Kisah Pembunuhan Kim Jong-nam: Operasi Intelijen Korut? » INTELIJEN INDONESIA

Friday, February 17, 2017

Kisah Pembunuhan Kim Jong-nam: Operasi Intelijen Korut?

Disclaimer: All photos in this Blog is taken from the internet from many different sources and the copyright belongs to the photographers, news agencies, and authorities of Kuala Luampur International Airport for the CCTV captions.

Hasil penyelidikan sementara Kepolisian Malaysia menyimpulkan ada 6 orang yang terlibat melakukan pembunuhan "bermotif politik" terhadap Kim Jong-nam yang juga kakak tiri dari pemimpin Korea Utara saat ini Kim Jong-un.

Kim Jong-nam adalah anak tertua dari Kim Jong-il dari wanita bernama Song Hye-rim lahir pada tahun 1971sedangkan Kim Jong-un lahir pada tahun 1984 dari wanita bernama Ko Yong-hui.

Kim Jong-nam (kiri) dan Kim Jong-un (kanan berjas)

Kim Jong-nam pernah menjadi favorit Kim Jong-il dan merupakan anak Kim Jong-il yang secara publik paling dikenal di Korea Utara, namun kemudian hidup di pengasingan karena perbedaan pandangan dan Kim Jong-nam cenderung untuk terbuka dan menjalani kehidupan "playboy" di luar Korea Utara. Beberapa berita bahkan mengungkapkan Kim Jong-nam telah dibuang.

Kim Jong-nam masa kecil bersama ayahnya Kim Jong-il
6 orang yang diduga terlibat langsung dalam pembunuhan Kim Jong-nam menurut Polisi Malaysia adalah 2 wanita dan 4 pria yang menurut sejumlah spekulasi merupakan sleeper agents yang semuanya tinggal di Malaysia direkrut dan dibriefing untuk pembunuhan Kim Jong-nam oleh intel atau agen rahasia Korut. 2 Wanita satu berkewarganegaraan Indonesia bernama Siti Aisyah dan satu lagi berpasspor Vietnam bernama Doan Thi Huong, sedangkan 4 pria yang diduga orang Korea Utara masih dalam pencarian Polisi Malaysia. Disamping itu, Polisi Malaysia juga menahan seorang pria warga negara Malaysia yang merupakan pacar dari Siti Aisyah untuk dimintai keterangan.

Tersangka warga Vietnam Doan Thi Huong (CCTV Bandara)

Tersangka Siti Aisyah (Indonesia)
Baik Doan Thi Huong maupun Siti Aisyah dalam keterangannya menyatakan hal yang sama yakni ditipu untuk melakukan prank atau kejutan bercanda dengan bayaran US$100 seperti dalam acara-acara TV dengan target Kim Jong-nam. Insiden yang menyebabkan kematian Kim Jong-nam masih simpang siur bagaimana persisnya terjadi. Beberapa media menceritakan serangan dua wanita terhadap Kim Jong-nam dengan menyemprotkan sesuatu cairan (diduga beracun), cerita lain menggambarkan bahwa wanita yang satu menyemprotkan cairan ke saputangan dan wanita yang lainnya menyekakan saputangan tersebut kepada Kim Jong-nam. Sementara spekulasi lain menyebutkan bahwa kedua wanita telah lama direkrut intelijen Korea Utara dan menjadi eksekutor dalam pembunuhan Kim Jong-nam.

Dari gerak-gerik kedua wanita di bandara internasional Kuala Lumpur tidak memberikan kesan tergesa-gesa melarikan diri, melainkan secara santai meninggalkan bandara dan menunggu taksi.
Tersangka Doan Thi Huong menunggu Taksi (CCTV Bandara)


Tersangka Doan Thi Huong dalam pemberitaan YTN TV Korea Selatan

Tersangka Siti Aisyah di kawal Polisi Malaysia
Berbagai pemberitaan internasional dan pendapat-pendapat dari sumber-sumber media yang mengklaim memperoleh informasi dari aparat keamanan dan intelijen memberikan spekulasi pembunuhan Kim Jong-nam adalah atas perintah pimpinan Korea Utara Kim Jong-un. Silahkan baca di Reuters, CNN, The Stratit Times, The New Strait Times, Malaysia Today, New York Times, The Telegraph, The Guardian, AP, AFP, Washington Post, dan lain-lain seluruh ada kemiripan opini spekulasi karena sumbernya sama, yakni analisa spekulasi. Sementara fakta yang pasti misalnya pernyataan Kepala Polisi Distrik Sepang ACP Abdul Aziz Ali menolak berkomentar tentang hasil otopsi yang sangat penting untuk pembuktian penyebab utama kematian (baca: Remains of North Korean Man). Selain itu, Wakil Perdana Menteri Malaysia, Ahmad Zahid Hamidi hanya menyatakan bahwa Kedutaan Besar Korut di Malaysia telah memberikan konfirmasi terhadap mayat King Jong-nam dan menegaskan bahwa dugaan keterlibatan intelijen Korut hanya spekulasi saja (baca: It is Kim Jong-nam, says Zahid).

Untuk detil kasus Kim Jong-nam, sahabat-sahabat Blog I-I dapat membaca pemberitaan kematian Kim Jong-nam yang banyak dibahas oleh media massa mainstream internasional maupun lokal Indonesia.

Analisa Spekulasi Blog I-I

Hal pertama yang harus dipastikan sebelum membuat analisa tentang kematian atau pembunuhan Kim Jong-nam adalah bukti-bukti forensik termasuk hasil otopsi terhadap mayat Kim Jong-nam yang dilakukan oleh Kepolisian Malaysia. Sejauh ini, belum ada pengumuman resmi yang jelas dan detil tentang penyebab kematian Kim Jong-nam, dan besar kemungkinan kasus ini akan tetap misterius karena pemeliharaan hubungan diplomatik Malaysia-Korut. Sementara itu, bukti rekaman CCTV dan saksi-saksi serta tertangkapnya tersangka yang melakukan aksi spraying with liquid "penyemprotan cairan" atau "penyekaan dengan saputangan" atau "penyemprotan" yang diikuti dengan "pembekapan wajah dengan saputangan selama 10 detik" sebagaimana berita yang dibocorkan oleh beberapa polisi Malaysia kepada media jelas menjadikan Doan Thi Huong dan Siti Aisyah menjadi tersangka utama yang mudah dibuktikan keterlibatannya secara langsung sebagai eksekutor.

Persoalannya kemudian adalah klaim tersangka Doan dan Siti yang menyatakan bahwa pihaknya menerima uang US$100 untuk aksi mereka kira hanya sebuah prank atau kejutan bercanda dan bukan usaha pembunuhan. Mereka menyatakan tidak tahu siapa Kim Jong-nam dan tidak mengerti bahwa apa yang mereka perbuat mengakibatkan kematian orang yang dikerjai. Klaim tersebut tentunya memberikan petunjuk adanya pihak lain yang melakukan perencanaan dan menggunakan Doan dan Siti sebagai eksekutor, itupun apabila benar cairan yang disemprotkan adalah racun yang menjadi penyebab kematian Kim Jong-nam yang harus dibuktikan dengan otopsi yang teliti.

Adanya penjelasan dari Doan dan Siti menyebabkan terbukanya beberapa kemungkinan sbb:
  1. Doan dan Siti benar-benar tidak tahu dan ditipu sehingga melakukan perbuatan yang sementara ini diduga menjadi penyebab kematian Kim Jong-nam. Dalam operasi asasinasi intelijen, secara teori apa yang menimpa Kim Jong-nam dikenal sebagai open-lost-terroristic. Hal ini agak mirip dengan operasi pembunuhan aktivis HAM Munir yang juga bersifat open-lost-terroristic. Definisi open merujuk kepada pelaksanan pembunuhan tanpa penyembunyian, misalnya kasus pembunuhan Princess of Wales Diana Spencer yang disembunyikan dengan kisah kecelakaan mobil. Sementara itu, lost merujuk kepada pelaksana pembunuhan akan terungkap langsung, tertangkap atau terbunuh. Namun dalam kasus Doan dan Siti sebagai pelaksana masih harus diteliti lebih lanjut kepada ybs apakah mereka telah lama direkrut oleh Korut ataukah benar-benar kebodohan semata tertipu oleh agen-agen rahasia Korut. Terakhir terroristic karena dilakukan di tempat terbuka dan menyimpan pesan kepada publik bahwa target dengan sengaja dibunuh. Sebagai tambahan, mengingat perbuatan yang dilakukan oleh Doan dan Siti dapat tereksekusi tanpa pencegahan yang berarti, maka operasi pembunuhan tersebut juga masuk dalam kategori simple atau sederhana dimana target kurang waspada atau tidak memiliki penjagaan yang cukup untuk mencegah terjadinya pembunuhan terhadap dirinya. Teori ini belum mencakup karakter pelaksana pembunuhan yakni sadar sepenuhnya sebagai pembunuh dan tidak sadar bahwa dirinya menjadi alat eksekusi pembunuhan. 
  2. Mencermati bentuk prank dengan sprayer diiringi pembekapan (apabila ini benar), maka bila kita lihat acara TV prank funny video di berbagai negara, aksi Doan dan Siti belum tampak sisi kelucuannya dan terjadi sentuhan fisik yang jarang dilakukan dalam acara-acara prank. Beberapa acara prank menggunakan air yang mengenai target umumnya menggambarkan misalnya: ma'af - air kencing dari boneka yang seolah dari anak bayi, patung yang tiba-tiba mengeluarkan air, atau suatu kondisi wajar di taman dimana terdapat air yang tiba-tiba terpancar dari penyemprot taman. Namun dalam kegiatan-kegiatan prank yang lebih liar dan bukan dilakukan oleh acara TV memang ada apa yang disebut sebagai liquid ass atau liquid fart dimana cairan yang disemprotkan mengeluarkan bau busuk atau seperti kentut. Namun bahkan dalam melakukan prank liquid fart cukup dengan disemprotkan dekat wajah seseorang atau di dalam suatu ruangan atau ke bagian tangan atau pakaian dll tersebut tidak disertai penyekaan atau pembekapan dengan saputangan karena baunya sudah mengundang reaksi target untuk marah atau tertawa spontan. Belum jelas dalam kasus Kim Jong-nam seperti apa cairan yang digunakan, seperti apa kemasannya, dan lain sebagainya, Terlalu jauh untuk berspekulasi. Penampilan liquid ass/liquid fart yang bentuk spray yang biasa digunakan untuk prank seperti gambar berikut ini.
  3. Pembunuhan asasinasi pada prinsipnya sama saja dengan pembunuhan kriminal terencana yakni agar target terbunuh. Adapun metodenya macam-macam, seperti dengan menggunakan tangan kosong (memerlukan skill membunuh yang tinggi dan paham anatomi), senjata tajam (memerlukan skill dasar seni membunuh dan pengetahuan wilayah vital manusia yang mematikan), senjata tumpul (memerlukan skill membunuh dan pengetahuan anatomi), kecelakaan (memerlukan perencanaan matang dan pengetahuan teknis jenis kecelakaan), obat atau racun (memerlukan skill tentang dampak obat dan racun dan kombinasinya namun eksekusinya hanya membutuhkan cara bagaimana target terkontaminasi dengan obat/racun), senjata api (memerlukan skill dasar tentang senjata api dan efektifitas penggunaannya misalnya menembak minimal harus 2 kali yakni sasaran jantung dan kepala). Metode tangan kosong, senjata tajam dan senjata tumpul lebih sering dikenal sebagai asasinasi manual, sedangkan penggunaan obat/racun, kecelakaan, dan senjata api dikenal sebagai asasinasi teknis. Kasus pembunuhan Kim Jong-nam masuk dalam kategori asasinasi teknis yang memerlukan persiapan-persiapan.
  4. Terbuka juga kemungkinan bahwa Doan dan Siti benar-benar telah direkrut lama oleh Intelijen Korut, namun hal ini perlu pembuktian lebih lanjut dengan pembuktian adanya komunikasi maupun pengungkapan motivasi misalnya uang. Apabila arus uang dari agen misterius yang menjebak Doan dan Siti hanya sebesar US$100 menjelang eksekusi Kim Jong-nam, maka Doan dan Siti mungkin terkena hipnotis berada dibawah pengaruh agen Korut atau sedemikian naif dan bodohnya untuk melakukan perbuatan yang dianggap prank tersebut. Apabila terungkap adanya arus transfer atau pemberian uang dalam jangka waktu tertentu, maka besar kemungkinan sudah lama direkrut. Perlu disadari oleh Lembaga Intelijen resmi Indonesia, khususnya BIN bahwa Unit Counter Spionase BAKIN pada era 1970-80-an ketika saya masih aktif pernah menjadi salah satu yang terbaik di dunia dan mengungkap banyak kasus spionase. Selain itu, Jakarta adalah kota para intel atau spy internasional yang menjadi saksi sejarah dunia intelijen. Apabila kekuatan dan kemampuan Intel BIN khususnya kontra spionase masih sebaik dahulu, maka kasus Siti akan sangat cepat sekali terungkap bahkan mungkin dapat dicegah. Sebagaimana pernah Blog I-I ingatkan berkali-kali dalam sejumlah artikel Blog I-I, ancaman asing dan kegiatan intel-intel asing di Indonesia sudah mencapai keadaan yang sangat memprihatinkan karena kegiatan kontra spionase Indonesia sangat lemah dan mungkin sudah saatnya dilakukan "integrasi" dengan Intelijen Kepolisian agar Kontra Spionase memiliki dasar hukum dan pro justicia sehingga lebih mudah eksekusinya. Hal ini akan meningkatkan efektifitas konter spionase sebagaimana dilakukan oleh FBI dan berbagai organisasi intelijen dunia lainnya dimana konter spionase harus memiliki backup hukum positif yang berlaku di suatu negara. Selain memudahkan isu-isu diplomatik dengan proses deportasi bila ada intel asing berpasspor diplomatik melampaui batas kegiatan diplomatiknya dengan melakukan operasi intelijen, pendekatan polisionil juga memudahkan penangkapan dan pengungkapan secara lebih cepat.
  5. Berbagai informasi yang diterima Blog I-I dari kasus Kim Jong-nam masih terlalu sedikit untuk dapat digunakan sebagai referensi analisa lebih jauh. Semuanya masih bersifat spekulasi dan kemungkinan besar tidak akan terungkap dan dua tersangka Doan dan Siti akan menjadi korban sesuai dengan teori lost terlepas dari fakta apakah Doan dan Siti sadar dan telah direkrut oleh Korut ataupun keduanya tidak sadar dan ditipu.
Demikian catatan Blog I-I, semoga dapat menjadi bahan pembelajaran kita bersama dan juga meningkatkan kewaspadaan kalangan intelijen, khususnya unit kontra spionase BIN agar dapat dikembangkan menjadi unit yang handal dan melebihi kejayaan di masa lalu yang disegani organisasi intelijen asing.

Salam Intelijen
Salam Waskita
Senopati Wirang  

Labels: , , , , , , , , , , , ,

Comments: Post a Comment

Links to this post:

Create a Link



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?


blog-indonesia.com



PageRank