sosial, negara, dan peri kehidupan manusia berpusat pada keinginan untuk "bebas", bebas dari aturan agama. Namun karena manusia perlu diatur, maka manusia kemudian membuat aturan-aturan baru termasuk yang dianggap bertentangan dengan agama.

Ketika kasus tewasnya Siyono dalam status tahanan  Densus 88 mengemuka, berbagai reaksi bermunculan yang intinya mempertanyakan cara-cara perlakuan Densus 88 terhadap tahanannya. Mengapa terjadi kondisi tubuh Siyono dengan pendarahan kepala belakang, luka lebam di wajah, tangan, dada, dan patah tulang rusuk? Dari sisi polisi bahkan semakin keras dengan menyatakan bahwa ada kelompok pro teroris yang mendukung Siyono. Kapolri pun menyatakan bahwa Siyono adalah Panglima Neo Jamaah Islamiyah, sebuah pernyataan prematur yang hanya berdasarkan pada dugaan keterkaitan dengan Jamaah Islamiyah yang telah porak poranda. Peranan ormas Muhammadiyah patut dihargai karena mampu menengahi perbedaan pendapat ini dengan kepala dingin dan efektif berpegangan pada fakta-fakta upaya pengungkapan kebenaran dan penegakkan keadilan.

Orang Indonesia terdiri dari berbagai latar belakang etnis dan agama dan keyakinan. Kegagalan mayoritas umat Islam untuk bersatu dalam gerakan politik menyebabkan Indonesia tidak menjadi negara Islam sebagaimana dicita-citakan oleh sebagian umat Muslim yang dihatinya hanya terpatri oleh keIslaman. Kompromi Muslim moderat yang mengadopsi sebagian pemikiran Barat yang liberal menilai bahwa jalan tengah demokrasi masih dapat diterima sepanjang umat Islam tidak lagi ditindas. Agak aneh mengapa mayoritas tertindas bukan? Karena mayoritas umat Islam meninggalkan jihad dan menjadi pengecut-pengecut yang bersembunyi dibalik kehinaan atau karena mayoritas umat Islam Indonesia hanya berhenti pada level label semata dan bukan menghujam di dalam hati mewujud dalam perbuatan, perilaku dan amalannya. Berapa persen umat Islam Indonesia yang mengerti bacaan Al Quran? berapa persen yang memahami bahasa Arab? mengapa bahasa Arab tidak diajarkan di sekolah-sekolah umum sejak pendidikan dasar? Dimana perjuangan partai-partai politik dan ormas Islam yang mengaku membela Islam? 

Belajar bahasa Arab bukan suatu upaya Arabisasi, melainkan meningkatkan daya pemahaman terhadap sumber ajaran agama Islam sekaligus meningkatkan daya tangkal terhadap ajaran yang menyimpang dari Timur Tengah. Perhatikan derasnya pengaruh bahasa Inggris dan bahasa Mandarin di kota-kota besar di Indonesia yang bahkan meningkatkan daya tawar untuk bekerja di perusahaan-perusahaan yang menjanjikan gaji besar. Namun bila anda fasih berbahasa Arab, maka peluangnya mungkin mengajar, dan menjadi guide haji dan umroh, sementara dari aspek praktis berupa peningkatan kualitas keIslaman kurang menonjol.

Benar bahwa kami memperkirakan kehancuran umat Islam karena ulah umatnya sendiri yang meninggalkan jihad baik dalam artian perang sampai pada arti yang paling halus memerangi nafsu. Jangan disalah tafsirkan pandangan kami ini sebagai pembelaan terhadap terorisme atau dukungan terhadap radikalisme agama. Pada prinsipnya jihad adalah istilah yang baik dan mulia yang mengalami pelecehan makna karena ada pihak-pihak yang ingin mencabut semangat jihad dari seluruh dada umat Islam. Atau minimal setiap Muslim akan malu atau takut menyebut kata jihad karena khawatir dikaitkan dengan terorisme.


Demikian sedikit penjelasan dalam pandangan pribadi kami.
Ttd.
Jaringan Blog I-I Timur Tengah dan Afrika.


Penjelasan Senopati Wirang:

Perlu sahabat-sahabat Blog I-I ketahui bahwa Blog I-I tidak menutup diri dari kontribusi seluruh anak bangsa Indonesia untuk menyampaikan gagasan dan pandangannya tentang negara tercinta Indonesia. Jaringan Blog I-I di Timur Tengah adalah asset yang sangat berharga dan telah berkontribusi banyak dalam memberikan pemahaman tentang situasi di Timur Tengah dan dunia Islam. Jadi kepada jaringan atau siapapun anda bagian dari bangsa Indonesia yang ingin menyampaikan gagasan melalui Blog I-I, khususnya terkait pembelajaran tentang situasi strategis, taktis, terkait keamanan dan dunia intelijen, media Blog I-I terbuka luas.

Salam Intelijen
SW





Labels: , , , , , , ,

Comments:
Program deradikalisasi GAGAL!!
Setidaknya dalam kasus Siyono ini telah berkembang pemberitaan mengenai kondisi Siyono ketika dilakukan otopsi. Yang berkembang dimasyarakat adalah jenazah Siyono yang mengeluarkan bau wangi, jenazah Siyono awet/belum rusak. Begitu bahayanya jika hal ini sampai didengar oleh masyarakat yang cenderung radikal karena hal tersebut dapat menjadi landasan yang memperkuat dan membenarkan alasan kelompok radikal untuk memelihara ke-radikal-annya dan aktivitas terornya. Dan saya pastikan bahwa kabar ini telah sampai kepada telinga-telinga mereka.


Kita harus mengingat bagaimana didalam ajaran islam menerangkan mengenai kondisi orang-orang yang mati dalam keadaan husnul khotimah. Di tinjau dari kondisi terakhir fisiknya. Kita sering menyaksikan seseorang meninggal dengan kondisi tubuh yang tidak wajar seperti tubuh gosong, penuh dengan luka dan nanah, berbau busuk, keluar belatung, lidah menjulur dan mata melotot atau bahkan tidak ada yang mau memandikan, mengkafani dan mensholatkan dll. Seseorang yang matinya husnul khotimah tidak akan mengalami kejadian-kejadian seperti diatas, malah sebaliknya seperti wajah mayit terlihat tenang dan damai bahkan ada yang tersenyum, banyak yang berta`ziyah, tidak mengeluarkan bau busuk dan banyak yang mensholatkan dll.


Fokus saya disini bukan pada Siyono meninggal dalam keadaan husnul khotimah atau tidak. Tapi fokus saya disini mengenai bahayanya seseorang yang baru diduga sebagai teroris mati tanpa melalui proses hukum untuk membuktikan apakah ia benar-benar teroris atau bukan. Yang kemudian seperti dalam kasusnya Siyono tersebut yang belum ada legalitas dan kepastian hukum apakah ia terlibat terorisme atau tidak (putusan pengadilan). Iya kalau Siyono terbukti terlibat didalam terorisme justru memperkuat dan menjadi alasan pembenaran mengenai terorisme dan radikalisme oleh mereka yang berpaham radikal. Tapi kalau Siyono tidak terlibat, maka yang rugi adalah negara dan rakyat Indonesia.


Kasus ini akan lebih bijaksana apabila dijadikan sebagai pembelajaran demi terwujudnya reformasi hukum dan perbaikan bagi aparat penegak hukumnya.

 
This comment has been removed by the author.
 
Umat Islam tidak kehilangan semangatnya, sobat. Umat Islam (khususnya di Indonesia) hanya kehilangan arah, kehabisan ide untuk menghadapi perkembangan jaman yang terlalu pesat. Mereka tidak bisa mengikuti perkembangan zaman, itu adalah alasan utama mengapa umat Islam dilecehkan. Beberapa diantaranya bahkan keukeuh ingin mempertahankan tradisi-tradisi lama pada jaman Nabi. Padahal, kalau mereka mau mengikuti dalil-dalil naqli, seharusnya mereka bersemangat menjadi pembaharu. Perhatikan hadits berikut, "Sesungguhnya Allah mengutus pada umat ini di setiap awal 100 tahun seorang (mujaddid) yang akan memperbaharui urusan agama mereka." (HR. Abu Dawud)

Umat Islam Indonesia sangat tertinggal dari segi pemikiran, teknologi, maupun olah fisik. Mungkin untuk yang bergabung dengan TNI, BIN, dan Polri tidak demikian, tetapi yang berada di luar lingkaran tersebut memang demikian adanya. Akses terhadap informasi sangat terbatas, mudah ditipu berita, mudah terprovokasi oleh pemikiran-pemikiran yang berbeda dari yang mereka yakini, yang penting masuk surga, percaya terhadap hal-hal magis namun skeptis pada hal-hal yang bersifat saintis, anti-kafir, kurang wawasan, dan lain-lain.

Bandingkan dengan umat dahulu. Teknologi dikuasai, iman kuat, angkatan perang ditakuti, rata-rata jenius dan kaya wawasan, fisik mumpuni, faqih, mampu bergaul dengan kaum-kaum lain, dan nggak takut untuk mengembangkan sesuatu-sesuatu yang baru. Jadi aku sangat maklum kalo umat Islam (khususnya di Indonesia) dilecehkan dan beberapa diantaranya bahkan malu untuk bawa2 atribut keislaman.

Pemandangannya berbeda dengan umat Islam di Amerika Serikat, misalnya. Blog I-I juga pasti tahu bagaimana muslim-muslim di negara adidaya tersebut punya pengaruh yang besar untuk roda kehidupan AS.

Bunglon Hitam
 
Anda ini berkepribadian ganda ya?
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters