Selamat Ulang Tahun Intelijen Negara: Sebuah Renungan » INTELIJEN INDONESIA

Saturday, May 07, 2016

Selamat Ulang Tahun Intelijen Negara: Sebuah Renungan

Artikel telah dihapus

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Bersama ini kami atas nama seluruh komunitas Blog Intelijen Indonesia menyampaikan permohonan ma'af yang sebesar-besarnya kepada keluarga besar Badan Intelijen Negara (BIN) atas artikel yang telah menyakiti hati dan perasaan keluarga besar BIN di hari ulang tahun Badan Intelijen Negara.



Dharma Bhakti Intelijen untuk seluruh Rakyat Indonesia


Salam Intelijen
Senopati Wirang


--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Labels:

Comments:
Miris ... saya coba beri saran sedikit: mengapa Anda dan kawan-kawan Anda yang berdedikasi tinggi terhadap keamanan negara tidak mencoba membuat badan intelijen independen, seperti Pinkerton (US) atau AEGIS (UK)? Akuilah bahwa politik di negara ini sudah sedemikian sulit untuk dibenahi, sulit dalam artian tidak mungkin bisa dibenahi dalam waktu yang sangat singkat. Sementara itu, berbagai macam ancaman sudah standby di depan muka kita, seperti ancaman terorisme, ancaman fanatisme komunis, ancaman perang dingin jilid 2, ancaman imperialisme barat, ancaman moral, dan lain-lain. Kalau intel atau mantan intel yang jujur, sadar, dan berdedikasi seperti Anda tidak bergerak, siapa lagi yang mau melakukan pembenahan? Negara sudah keburu menjadi perkedel, kasarnya.

Sebagai rakyat biasa dan peminat dunia intelijen, bahkan tanpa harus bergabung dengan BIN sekalipun saya bisa melihat betapa ruksaknya intelijen kita. Bagaimana cara saya melihatnya? Cukup dengan menonton berita dan membaca linimasa media sosial. Setiap hari selalu ada kasus baru dan semuanya bernada negatif. Pembunuhan, pemerkosaan, perampokan, perkelahian, separatisme, terorisme seakan-akan semuanya telah menjadi wajar. Kalau intelijen kerjanya bener, tentu yang begini-gini akan terdeteksi sebelum terjadi.

Tetapi itu tidak harus terjadi terus-menerus. Seseorang mesti bergerak membuat perubahan. Mungkin Anda, mungkin teman-teman Anda, mungkin saya, entahlah.
 
Paduka senopati wirang, kalau paduka berkenan sepertinya ada hal menarik pada rekrutmen STIN terbaru yang kiranya dapat menambah khasanah kajian yang paduka paparkan

Sembah sungkem kulo paduka senopati wirang

Patih Anom
 
Trima kasih atas ulasan yg mnarik pa senopati..Atas kritik yg menggelitik ini mmg perlu diskusi lanjutan krn komunitas dan seluk beluk intelijen sulit diketahui orang awam. Menarik membacanya..Salam.Mutiara
 
Trima kasih atas ulasan yg mnarik pa senopati..Atas kritik yg menggelitik ini mmg perlu diskusi lanjutan krn komunitas dan seluk beluk intelijen sulit diketahui orang awam. Menarik membacanya..Salam.Mutiara
 
Trimakasih ulasan yg menarik pa senopati...mmg perlu diskusi lnjutan mgingat insan intelijen dan seluk beluknya tdk byk diketahui org awam.

Salam.
Mutiara
 
Trimakasih ulasan yg menarik pa senopati...mmg perlu diskusi lnjutan mgingat insan intelijen dan seluk beluknya tdk byk diketahui org awam.

Salam.
Mutiara
 
"Silahkan diedit. Bila perlu, kalau pendapat ini dianggap tidak benar,jangan dimuat."

Dominasi ABRI (TNI+Polri) dalam kehidupan nasional, yang pernah tersisihkan akibat proses reformasi, kurang mengalami penyikapan positif dari kalangan internal senior ABRI, yang masih didominasi oleh mereka yang menganggap Dwi Fungsi ABRI adalah senjata pamungkas dalam mengendalikan kehidupan nasional. Hal ini berimbas pada pola pembinaan TNI-Polri pada masa-masa berikutnya. Strateginya berusaha menyiasati agenda reformasi dalam tahapan periode waktu, dengan tujuan akhir, ABRI kembali mampu mengendalikan kehidupan nasional pasca muncul sejumlah kekacauan manajemen nasional akibat ketidakmampuan sipil dalam menjalankan peran tersebut.

Para senior ABRI ini (mayoritas sudah menjadi purnawirawan), akhirnya membagi peran dalam setiap medan pengabdian civil society, mulai ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya hingga pertahanan dan keamanan (idpoleksosbudhankam) untuk melaksanakan strategi pengendalian kehidupan nasional secara komprehensif integral. Namun dalam perjalanannya, tidak jarang sejumlah kepentingan kelompok dan golongan di antara para senior ABRI tersebut, mulai muncul dan melembaga menjadi garis perjuangan kelompok dan golongan masing-masing. Hal ini, pada gilirannya, memicu pertikaian di antara mereka sendiri yang menghasilkan medan-medan konflik baru.

Dalam kacamata mereka, Kementerian Pertahanan, Lembaga Intelijen dan beberapa lembaga strategis lainnya, senantiasa dianggap sebagai bagian atau lembaga turunan dari Angkatan Bersenjata, yang harus terliputi dalam upaya pelaksanaan strategi tersebut. Konflik di kalangan senior ABRI tersebut, mau tidak mau mengakibatkan sejumlah pembusukan dan kerusakan di berbagai lahan garap pada lembaga-lembaga strategis, termasuk intelijen.

Ketidakmampuan kalangan sipil dalam memahami jati diri dan nilai-nilai yang berlaku pada salah satu komponen bangsa ini, yaitu Angkatan Bersenjata (sekali lagi harus dianggap TNI + Polri), menjadi salah satu kendala dalam mempersiapkan strategi tandingan untuk memelihara kebersamaan antara sipil dan Angkatan Bersenjata dalam melaksanakan agenda reformasi sebagai kesatuan langkah dan pemahaman seluruh komponen anak bangsa Indonesia.

Angkatan Bersenjata, yang pada hakikatnya, merupakan anak kandung revolusi rakyat Indonesia, seharusnya dipandang sebagai lembaga yang setiap gerak dan langkahnya, tidak bergeser jauh dari cita-cita perjuangan rakyat Indonesia. Namun tingkah laku kalangan sipil, yang okupasinya lebih luas, lebih banyak varian dan struktur kehidupannya juga lebih kompleks, seringkali berdinamika lebih jauh dari jati diri dan nilai-nilai yang berlaku di Angkatan Bersenjata. Hal ini akan terus memicu disharmoni dalam kebersamaan untuk diwujudkan menjadi kesatuan langkah dan pemahaman.

Kemampuan kesenjataan, intelijen dan kemampuan-kemampuan strategis lainnya, harus dipandang tidak lebih sebagai media teknis untuk melaksanakan tujuan yang baik dan mulia. Mempersiapkan dan membangun sumberdaya manusia dengan moral yang baik dan bersandarkan pada nilai-nilai kebangsaan harus lebih diutamakan dalam setiap lingkup pendidikan dan pelatihan profesi apapun di negeri ini.

Karena itu, peran dari para pelaku informasi, seperti pengelola Blog ini, dalam melaksanakan kontrol sosial terhadap para pelaku profesi strategis, sangat penting. Salah satu caranya adalah dengan memaparkan secara proporsional tentang kelemahan dan kerusakan yang terjadi dengan tidak meninggalkan sejumlah peluang dan harapan yang bisa diraih untuk memperbaiki kelemahan dan kerusakan tersebut.
 
Sebgitu parah kah kondisi kekuatan Intelejen Nasional ?? Bukankah konon kekuatan Intelejen kita adlh slh satu yg terhebat bersama SVR, GRU, Mossad..

Smg ada upaya perbaikan apabila memang ada sesuatu yg error di tubuh Intelejen.


 
Gundah gulana pejalan sunyi bagai lapar yg sulit di tangani...

Lapar namun tak tau harus makan apa
Haus namun tak pelak bingung untuk meminum apa....

Hanya bisa merenung sembari melukis goresan goresan menjadi sebuah sketsa yg entah kemana arahnya

Hanya merenung di pojok gunung untuk bersembunyi di dalam terang

-kalashnikov-
 
Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank

Flag sejak Agustus 2009 free counters